Simpanan Janda Kaya

Simpanan Janda Kaya
Berkunjung Ke Kediaman Andrew


__ADS_3

"Om Andrew!" panggil Amara sambil berlari kecil ke arah Andrew yang masih duduk di ruangan itu menunggu kedatangannya.


"Wah, kamu cantik sekali, Amara." Andrew menyambut kedatangan gadis itu dengan membentangkan kedua tangannya ke depan dan segera memeluknya.


"Lihatlah, Mas. Amara sama sekali tidak ingin terpisahkan sama bonekamu itu, ke mana pun dan kapan pun. Sampai-sampai bonekanya terlihat lusuh seperti itu. Aku sudah mencoba membelikan boneka yang sama agar bisa dimainkan secara bergantian. Namun, katanya berbeda," ucap Nadira sembari menunjuk Amara yang tengah memeluk boneka tersebut.


Andrew terkekeh pelan. "Tentu saja berbeda karena boneka itu 'kan dari Om Andrew. Ya 'kan, Amara?" sahutnya sembari menatap Amara yang tengah berada di pelukannya.


Amara mengangguk pelan lalu tersenyum.


"Oh ya, Amara mau boneka baru, gak? Kalau mau, hari ini kita beli lagi, bagaimana?"


Amara pun mengangguk dengan penuh semangat. Gadis mungil itu terlihat sangat senang. "Ara mau, Om!"


"Baiklah, kalau begitu kita berangkat sekarang. Tapi setelah itu kita mampir ke rumah Om, ya. Daddy-nya Om ingin ketemu sama Amara katanya. Bagaimana, boleh?" bujuk Andrew lagi.


"Boleh, Om," jawab Amara dengan suara cadelnya.


Andrew pun bergegas menuntun si kecil Amara menuju mobilnya. Sementara Nadira mengikuti dari belakang.


"Selamat bersenang-senang!" ucap Laras dengan setengah berbisik.


Nadira tersenyum sembari melambaikan tangannya ke arah Laras. "Titip anak-anak ya, Mbak."


"Tenang! Anak-anakmu pasti aman di bawah pengawasanku," jawab Laras sembari melirik para karyawan yang masih asik memperhatikan kebersamaan Nadira dengan Andrew.


"Aku percaya padamu."


Setelah Nadira masuk ke dalam mobilnya, Andrew pun bergegas melajukan benda beroda empat tersebut ke jalan raya. Seperti janji Andrew kepada Amara sebelumnya, mereka mampir ke sebuah toko mainan dan membeli boneka untuk Amara.


"Sekarang pilih, Amara mau yang mana?" Andrew menunjuk deretan boneka yang ada di toko tersebut, sementara Amara tampak bingung melihat jejeran boneka cantik dan menggemaskan di hadapannya.


"Aduh, Mas. Aku jadi tidak enak," ucap Nadira.


"Tidak apa, Nadira. Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasihku karena kamu sudah bersedia ikut bersamaku," jawabnya sambil tersenyum hangat.


Nadira tersenyum kecut lalu membuang napas panjang. Sementara Amara dan Andrew tengah asik memilih boneka, Nadira memilih duduk sejenak di sebuah kursi sambil menunggu mereka.

__ADS_1


Tidak berselang lama, Andrew dan Amara pun datang menghampirinya dengan membawa sebuah boneka besar pilihan Amara.


"Mari, Nadira. Sekarang kita lanjutkan perjalanan kita," ucap Andrew.


"Sudah selesai?" Nadira bangkit dari posisinya lalu berdiri di samping Andrew.


"Ya. Kami sudah selesai," jawabnya.


Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju kediaman mewah Andrew. Selang beberapa menit kemudian, mereka pun tiba di depan kediaman mewah lelaki itu.


Nadira sempat terpelongo melihat betapa besar dan mewahnya kediaman milik Andrew. Bahkan jauh-jauh lebih besar dan lebih mewah dari kediaman nyonya Ira yang ia anggap sebagai rumah paling mewah yang pernah ia lihat dan kunjungi selama ini.


"Ini beneran rumahmu, Mas?" tanya Nadira yang masih asik memperhatikan sekeliling tempat itu dengan seksama.


"Sebenarnya bukan. Ini adalah rumah orang tuaku. Aku hanya menumpang di sini," jawabnya sambil tertawa pelan.


"Wow, rumah Om keren," pekik Amara yang juga ikut takjub melihat kediaman mewah lelaki itu.


Andrew tersenyum lalu mengusap lembut puncak kepala Amara.


Kini Nadira menatap Amara sambil tersenyum kecil. "Amara berdoa saja, ya. Siapa tahu nanti kita punya rejeki lebih dan bisa beli rumah seperti ini," jawab Nadira sembari mengelus lembut pipi Amara yang kemerahan.


Andrew hanya tersenyum mendengar percakapan antara Amara dan Nadira barusan. Ia lalu membukakan pintu mobilnya untuk Nadira.


"Mari," ucapnya sambil mengulurkan tangan ke hadapan Nadira.


Dengan ragu-ragu Nadira menyambut tangan lelaki itu lalu melepaskannya lagi setelah ia berhasil keluar.


"Terima kasih, Mas."


Andrew menuntun Nadira masuk ke dalam rumah, begitu pula si kecil Amara. Gadis kecil itu terlihat begitu nyaman berada di dalam pelukannya.


"Sebaiknya kita temui daddy-ku dulu, baru setelah itu kita bersantai. Oh ya, malam ini kalian akan makan malam di sini dan aku tidak menerima penolakan apa pun itu. Sebab aku sudah meminta para pelayan untuk menyiapkan segala sesuatunya," ucap Andrew sambil melirik Nadira yang berjalan di sampingnya.


Nadira hanya bisa menarik napas dalam lalu menghembuskannya lagi sambil membalas tatapan Andrew.


Kini mereka melangkah menaiki tangga utama menuju lantai dua. Di mana kamar tuan Bian berada. Setibanya di depan kamar mewah itu, Andrew pun segera membuka pintunya.

__ADS_1


"Masuklah. Jangan takut, daddy tidak akan macam-macam, kok."


Walaupun ragu, Nadira tetap melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan itu. Ada beberapa orang perawat yang bertugas menjaga tuan Bian di sana dan mereka tampak sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Sementara lelaki tua itu masih terbaring lemah di atas tempat tidurnya.


Nadira, Andrew dan Amara datang mendekat lalu berdiri di samping tempat tidurnya.


"Daddy, hari ini aku mengajak Nadira dan Amara ke sini," ucap Andrew sembari meletakkan tubuh mungil Amara di sampingnya.


Perlahan tuan Bian mulai bereaksi. Ia menoleh ke arah Nadira dan Amara lalu tersenyum kecil setelah menatap si kecil yang berdiri di sisi ranjangnya.


"Siapa namamu?" ucap Tuan Bian perlahan sembari menyentuh tangan mungil Amara.


"Amara, Kek," jawabnya.


"Kamu cantik sekali," lanjut tuan Bian.


Andrew memperhatikan sebuah mangkok berisi sup hangat yang terletak di atas nakas. Makanan itu tampak tak tersentuh dan Andrew yakin bahwa daddy-nya lagi-lagi menolak untuk makan.


"Apa Daddy menolak makan lagi, Sus?" tanya Andrew.


"Ya, Tuan. Sudah berkali-kali saya mencoba membujuk Tuan Bian untuk makan, tetapi beliau selalu saja menolak untuk membuka mulutnya," jawab salah satu perawat yang berada di ruangan itu.


Andrew menarik napas dalam lalu menghembuskannya lagi. "Kenapa lagi, Dad? Kenapa supnya tidak dimakan? Apa supnya kurang enak? Jika ya, maka aku akan minta pelayan untuk membuatkannya lagi yang rasanya jauh lebih enak."


"Tidak usah," jawab Tuan Bian pelan. "Aku tidak lapar," lanjutnya.


Tiba-tiba si kecil Amara menyentuh tangan Tuan Bian yang terlihat kurus dan memucat. Ia mengusap tangan lelaki tua itu dengan sangat lembut sembari tersenyum manis.


"Kenapa Kakek tidak mau makan? Nanti sakitnya Kakek gak sembuh-sembuh, loh!" ucap Amara dengan cadelnya.


Sontak Tuan Bian pun tersenyum lalu menjawab ucapan gadis kecil itu. "Kamu lucu sekali, Amara. Baiklah, Kakek mau makan tapi Amara temani Kakek, ya?"


"Baik, Kek."


Nadira dan Andrew saling lempar pandang untuk beberapa saat. Andrew tersenyum lebar dan tak menyangka bahwa Amara semudah itu membujuk daddy-nya untuk makan.


...***...

__ADS_1


__ADS_2