Simpanan Janda Kaya

Simpanan Janda Kaya
Kepergian Nadira


__ADS_3

Sementara Nyonya Ira tengah sibuk mengurus perceraian Nadira dan Arman, Nadira malah sibuk mengurus jual beli rumah sederhananya kepada seseorang yang berniat membeli rumahnya tersebut.


Setelah tanda tangan dan lain sebagainya, akhirnya rumah sederhana itu resmi berpindah tangan. Nadira menatap sendu ke arah bangunan itu. Banyak sekali kenangan yang ia lalui di sana. Sejak ia dilahirkan hingga ia melahirkan sosok mungil Amara.


Tin ... tin ...!


Suara klakson terdengar begitu nyaring dan berhasil membuat Nadira tersadar dari lamunannya. Nadira segera menoleh ke arah suara dan ia pun tersenyum setelah tahu siapa yang tengah datang menghampirinya.


"Masih ingin berdiri di sini atau memulai kehidupan baru?" goda Laras sambil terkekeh pelan.


"Kehidupan baru lah, Mbak." Nadira ikut tersenyum lalu mengikuti Laras yang mengajaknya naik ke atas mobil pickup milik suaminya, Budi.


"Hanya ini barang-barangmu, Nadira? Atau masih ada yang lain?" tanya Budi kepada Nadira setelah selesai menaikkan semua barang-barang bawaan Nadira.


"Hanya itu saja, Mas."


"Baguslah kalau begitu, jadi kita bisa berangkat sekarang," ucap Budi kemudian sembari masuk ke dalam mobilnya dan duduk di depan kemudi.


Sementara Nadira, Amara dan Laras duduk di muatan belakang bersama barang-barang milik Nadira yang sudah diberi pelindung agar mereka tidak kepanasan maupun kehujanan.


Di perjalanan.


"Semoga kehidupanmu akan menjadi lebih baik dari pada sebelumnya, Nadira. Buktikan pada dunia, buktikan pada lelaki tak bertanggung jawab itu bahwa kamu bisa berdiri dengan kakimu sendiri!" ucap Laras dengan kedua netra yang mulai berkaca-kaca menatap Nadira.


"Amin, Mbak. Semoga aku bisa!"


"Bisa, Nad. Pasti bisa!" ucap Laras dengan penuh keyakinan.


Setelah beberapa jam kemudian, akhirnya mereka tiba di sebuah kota besar yang begitu padat penduduknya. Nadira yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di kota sebesar itu (sebut saja kota X) langsung terpelongo.

__ADS_1


Matanya membulat dengan sempurna dan mulutnya tak henti berdecak kagum. "Wow, ternyata kota besar itu seperti ini ya, Mbak!" pekik Nadira sambil tersenyum lebar menatap gedung-gedung tinggi yang berjejer di pinggir jalan.


Laras tersenyum melihat kepolosan Nadira saat itu. "Jadi benar, kamu belum pernah pergi ke kota besar sebelumnya?" tanya Laras.


Nadira menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Belum pernah, Mbak. Paling jauh ke desa tetangga, itu pun Mas Arman yang ajakin. Dulu waktu masih kecil, mendiang ayahku memang sering menceritakan bagaimana kota besar itu dan aku hanya bisa membayangkannya di dalam pikiranku. Tapi ayah juga bilang bahwa hidup di kota besar jauh lebih sulit dari pada hidup di desa," tutur Nadira.


"Apa yang dikatakan oleh mendiang ayahmu ada benarnya, Nad. Makanya aku lebih memilih hidup di desa dari pada di kota besar."


Setelah beberapa menit kemudian, Budi pun menghentikan laju mobilnya tepat di depan sebuah ruko kecil yang terletak di depan jalan raya. Setelah menepikan mobilnya, Budi bergegas menuju ke belakang dan menurunkan semua barang-barang milik Nadira dari dalam mobilnya.


"Kita sudah sampai, Nadira. Rukonya memang kecil tapi pas banget buat buka usaha di sini karena letaknya begitu strategis," ucap Budi sambil tersenyum lebar menatap Nadira.


Nadira yang sudah turun dari mobil, segera menghampiri ruko tersebut lalu memperhatikannya dengan seksama. Ia tersenyum puas karena ruko tersebut sesuai dengan keinginannya selama ini.


"Bagaimana, Nadira, apa kamu menyukainya?" tanya Laras yang kini berdiri di sampingnya.


Nadira mengangguk dengan cepat. "Ya, Mbak! Aku sangat menyukainya. Terima kasih banyak, Mbak Laras, Mas Budi. Tanpa bantuan kalian, aku tidak mungkin bisa berdiri di sini," ucap Nadira dengan mata berkaca-kaca.


Dengan dibantu pasangan suami istri itu, Nadira membersihkan, merapikan dan menata ruko tersebut hingga menjadi lebih nyaman dan aman untuk Nadira dan Amara tinggali.


Tak terasa, sore pun menjelang.


Laras dan Budi harus segera kembali ke kediaman mereka. Setelah berpamitan kepada Nadira dan Amara, mereka pun segera melaju, memecah keramaian kota.


"Mas, aku benar-benar kasihan sama Nadira dan Amara. Aku berdoa semoga kehidupan mereka akan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Jujur, aku sangat kecewa dengan sikap mas Arman yang sama sekali tidak bertanggung jawab kepada mereka. Lelaki brengsek itu malah memilih si janda kaya dari pada Nadira dan anaknya," celetuk Laras dengan wajah menekuk kesal.


Budi tersenyum tipis kemudian mengelus pundak istrinya itu dengan lembut. "Doakan saja yang terbaik untuk Nadira dan Amara. Dan untuk mas Arman, aku yakin tidak lama lagi lelaki itu akan mendapatkan karmanya," jawab Budi.


"Semoga saja, Mas! Tapi awas aja kalau dia mencoba mengganggu kehidupan Nadira lagi. Aku tidak akan segan-segan untuk turun tangan!" tegas Laras, yang membuat Budi tertawa pelan.

__ADS_1


"Memangnya kamu berani menghadapi mas Arman?"


"Ish, kenapa tidak! Aku sudah terlanjur kesal ini, Mas!" jawabnya.


.


.


.


Satu bulan kemudian.


"Mas, mau ke mana?" tanya Nyonya Ira kepada Arman yang berniat pergi dari toko perhiasan milik Nyonya Ira.


"Aku ingin cari angin saja, Ra. Aku bosan terus-terusan di sini tanpa melakukan sesuatu," sahut Arman dengan wajah sedikit menekuk.


Nyonya Ira menatap Arman dengan begitu serius. "Baiklah! Tapi ingat, jangan pergi jauh-jauh. Aku ingin kamu sudah harus ada di sini jika aku membutuhkanmu! Kamu mengerti?"


Arman memperhatikan beberapa orang karyawan Nyonya Ira yang juga ikut melihat ke arahnya. Tiba-tiba terbesit rasa malu di hati Arman karena selama ini Nyonya Ira memang selalu bersikap dominan terhadapnya. Bahkan wanita itu tidak peduli baik itu di rumah maupun di tempat umum seperti sekarang.


"Ya-ya, aku mengerti!" Arman mendengus kesal lalu pergi dari tempat itu. Sepeninggal Arman, Nyonya Ira pun kembali melakukan pekerjaannya.


Arman terus melangkah menuju mobilnya yang terparkir di depan toko perhiasan sambil menggerutu. Menggerutu karena kesal dengan sikap Nyonya Ira yang selalu menunjukkan kekuasaan atas dirinya di hadapan orang-orang.


"Seharusnya dia bersikap lebih baik terhadapku. Walaupun aku jauh lebih muda dan tidak menghasilkan apa pun, tetapi aku tetap suaminya yang harus ia hormati," gumam Arman sembari memasuki mobil tersebut.


Setelah itu, ia pun melaju bersama benda beroda empat tersebut menuju ke suatu tempat. Tempat yang sudah beberapa hari terakhir ingin sekali ia kunjungi. Namun, karena terus-menerus tidak mendapatkan izin dari Nyonya Ira, dengan terpaksa ia pun menundanya.


Akan tetapi kali ini Arman sudah tidak bisa menahan dirinya. Ia harus mengunjungi tempat itu walaupun dengan atau tanpa izin dari istri mudanya tersebut.

__ADS_1


"Semoga mereka baik-baik saja. Entah kenapa aku selalu teringat mereka," ucapnya dengan wajah sendu.


...***...


__ADS_2