
"Hentikan, Nyonya! Keputusan saya sudah bulat. Saya tidak akan melakukannya sebelum kita sah menjadi suami istri. Jika Anda tidak bisa menerimanya, Anda bisa meminta saya tidur di luar," ucap Arman yang mulai menegas.
Nyonya Ira menghentikan aksinya. Ia terdiam dengan tatapan tajam menatap Arman. Wanita itu segera menarik tangannya dari dalam celana Arman lalu menghembuskan napas kasar.
"Baiklah kalau begitu. Kita akan melakukannya setelah menikah. Sekarang, tidurlah. Aku tidak ingin berdebat lagi," sahut Nyonya Ira lalu merebahkan kembali tubuhnya ke atas kasur empuk tersebut.
Arman mengangguk pelan. "Terima kasih karena sudah mengerti, Nyonya."
"Sini!" Nyonya Ira menepuk pelan bantal kosong yang ada di sampingnya. "Berbaringlah di sampingku."
Lagi-lagi Arman mengangguk lalu merebahkan dirinya di samping Nyonya Ira dengan posisi terlentang. Nyonya Ira memiringkan tubuhnya menghadap Arman lalu memeluknya dengan erat.
"Aku sangat menyayangimu, Mas. Sangat!" bisiknya sambil mengelus lembut dada bidang Arman.
***
Keesokan harinya.
Setelah selesai sarapan bersama, Arman, Nyonya Ira serta Bu Ningsih segera berangkat menuju kota X, di mana acara pernikahan mereka akan digelar. Bu Ningsih tampak begitu antusias, apalagi Nyonya Ira yang akan menjadi mempelai di hari istimewa itu.
Hanya Arman yang tampak tidak bersemangat. Tatapannya kosong dan tidak ada gairah dalam jiwa lelaki itu. Arman tampak pasrah dengan nasib yang akan ia hadapi nanti.
Beberapa saat kemudian, mereka pun tiba di depan hotel X yang akan menjadi tempat terselenggaranya acara istimewa mereka tersebut. Kedatangan Nyonya Ira dan Arman di tempat itu, disambut dengan begitu hangat.
Bu Ningsih tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia meraih ponsel 'kentang' miliknya lalu mengabadikan segala sesuatu yang menurutnya menarik melalui kamera ponsel tersebut.
Nyonya Ira memperhatikan sikap Bu Ningsih saat itu dan jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia merasa malu. Ia tidak suka dengan sikap Bu Ningsih yang terlihat kampungan.
"Bu, sebaiknya hentikan itu. Semua orang sedang memperhatikan Ibu. Ibu tidak ingin 'kan dianggap kampungan oleh mereka?" ucap Nyonya Ira dengan setengah berbisik kepada Bu Ningsih yang tengah sibuk mengabadikan tempat itu dengan kamera ponselnya.
__ADS_1
Bu Ningsih menghentikan aksinya lalu memperhatikan sekeliling tempat itu. Ada beberapa orang yang tengah memperhatikan dirinya. Bu Ningsih lalu menyimpan kembali ponsel bututnya sembari tersenyum kecut.
"Memangnya tidak diperbolehkan, ya?" tanya Bu Ningsih kemudian.
"Bukan tidak boleh, Bu. Hanya saja aku takut kalau nanti mereka berpikir Ibu itu kampungan. Ibu tidak ingin 'kan dibilang kampungan sama mereka?" jawab Nyonya Ira.
Bu Ningsih mengangguk pelan. "Ya, baiklah. Maafkan Ibu," jawab Bu Ningsih.
Arman menghampiri Bu Ningsih lalu merengkuh pundak wanita itu. Ia menuntun wanita paruh baya itu memasuki sebuah lift. Lift yang akan mengantarkan mereka menuju kamar yang akan mereka tempati. Dua buah kamar VIP yang sengaja disewa oleh Nyonya Ira untuk mereka. Satu untuk dirinya bersama Arman dan satunya untuk Bu Ningsih.
"Ini kamar Ibu dan ini kamarku bersama Mas Arman." Nyonya Ira menyerahkan sebuah kunci kamar berbentuk card kepada Bu Ningsih.
Bu Ningsih segera menyambutnya. Namun, ia bingung bagaimana cara menggunakan benda tersebut. Ia memperhatikan benda itu dengan alis yang saling bertaut.
"Bagaimana cara menggunakannya?" gumam Bu Ningsih.
"Owalahhh ... seperti itu, toh." Bu Ningsih tertawa pelan. "Maafkan Ibumu yang kampungan ini," lanjutnya.
Arman tersenyum kecut. "Kalau Ibu butuh sesuatu, panggil saja aku, Bu. Tinggal ketuk saja pintu kamar kami," ucap Arman.
Nyonya Ira yang sejak tadi sudah 'badmood', menyentuh lengan Arman dengan kasar. Wajahnya menekuk dan ia tampak tidak senang karena Arman menawarkan bantuan kepada wanita paruh baya itu.
"Sudahlah, Mas! Tinggal panggil saja pegawai hotel, apa susahnya? Ibu mau apa, tinggal bilang!"
Arman menghembuskan napas kasar. "Sayang, kalau hanya sebatas bantuan kecil, tidak perlu lah memanggil mereka. Aku 'kan ada di sini. Lagi pula kamar kita dan kamar Ibu sangatlah dekat."
"Ah, terserah lah! Aku sudah lelah. Aku ingin beristirahat," sahut Nyonya Ira yang bergegas masuk ke dalam kamarnya.
Kini hanya tinggal Arman dan Bu Ningsih yang masih berdiri di depan pintu kamar hotel tersebut dengan ekspresi wajah berbeda.
__ADS_1
Bu Ningsih mengelus lembut pundak Arman. "Sudah, tidak apa-apa, Arman. Apa yang dikatakan oleh Nak Ira benar. Kalau ada apa-apa, Ibu tinggal panggil pegawai hotel saja."
Arman tersenyum getir. "Maafkan aku, Ibu."
"Ya, sudah sana masuk! Mungkin saat ini pikirannya sedang kacau dan dia butuh dukungan darimu, Arman. Ibu mengerti, tidak mudah mengurus segala sesuatunya sendirian seperti Nyonya Ira," ucap Bu Ningsih.
Arman pun menganggukkan kepalanya. "Baiklah, aku masuk dulu, Bu."
Arman pun bergegas masuk, menyusul Nyonya Ira yang sudah menunggunya di dalam ruangan mewah itu. Begitu pula Bu Ningsih. Wanita paruh baya itu segera masuk ke dalam kamar yang sudah dipesan oleh Nyonya Ira untuknya.
Di dalam kamar.
"Apa kamu marah kepada Ibuku?" tanya Arman sembari duduk di tepian tempat tidur. Tepatnya di samping Nyonya Ira yang sedang bersandar di sandaran tempat tidur dengan wajah menekuk.
Nyonya Ira mendengus kesal. "Aku tidak marah. Aku hanya merasa malu dengan sikap Ibumu yang terlihat kampungan itu, Mas. Lihat saja bagaimana orang-orang melihat ke arahnya! Sementara mereka kenal aku sebagai seorang sosialita, yang selalu berkumpul bersama teman-temanku di tempat ini."
Arman membuang napas berat. "Kami memang berasal dari kampung. Jadi, wajar saja jika sikap kami terlihat norak di matamu. Kami hanya tahu soal sawah dan ladang. Sementara tempat seperti ini adalah tempat yang begitu istimewa bagi kami," jelas Arman sambil menatap lekat wajah Nyonya Ira.
Nyonya Ira membuang muka. "Sudahlah, aku tidak ingin membahasnya. Aku lelah dan ingin beristirahat sejenak." Nyonya Ira merebahkan dirinya dengan posisi membelakangi Arman.
Lagi-lagi Arman membuang napas berat. "Jika kamu mencintai aku, maka cobalah untuk mencintai orang tuaku juga."
Nyonya Ira tidak menggubris ucapan Arman. Ia menutup matanya rapat dan bersikap seolah-olah tidak mendengar kata-kata yang diucapkan oleh calon suaminya itu.
Karena merasa tidak digubris oleh Nyonya Ira, Arman pun bergegas bangkit dari posisi duduknya lalu berjalan menuju pintu balkon. Lelaki itu keluar dan kini berdiri di tepi pagar balkon hotel sambil melihat-lihat pemandangan indah di luaran sana.
Tak lupa, Arman juga meraih sebatang rokok serta pemantik dari dalam saku celananya. "Nadira, aku merindukanmu ...." gumamnya sembari menghembuskan asap dari rokok tersebut.
***
__ADS_1