Simpanan Janda Kaya

Simpanan Janda Kaya
Kekecewaan Arman


__ADS_3

Astaghfirullah ... maafkan Author 😭😭😭 Author salah masukan naskah. Setelah Up gak diperiksa lagi 😢😢😢


Nah, yang ini baru bener ... Maaf ya ...


Tok ... tok ... tok ...!


"Laras! Aku tahu kamu di dalam. Sekarang bukanlah pintunya! Aku ingin bicara empat mata denganmu," ucap Arman dengan nada tegas.


Cukup lama Laras terdiam di dalam rumahnya. Ia ragu menemui Arman karena ia tahu pasti apa yang ingin dibicarakan oleh lelaki itu kepadanya. Namun, semakin Laras diam, semakin intens pula suara ketukan serta panggilan dari Arman di luar sana.


"Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus terus bersembunyi di si atau menemui lelaki itu? Ish," gumamnya dengan sangat pelan.


Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Laras pun memutuskan untuk menemui Arman. Perlahan ia membuka pintu rumahnya lalu menatap Arman yang berdiri di sana dengan wajah yang terlihat kesal.


"Di mana Nadira?" tanya Arman tanpa basa-basi.


"Nadira? Kenapa Mas jadi menanyakan soal Dira ke aku? Aku mana tahu. Lah, situ suaminya," celetuk Laras yang berhasil membuat Arman semakin kesal.


"Jangan berpura-pura, Laras. Aku yakin sekali kamu pasti tahu di mana Nadira sekarang. Jangan mencoba menutup-nutupinya, Laras. Karena aku bisa saja melaporkanmu," ancam Arman.


Bukannya takut, Laras malah terkekeh mendengar ancaman dari lelaki itu. "Melaporkanku? Lah, memangnya apa salahku? Aku memang tidak tahu di mana Nadira. Lagi pula Mas itu 'kan suaminya. Lalu kenapa malah bertanya sama aku yang notabenenya bukan siapa-siapanya Nadira?"


Arman mengusap wajahnya dengan kasar. Ia sudah habis kesabaran menghadapi Laras. Bukan hanya karena sikap Laras yang menyebalkan. Namun, juga karena ia memang sudah lelah dengan berbagai kejadian yang menimpanya hari ini.


Arman meraih dompet miliknya lalu mengambil sejumlah uang dari dalam dompet tersebut. Ia melemparkannya ke hadapan Laras kemudian berkata,


"Ambillah uang ini! Sekarang katakan, di mana Nadira dan anakku berada?" ucapnya dengan tegas, berharap wanita yang tengah berdiri di hadapannya itu segera berkata jujur.


Laras tampak geram. Ia benar-benar tidak suka melihat sikap sombong Arman. Laras kembali melemparkan sejumlah uang tersebut ke tubuh Arman dengan sangat kasar.


"Ambil kembali uang ini, Mas Arman! Aku sama sekali tidak membutuhkan uang darimu. Dan satu lagi! Aku tidak tahu di mana Nadira berada. Jadi, cari tahulah sendiri di mana istrimu itu!" kesal Laras sembari masuk ke dalam rumahnya. Ia membanting pintu dengan sangat kasar hingga membuat Arman tersentak kaget.

__ADS_1


"Ya, Tuhan! Ke mana sekarang aku harus mencari keberadaan Nadira dan putri kecilku?" gumamnya.


Arman menyimpan kembali uang yang tadi dilemparkan oleh Laras lalu melangkah dengan gontai kembali ke mobilnya.


"Sepertinya aku harus berkunjung ke rumah Ibu. Mungkin saja Ibu tahu di mana Nadira pindah," gumamnya.


Kini mobil mewah itu melaju menuju kediaman Bu Ningsih. Saat di perjalanan, ponsel milik Arman tiba-tiba berdering. Sekilas Arman melirik ke layar ponsel tersebut dan setelah itu ia kembali mendengus kesal.


"Hmmm, dia lagi!" gumam Arman ketika melihat nama Nyonya Ira terpampang di sana.


Arman tampak acuh tak acuh. Ia sama sekali tidak berkeinginan menerima panggilan dari istri mudanya itu. Ponsel tersebut terus berdering, bahkan hingga puluhan kali. Dari panggilan hingga beberapa pesan chat masuk. Namun, Arman tetap tidak mempedulikannya. Hingga akhirnya Nyonya Ira pun menyerah.


Selang beberapa menit kemudian.


"Arman! Mari masuk, Nak!" Bu Ningsih menyambut kedatangan Arman dengan wajah semringah. Walaupun sekarang anak lelakinya itu jarang sekali mengunjunginya sama seperti dulu. Namun, perlakuannya terhadap Arman jauh lebih baik yang sekarang.


Setelah memarkirkan mobilnya, Arman pun segera masuk ke dalam rumah bersama Bu Ningsih. Wanita paruh baya itu menuntun Arman hingga ke ruang depan lalu membiarkannya duduk di sana.


"Ada yang ingin aku tanyakan sama Ibu dan ini soal Nadira," jawabnya tanpa basa-basi.


"Nadira lagi, Nadira lagi!" Bu Ningsih tampak kesal. Ia memutarkan bola matanya dan seakan begitu malas mendengar apalagi membicarakan soal menantunya itu.


"Bu. Apa Ibu sudah tahu kalau Nadira sudah tidak tinggal di sini lagi? Rumah peninggalan kedua orang tuanya pun sudah ia jual dan anehnya para tetangga-tetangga sebelah rumah tidak ada yang tahu di mana dia sekarang," tutur Arman.


Bu Ningsih tersenyum tipis. "Ya, bagus dong kalau begitu, Arman. Dengan begitu hubunganmu dengan Nyonya Ira 'kan gak ada yang ganggu lagi. Trus kenapa sekarang kamu malah terlihat khawatir seperti itu?"


"Bagaimana aku tidak khawatir, Bu! Anak perempuanku ada bersamanya dan aku tidak tahu bagaimana nasibnya sekarang ini," kesal Arman.


"Biarkan saja dia. Aku yakin tidak lama lagi Nadira pasti akan kembali padamu. Memang dia bisa apa 'sih tanpa kamu, ha? Selama ini yang dia tahu hanya menengadahkan tangan padamu. Pernahkah dia membantumu bekerja mencari nafkah? Tidak, 'kan!" celetuk Bu Ningsih.


Arman mendengus kesal karena ia tidak menemukan jawaban dari semua pertanyaan yang ada di kepalanya. "Jadi Ibu juga tidak tahu di mana Nadira pindah?"

__ADS_1


"Tidak. Lagi pula Ibu juga tidak peduli," jawabnya enteng.


"Ya, sudah. Sebaiknya aku pulang saja!" Arman kembali bangkit dari posisinya lalu pergi begitu saja meninggalkan Bu Ningsih dengan raut wajah yang begitu kecewa.


"Eh, Arman. Tunggu!" Bu Ningsih melangkah dengan cepat menyusul Arman yang sudah berdiri di ambang pintu rumahnya.


Arman menghentikan langkahnya lalu menatap Bu Ningsih dengan seksama. "Ada apa lagi, Bu?"


"Nak, Ibu minta uang lagi, dong! Uang yang kamu transfer minggu lalu sudah habis," rengek Bu Ningsih.


Arman menautkan kedua alisnya heran. "Sudah habis? Bagaimana bisa uang sebanyak itu habis dalam waktu seminggu saja, Bu?"


"Ish, kamu ini! Ibu sedang merenovasi ruang dapur, biar lebih besar lagi. Kan kalo kita pada ngumpul, gak berdesak-desakan lagi seperti dulu. Coba deh kamu lihat ke belakang. Ibu gak bohong, kok."


Arman menghembuskan napas berat. "Baiklah, nanti aku transfer lagi uangnya."


Bu Ningsih tersenyum lebar mendengar jawaban dari Arman. "Wah, terima kasih banyak, Nak."


Arman pun kembali melanjutkan langkahnya dan berjalan menghampiri mobil. Ia masuk lalu melajukan benda beroda empat tersebut menuju toko perhiasan milik Nyonya Ira.


"Hmmm, semoga saja Ira tidak marah."


Namun, harapan Arman tidak menjadi kenyataan. Wanita berumur itu sudah menunggu kedatangannya dengan kedua tangan menyilang di dada. Wajahnya memerah dan sudah tampak tak bersahabat.


"Dari mana saja kamu, Mas? Aku telepon dan chat berkali-kali, tetapi tidak kamu balas. Jangan coba main-main denganku, Mas. Kamu belum tahu siapa aku yang sebenarnya," ucap Nyonya Ira dengan begitu serius.


Arman tampak malu dan serba salah karena lagi-lagi Nyonya Ira memarahinya di depan beberapa karyawannya.


"Pantas saja Ira ditinggalkan oleh mantan kekasihnya dulu, kalau ternyata dia suka sekali mendominasi pasangannya," gumam Arman dalam hati.


...***...

__ADS_1


__ADS_2