
"Aku tinggal dulu sebentar, ya. Jangan ke mana-mana," ucap Andrew kepada Nadira dan Amara yang tengah asik memperhatikan Tuan Bian menikmati makanannya.
Nadira pun mengangguk. "Baiklah."
Andrew pun segera keluar dari ruangan itu dan kini tinggal Nadira, Amara dan beberapa orang perawat yang masih berjaga-jaga di sana.
"Siapa tadi namamu, Nak?" tanya Tuan Bian kepada Nadira.
"Nadira, Tuan."
Tuan Bian kembali tersenyum kecil. "Jangan panggil saya dengan sebutan Tuan. Panggil saja Daddy Bian karena Andrew selalu memanggilku begitu."
"Baik, Pak. Ehm, Daddy," sahut Nadira.
"Andrew sudah bercerita banyak tentang kamu dan juga gadis kecilmu ini, Nadira. Dan menurutku kalian memang sangat cocok. Aku sih setuju-setuju saja selama Andrew bahagia dengan pilihannya," tutur Tuan Bian yang berhasil membuat Nadira terheran-heran.
"Ma-maksud Daddy apa, ya? Saya tidak mengerti," ucap Nadira kemudian dengan alis yang saling bertaut.
Tuan Bian terkekeh pelan. "Ah, rupanya anak itu belum mengatakannya. Payah sekali," gumamnya.
Nadira semakin bingung. Terlihat dari ekspresi wajahnya saat itu.
"Sudahlah, lupakan saja." Tuan Bian lalu terkekeh pelan.
"Apa kamu tahu, Nadira. Aku sama sekali tidak ingat siapa dan bagaimana masa laluku. Semua itu benar-benar membuatku kehilangan semangat untuk hidup. Dan Andrew ... Andrew adalah lelaki yang sangat baik. Walaupun aku masih belum ingat siapa dia, tetapi dia tidak pernah putus asa mengingatkan aku bahwa dia adalah anak laki-lakiku."
"Daddy Bian, bersemangatlah. Aku berdoa semoga suatu hari nanti Daddy bisa mengingat semuanya. Namun, alangkah sebaiknya sekarang Daddy menurut saja apa yang dikatakan oleh Mas Andrew. Hanya Daddy harapan dan satu-satunya keluarga yang ia miliki sekarang ini. Aku sudah tahu bagaimana hidup sebatang kara dan itu rasanya sungguh tidak enak," tutur Nadira yang berhasil membuat Tuan Bian terdiam sejenak.
Tuan Bian menarik napas dalam lalu menghembuskannya kembali. Ia merasa apa yang dikatakan oleh Nadira adalah benar. Tidak seharusnya ia berputus asa karena masih ada Andrew yang tetap semangat berjuang demi kesembuhannya.
"Kamu benar, Nadira." Tuan Bian melirik salah satu perawat yang berdiri tak jauh dari tempat tidurnya.
"Suster, mana obatku. Sini, biar aku meminumnya," ucap Tuan Bian sembari mengulurkan tangannya ke hadapan perawat itu.
"Ba-baik, Tuan." Perawat itu dengan tergesa-gesa mengambilkan obat untuk Tuan Bian. Wajah perawat itu tampak berbinar. Ia senang karena hari ini lelaki tua itu bersedia meminum obat tanpa adanya paksaan sedikit pun sama seperti biasanya.
"Ini obatnya, Tuan."
__ADS_1
Setelah mendapatkan obatnya, Tuan Bian pun segera meminumnya dengan sekali tegukan. Melihat hal itu, Nadira dan Amara pun tersenyum.
"Nah, begitu dong. Kakek pinter, deh," celetuk Amara sambil tersenyum lebar dan menampakkan deretan gigi susunya.
Tuan Bian turut tersenyum lalu mengacak pelan puncak kepala Amara.
Ternyata Andrew melihat semua itu dan ia begitu terharu. Lelaki itu perlahan masuk lalu berdiri di samping Nadira.
"Terima kasih, Nadira," ucapnya dengan setengah berbisik.
Nadira sontak menoleh lalu menatap Andrew. "Untuk apa, Mas."
"Untuk semuanya," sahut Andrew. "Oh ya, makanannya sudah siap. Sebaiknya kita makan dulu," lanjut Andrew seraya meraih tubuh mungil Amara.
"Daddy mau ikut bersama kami?" tanya Andrew kemudian.
Tuan Bian menggeleng pelan. "Aku sudah terlalu kenyang. Lihatlah, tidak biasanya mangkok sup ku sampai ludes dan tak bersisa seperti itu," sahutnya sembari menunjuk ke arah mangkok sup yang tergeletak di atas nakas.
Andrew tersenyum puas. "Baiklah kalau begitu, Dad. Kami permisi dulu," ucap Andrew kemudian lalu mengajak Nadira dan Amara keluar dari ruangan itu.
Setibanya di ruang makan, ternyata apa yang dikatakan oleh Andrew benar. Di atas meja nan besar dan panjang itu tampak berjejer berbagai hidangan lezat. Nadira bahkan sampai bingung melihat banyaknya menu lezat yang tertata rapi di sana, sementara yang memakan makanan itu hanya mereka bertiga.
Andrew hanya tersenyum lalu mempersilakan Nadira untuk duduk di sampingnya.
"Ambillah dan makanlah apa pun yang kalian suka. Jangan sungkan, anggaplah rumah kalian sendiri," ucap Andrew.
"Terima kasih, Mas." Nadira kembali terdiam sambil memperhatikan deretan menu lezat itu. Ia bingung harus mengambil yang mana. Sebab semua menu yang tersaji di sana, benar-benar menggugah selera.
Setelah mengambil salah satu dari banyaknya menu yang berjejer, Nadira dan Amara pun memulai makan malam mereka. Beberapa kali Andrew melirik Nadira, tetapi yang dilirik masih tetap fokus pada makanannya. Hingga beberapa menit kemudian, acara makan malam itu pun selesai.
"Kok, udahan? Gak mau nambah lagi?" tanya Andrew ketika melihat Nadira menyudahi makan malamnya.
"Sudah, Mas, terima kasih. Ini pun sudah menjadi rekor terbanyakku dan rasanya aku sudah tidak sanggup jika harus melanjutkannya," jawab Nadira.
"Oh ya, Mas. Terima kasih atas jamuannya malam ini dan sepertinya aku harus segera pulang. Soalnya kasihan mbak Laras sendirian jaga ruko."
"Ah, ya, sebentar! Aku akan mengantarkan kalian pulang tapi setelah ini ...."
__ADS_1
Tiba-tiba para pelayan berdatangan ke ruangan itu. Mereka membereskan semua makanan serta peralatan makan yang ada di atas meja tersebut hingga tak tersisa satu pun. Setelah itu, salah satu dari mereka datang lagi dengan membawa sebuah piring cantik yang di atasnya terdapat dua buah kotak perhiasan.
Ia letakkan piring itu dengan hati-hati ke atas meja lalu pamit dan keluar dari ruangan tersebut. Nadira makin kebingungan, ia menatap kotak perhiasan berwarna gold itu dengan alis yang saling bertaut.
"Apa ini, Mas?" Nadira mulai bertanya-tanya.
Andrew meraih salah satu kotak perhiasan itu lalu membawanya ke hadapan Nadira. Ia membuka kotak tersebut sambil tersenyum hangat.
"Maafkan aku, Nadira. Mungkin ini terlalu mengejutkan untukmu. Tapi aku rasa ini adalah waktu yang tepat untuk mengutarakannya. Nadira ... maukah kamu menjadi istriku, menjadi ibu untuk anak-anakku dan menua bersamaku?"
Nadira tersentak kaget. Ia tidak pernah menyangka bahwa Andrew akan melamarnya malam ini. Jangankan membayangkan, terlintas pun tidak pernah. Sebab ia sadar siapa dia dan siapa Andrew. Perbedaan mereka bagai bumi dan langit, yang rasanya tidak mungkin untuk bersatu.
Sebuah cincin berlian tampak berkilau di dalam kotak perhiasan tersebut. Sebuah cincin yang ingin disematkan oleh Andrew ke jari manis Nadira. Namun, sayang Nadira masih terpaku dan belum menjawab pertanyaannya.
"Bagaimana, Nadira?" tanya Andrew lagi.
Bibir Nadira masih kaku. Perlahan ia menoleh ke arah Amara dan ternyata gadis mungil itu tampak cemburu. Ia menekuk wajahnya dengan kedua tangan melipat ke dada.
Andrew pun menyadari itu dan segera menghampiri Amara sambil terkekeh pelan. "Amara sayang, kenapa wajahnya ditekuk begitu?"
Amara memalingkan wajahnya dan ia tampak begitu menggemaskan. Andrew meraih kotak perhiasan satunya, yang masih tergeletak di atas piring lalu membukanya. Sebuah cincin emas dengan hiasan Hello Kitty di atasnya.
"Om tidak lupa sama Amara, kok. Buktinya Om juga beli satu untukmu. Sekarang Om tanya, apakah Amara bersedia jika Om Andrew menjadi daddy sambung untuk Amara?" ucap Andrew sembari berjongkok di hadapan si kecil Amara.
Dengan cepat Amara menganggukkan kepalanya. Gadis mungil itu bahkan tidak perlu berpikir dua kali untuk mengiyakan pernyataan Andrew. Sebab kasih sayang yang seharusnya diberikan oleh Arman, ia dapatkan dari lelaki itu.
"Iya, Om. Ara mau!" ucapnya sembari memeluk Andrew dengan erat. Andrew pun tersenyum puas lalu membalas pelukan gadis mungil itu.
"Baiklah, sekarang mana tanganmu?"
Setelah melerai pelukan mereka, Amara pun bergegas mengulurkan tangannya ke hadapan Andrew. Perlahan Andrew memasangkan cincin itu ke jari manis Amara dan ternyata ukurannya sangat pas. Amara tampak begitu senang. Ia terus memperhatikan cincin itu sambil tersenyum lebar.
"Terima kasih, Om."
"Sama-sama, Sayang."
Kini perhatian Andrew kembali ke Nadira. Ia masih sabar menunggu jawaban dari wanita itu. "Bagaimana, Nadira? Amara sudah menerimaku, sekarang tinggal menunggu jawaban darimu," ucapnya.
__ADS_1
Nadira melirik Amara dan ternyata gadis mungil itu tengah menatapnya sambil tersenyum lebar. Berharap Nadira juga menerima pernyataan dari Andrew.
...***...