
"Aku tidak menghina, tapi aku hanya mengatakan sesuai dengan apa yang aku lihat."
Nyonya Ira kembali melewati tubuh Nadira. Ia menemukan sebuah kursi plastik lalu duduk di sana tanpa dipersilakan oleh Nadira.
"Sebenarnya aku ke sini bukan untuk mengomentari barang daganganmu, Nadira. Namun, bibirku terasa gatal jika tidak mengatakan apa yang aku lihat."
"Tidak usah berbasa-basi, Nyonya. Katakan saja apa yang Anda inginkan dariku hingga Anda bersedia mengunjungiku di tempat ini?"
Nyonya Ira kembali tersenyum. "Ya, aku hampir saja lupa tujuanku datang ke tempat ini, Nadira. Itu semua gara-gara barang daganganmu yang jelek ini," jawabnya.
Wanita berumur itu meraih sebuah berkas dari dalam tasnya lalu menyerahkannya kepada Nadira. "Aku dan Mas Arman sudah mengurus surat-surat perceraian kalian dan semuanya sudah beres hanya tinggal menunggu tanda tangan darimu saja. Sekarang tanda tangani di sini," lanjut Nyonya Ira sembari menunjuk ruang kosong di berkas tersebut di mana Nadira harus meletakkan tanda tangannya.
Nadira meraih berkas tersebut dengan wajah heran. Ia memperhatikan dan membaca isi berkas tersebut dengan seksama.
"Kenapa aku sama sekali tidak tahu soal perceraian ini?" tanya Nadira terheran-heran.
Nyonya Ira tertawa pelan. "Nadira-Nadira ... kamu itu terlalu polos atau bodoh, sih? Apa kamu lupa akan kata pepatah, ada uang urusan lancar. Apa pun bisa terjadi jika uang sudah bicara. Kamu lihat bagaimana suamimu tiba-tiba berpaling dan memilih hidup bersamaku? Itu semua karena uang, Dira! Uang!"
"Lagi pula Mas Arman pun sudah setuju dan asal kamu tahu, Mas Arman lah yang mengajukan perceraian ini ke pengadilan. Sementara aku? Aku adalah istri yang baik, yang akan mendukung apa pun keputusan suaminya," lanjutnya sambil menyeringai licik.
Nadira terdiam untuk beberapa saat dengan tatapan yang tertuju pada Nyonya Ira. Hingga akhirnya ia pun menerima keputusan itu dengan lapang dada.
"Baiklah. Aku akan tanda tangani surat ini jika Mas Arman memang menginginkannya. Lagi pula sudah tidak ada yang bisa aku harapkan lagi darinya."
"Baguslah kalau kamu sadar diri dan aku harap setelah ini kamu tidak akan menganggu kehidupanku bersama mas Arman lagi, Nadira. Biarkan aku dan mas Arman bahagia. Apalagi saat ini aku tengah mengandung anaknya," tutur Nyonya Ira sembari mengelus perutnya yang rata.
Nadira tersenyum kecut. "Tentu saja, Nyonya Ira. Aku bukanlah wanita yang suka mengganggu rumah tangga orang lain dan aku ucapkan selamat atas kehamilanmu."
Nyonya Ira mendadak sewot. Wajahnya yang tadi tampak semringah, tiba-tiba menekuk. Ia merasa sedikit tersinggung ketika Nadira berkata seperti itu. Namun, ia tidak ingin membahasnya lebih jauh lagi.
__ADS_1
Setelah Nadira selesai menandatangani surat itu, raut wajah Nyonya Ira pun kembali bahagia. Ia tersenyum lebar lalu menyerahkannya sejumlah uang ke hadapan Nadira.
"Ini untukmu, Nadira. Anggap saja ini sebagai tanda terima kasihku karena kamu sudah berbaik hati bersedia menandatangani surat-surat ini," ucap Nyonya Ira.
Nadira memperhatikan sejumlah uang yang ada di hadapannya sambil tersenyum miring. Jangankan meraih uang itu, ia bahkan sama sekali tidak tertarik menerimanya.
"Simpan saja kembali, Nyonya Ira, sebab aku sama sekali tidak membutuhkannya."
"Cih! Ternyata kamu tetap tidak berubah ya, Nadira. Tetap sombong di tengah kemiskinanmu. Hidup miskin begini aja kamu sudah sombong. Bagaimana jika suatu saat nanti kamu menjadi orang kaya?"
Nyonya Ira mengambil kembali uangnya lalu melenggang pergi dari ruko kecil milik Nadira. Ia menghampiri mobilnya kemudian masuk ke dalam sambil terus menggerutu. Sementara Nadira hanya diam dan memperhatikan wanita berumur itu hingga mobil mereka hilang dari pandangannya.
"Sudah selesai?" tanya lelaki yang menjadi orang suruhan Nadira.
"Sudah. Ah, akhirnya aku lega. Dia sudah menandatangani surat keputusan cerai itu dan kini hanya aku istri satu-satunya mas Arman," sahut Nyonya Ira lalu tersenyum lebar.
"Memangnya apa istimewanya Arman, Nyonya Ira? Menurutku lelaki itu tidak ada istimewanya. Dia sama saja seperti lelaki lainnya. Yang dia butuhkan hanya harta Anda, bukan Anda. Maaf jika saya terlalu jujur," tutur lelaki itu.
Nyonya Ira menekuk wajahnya karena kesal. Ia bahkan memukul lengan lelaki itu dengan sangat kasar. "Sialan kamu, ya! Berani sekali kamu berkata seperti itu! Arman itu berbeda! Dia tidak sama seperti yang kamu pikirkan," sahutnya.
"Maaf, saya hanya mengeluarkan pendapat saya saja," balas lelaki itu kemudian.
Sementara itu.
Nadira menceritakan semuanya kepada Laras melalui sambungan telepon. Ia mencurahkan seluruh isi hatinya kepada wanita yang sudah ia anggap seperti kakak perempuannya itu.
"Apa! Jadi nenek lampir itu datang ke tempatmu dengan membawa surat keputusan cerai?" pekiknya dengan mata membulat sempurna. Ia geram mendengar cerita Nadira barusan.
"Ya, Mbak. Sekarang aku dan mas Arman sudah tidak memiliki hubungan apa pun lagi. Aku tidak tahu apakah aku harus senang atau malah sebaliknya." Nadira terdiam sejenak lalu menghempaskan napas dalam.
__ADS_1
"Tidak apa, Nadira. Aku rasa itu adalah keputusan yang terbaik untukmu. Sekarang statusmu sudah jelas dan mas Arman sudah tidak bisa lagi mengganggumu. Benar 'kan?"
"Ya, Mbak benar."
"Oh ya, Nadira. Barusan aku baca di sosmed, ada sebuah brand susu terkenal yang tengah mengadakan sebuah lomba untuk anak seusia Amara. Sebaiknya daftarkan Amara untuk ikut lomba itu, Nad. Hadiahnya lumayan, loh. Selain menjadi bintang iklan untuk produk mereka, Amara juga bisa mendapatkan beasiswa yang sangat besar," kata Laras dengan penuh semangat.
"Benarkah? Di mana?" Nadira mulai tertarik mendengar informasi yang diberikan oleh Laras barusan.
"Ish, Nadira! Berita ini lagi hangat-hangatnya di medsos. Masa kamu gak pernah melihatnya? Padahal selalu berseliweran di beranda," tutur Laras lagi.
Nadira tertawa pelan lalu kembali membalas celetukan Laras. "Aku terlalu sibuk dengan daganganku, Mbak. Buka hape pun hanya untuk mengecek pembeli yang memesan baju-baju secara online."
"Hmmm, dasar! Lombanya diadakan di hotel X, tak jauh dari tempat tinggalmu. Jika kamu berkenan, aku bisa membantumu mendaftarkan Amara ke dalam lomba itu. Bagaimana?"
Nadira memperhatikan Amara yang tengah duduk di salah satu sudut ruangan sambil bermain dengan bonekanya.
"Kalau lombanya diadakan secara besar-besaran seperti ini, mungkinkah ada kesempatan untuk Amara memenangkan lomba itu?"
"Yakin dong, Nad! Lagi pula tidak ada salahnya mencoba. Siapa tahu rejeki Amara dan kamu ada di sana. Dari pada bakatnya dipendam saja, lebih baik ditampilkan, bukan?"
Nadira terdiam sejenak sambil berpikir. Hingga akhirnya ia pun memutuskan. "Baiklah, Mbak. Aku setuju. Bisa bantu aku mendaftarkan Amara ke lomba itu?"
Laras tersenyum puas. "Begitu, dong! Baiklah, aku akan bantu daftarkan Amara," jawabnya.
"Terima kasih, Mbak. Maaf, merepotkan."
"Sama-sama, Nad. Tidak merepotkan, kok."
...*** ...
__ADS_1