Simpanan Janda Kaya

Simpanan Janda Kaya
Kemenangan Amara


__ADS_3

Di ruangan lain, di hotel tersebut.


Tampak Andrew sedang memperhatikan sebuah layar berukuran sangat besar. Sebuah layar yang menampilkan aksi para peserta di perlombaan tersebut. Andrew mendadak terdiam setelah menyadari siapa yang tengah berdiri di atas pentas. Seorang gadis mungil yang tidak sengaja ia tabrak beberapa hari yang lalu.


"Amara ...." Andrew tersenyum melihat aksi gadis mungil itu.


"Anda mengenal anak ini?" tanya Pak Danu yang sejak tadi selalu setia menemaninya.


"Ya, Pak. Dia adalah anak kecil yang tidak sengaja aku tabrak beberapa hari yang lalu."


"Benarkah? Hmmm, sepertinya dia yang akan menjadi pemenang di perlombaan kali ini, Tuan. Lihat saja penampilannya," ucap Pak Danu.


"Semoga saja. Aku sangat berharap dia yang menang," sahut Andrew.


"Kalau Tuan Andrew mau, saya bisa minta para juri di sana untuk memenangkan anak ini." Pak Danu memberi saran.


Andrew menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, Pak. Semua keputusan sudah aku serahkan kepada para juri dan aku tidak ingin ikut campur soal itu. Biarkan dia berjuang sama seperti peserta lainnya," tutur Andrew.


Pak Danu mengangguk pelan. "Baiklah kalau begitu."


Andrew tiba-tiba bangkit dari posisi duduknya. Ia berjalan menuju pintu ruangan itu kemudian keluar. Pak Danu yang penasaran, segera mengikuti big bossnya itu dari belakang.


"Sebenarnya Tuan Andrew mau ke mana?" gumamnya.


Pak Danu terus mengikuti Andrew yang berjalan menuju lantai dasar. Di mana perlombaan itu tengah berlangsung. Andrew memasuki ruangan itu kemudian berbaur bersama para penonton dan juga keluarga para peserta.


Andrew memperhatikan sekeliling ruangan itu hingga kedua netranya terhenti pada sosok Nadira yang tengah menunggu Amara di bawah panggung.


"Itu dia!"


Ia tersenyum dan menatap wanita itu tanpa berkedip sedikit pun. Pak Danu sempat menangkap moment tersebut dan hal itu berhasil membuatnya semakin penasaran.

__ADS_1


"Siapa wanita itu? Kenapa Tuan Andrew tiba-tiba begitu bersemangat. Padahal sebelumnya ia begitu malas menghadiri acara perlombaan ini," gumam Pak Danu dalam hati sembari ikut memperhatikan Nadira dari kejauhan.


Kehadiran Andrew di tempat itu, sempat menjadi pusat perhatian para penonton dan keluarga para peserta. Oleh sebab itu, Andrew pun terpaksa harus menjauh dari kerumunan dan mencari tempat yang lebih aman.


"Sebaiknya Tuan duduk di sini saja. Sepertinya tempat itu tidak aman untuk Tuan," ucap Pak Danu sembari menyerahkan sebuah kursi untuk Andrew duduki.


Andrew terkekeh pelan mendengar celetukan asistennya itu lalu mendaratkan bokongnya di kursi tersebut.


Waktu terus berputar dan perlombaan itu hampir saja selesai. Hanya tinggal menampilkan beberapa peserta lagi untuk diambil penilaiannya oleh para juri.


Andrew masih berada di salah satu sudut ruangan itu sambil terus memperhatikan kebersamaan Nadira dan Amara. Hingga akhirnya saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Di mana para juri telah selesai memberikan penilaian kepada seluruh peserta lomba.


Hasil keputusan para juri sudah ada di tangan host yang membawakan acara tersebut. Lelaki bertubuh tinggi itu berdiri di atas panggung dengan wajah semringah sambil memegang sebuah kertas bertuliskan nama-nama pemenang lomba.


"Wow, persaingan para peserta benar-benar ketat, ya! Hingga para juri pun terlihat bingung menentukan siapa yang akan menjadi pemenang di perlombaan ini. Baiklah, saya tidak ingin berbasa-basi lagi. Saya akan mengumumkan siapa saja yang menjadi pemenangnya ...."


Celetukan host tersebut berhasil membuat seluruh peserta dan keluarganya harap-harap cemas. Begitu pula Nadira dan Laras yang sangat berharap Amara menjadi salah satu dari tiga nama yang akan disebutkan oleh lelaki tersebut.


Nadira menghela napas panjang. Ia sudah pasrah dengan hasil perlombaan itu. Ia memeluk erat Amara lalu mencium pipi mungilnya.


"Jika kita kalah, kita masih bisa mengikuti berbagai perlombaan lainnya. Amara jangan sedih, ya!" ucap Nadira.


Sementara Laras masih optimis bahwa nama Amara akan disebutkan setelah ini. Begitu pula Andrew yang terus memperhatikan mereka dari kejauhan. Ia sangat yakin bahwa Amara akan meraih juara pertama.


Nadira duduk di sebuah kursi sambil memangku si kecil Amara. Ia tampak pasrah dan tak ingin berharap apa pun lagi pada perlombaan tersebut.


"Oke, baiklah. Kalian semua pasti penasaran bukan, siapa yang akan menjadi pemenang pertama di perlombaan ini? Baiklah kalau begitu kita panggil saja ...." Host itu terdiam sejenak sambil tersenyum lebar menatap para penonton serta peserta yang tegang di bawah sana.


"Juara pertama di perlombaan kali ini jatuh pada ... Amara Qirani dengan nomor peserta 012!" seru Host tersebut sambil bertepuk tangan.


"Amara!" pekik Nadira yang tak kuasa menahan tangis harunya.

__ADS_1


"Nah, benar 'kan kataku, Nad! Makanya kamu itu harus optimis bahwa Amara pasti berhasil!" celetuk Laras yang tidak kalah bahagianya.


"Ya, Mbak benar. Terima kasih, Mbak."


"Sudah sana, cepat! Mereka sudah menunggu Amara," ucap Laras kemudian sembari menuntun si kecil Amara menuju panggung.


Suara sorak-sorai dan tepuk tangan membahana di ruangan itu. Termasuk Andrew, lelaki itu refleks 'standing applause' untuk menyambut kemenangan si kecil Amara.


"Akhirnya!" gumam Andrew sambil tersenyum puas.


Pak Danu menghampiri Andrew lalu berdiri di sampingnya. "Selamat, Tuan. Akhirnya gadis kecil itu memenangkan perlombaan ini," ucap Pak Danu yang ikut bahagia melihat reaksi Andrew saat itu.


Andrew melirik Pak Danu, masih dengan senyuman yang mengambang di wajahnya. "Biarkan aku yang memberikan hadiah utama untuk gadis kecil itu."


Pak Danu sempat menautkan kedua alisnya heran. Padahal sebelumnya Andrew sudah diminta untuk memberikan hadiah kepada pemenang utama di perlombaan ini. Namun, lelaki itu bersikeras menolaknya dan meminta Pak Danu untuk mewakili dirinya.


Namun, sekarang ia malah berubah pikiran dan mengajukan diri untuk maju dan memberikan hadiah tersebut untuk Amara. Pak Danu pun hanya bisa mengangguk dan menyetujui keinginan big bossnya tersebut.


Para pemenang ke-dua dan ke-tiga sudah menerima hadiah mereka yang diserahkan langsung oleh para juri yang terpilih. Kini tinggal Amara yang masih berdiri di sana sambil menunggu hadiahnya.


"Untuk pemenang pertama, hadiah akan diserahkan langsung oleh pemimpin perusahaan yang menyelenggarakan perlombaan ini. Kita sambut saja, Tuan Andrew Alvendra Putra! Tuan Andrew, dipersilakan."


"A-Andrew?" pekik Nadira dengan mata membulat setelah mendengar nama itu disebutkan.


"Siapa, Nad? Kamu mengenal lelaki itu?" tanya Laras yang kembali penasaran.


"I-iya, Mbak. Lelaki itu lah yang kemarin tak sengaja menabrak Amara. Oh ya, Tuhan! Aku tidak menyangka bahwa dia adalah pemimpin perusahaan yang menyelenggarakan perlombaan ini. Semoga kemenangan Amara tidak ada campur tangan darinya. Jika benar, maka aku akan mengembalikan hadiahnya!" tutur Nadira.


"Ish, Nadira. Jangan begitu," sela Laras.


...***...

__ADS_1


__ADS_2