Simpanan Janda Kaya

Simpanan Janda Kaya
Lamaran Andrew


__ADS_3

"Nadira?"


"Ehm, sebenarnya aku bingung, Mas. Kenapa Mas malah melamarku padahal kita memiliki perbedaan yang sangat-sangat jauh. Aku hanya seorang janda miskin yang mencoba bangkit dari keterpurukan. Sementara Mas ...." Nadira terdiam lalu memperhatikan dirinya sendiri.


"Hei, apakah itu menjadi sebuah masalah? Aku tidak peduli siapa dan apa pun status kamu, Nadira, karena aku sudah memikirkannya dengan sangat matang. Jadi, apakah kamu bersedia menerima lamaranku?"


Nadira menatap lekat kedua netra Andrew yang berwarna coklat terang. Walaupun sebenarnya ia masih sangat ragu, tetapi Nadira terpaksa harus mengangguk dan menerima lamaran itu. Ia tidak ingin Andrew merasa kecewa jika ia menolaknya.


Nadira menarik napas dalam lalu menghembuskannya lagi. "Baiklah, aku terima lamaranmu, Mas. Tapi ada satu syarat," ucap Nadira.


Andrew tersenyum puas. "Baiklah, apa itu?"


"Aku tidak ingin menikah dengan cepat. Aku masih butuh waktu untuk memikirkannya. Bagaimana?"


Andrew terdiam sejenak lalu menganggukkan kepalanya. "Baiklah, tidak masalah. Sebaiknya memang begitu. Setidaknya aku bisa membuktikan bahwa aku benar-benar serius ingin menjadi bagian dari kalian dan ingin membahagiakan kalian berdua," jawabnya dengan mantap.


Andrew meraih cincin berlian yang masih berada di dalam kotak perhiasan tersebut lalu menyematkannya di jari manis Nadira. Amara bertepuk tangan dengan begitu antusias melihat Andrew berhasil memasangkan cincin itu ke jari ibunya.


"Yey, Om Andrew akan jadi ayahnya Ara," ucapnya dengan polos.


Nadira hanya bisa tersenyum kecut sembari mengelus lembut puncak kepala anak perempuannya itu.


Andrew mengangkat tubuh mungil Amara lalu menggendongnya. "Mulai sekarang Amara panggil Om dengan sebutan Daddy. Bagaimana?"


"Siap, Daddy!" jawabnya dengan mantap.


"Bagus. Sebelum Daddy antar kalian pulang, kita pamit dulu sama opa, bagaimana?"


Amara mengangguk dengan cepat. "Oke, Daddy!"


Tanpa ragu-ragu, Andrew meraih tangan Nadira. Ia menggenggam erat tangan calon istrinya itu lalu menuntunnya kembali menuju kamar tuan Bian. Setibanya di ruangan itu, tuan Bian langsung tersenyum semringah melihat mereka bertiga.


"Hmmm, sepertinya misimu berhasil, Anak muda. Selamat," ucapnya.


"Ya, Daddy. Akhirnya mimpiku menjadi kenyataan," jawab Andrew sembari melirik Nadira.


Nadira hanya diam. Kepalanya pun tertunduk menghadap lantai. Ia masih belum bisa mempercayai bahwa lelaki tampan yang tengah berdiri di sampingnya saat ini sudah menjadi tunangannya.


"Baguslah kalau begitu. Aku pun turut senang mendengarnya. Semoga kalian selalu bahagia hingga hanya maut yang dapat memisahkan kalian," ucap Tuan Bian lagi.

__ADS_1


"Aamiin. Oh ya, Dad. Aku mau pergi dulu sebentar. Mengantarkan calon istri dan anak perempuanku pulang."


Tuan Bian pun mengangguk. "Ya, pergilah. Dan untukmu, Nadira ... sering-seringlah kemari bersama Amara. Kamu tahu, Daddy kesepian di sini," ucap Tuan Bian sebelum mereka bertiga keluar dari ruangan itu.


"Ya, tentu saja, Dad. Kami berjanji," sahut Nadira.


Selang beberapa menit kemudian.


"Terima kasih atas hari ini, Mas," ucap Nadira ketika sudah tiba di kediamannya.


"Seharusnya aku lah yang berterima kasih padamu, Nadira. Karena sudah bersedia menerima lamaranku serta memberikan aku kesempatan untuk bisa lebih dekat lagi bersama kalian, kamu dan Amara," sahut Andrew sembari meraih tangan Nadira lalu menggenggamnya dengan erat.


Nadira tersenyum dan ia hampir saja lupa bahwa ada sepasang mata yang tengah memperhatikan kebersamannya. Sepasang mata mungil itu tampak membulat dan wajahnya pun terlihat sedikit cemberut.


Menyadari hal itu, Nadira pun bergegas melepaskan genggaman tangan Andrew dan berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa. Sementara Andrew hanya bisa tersenyum lalu berjongkok di hadapan gadis mungil itu.


"Baiklah, Daddy pamit dulu, ya. Jangan lupa, segera tidur karena ini sudah malam," ucap Andrew sembari membelai lembut kedua pipi Amara.


"Baik, Dad." Seketika wajah cemberutnya pun sirna dan kini tampak sebuah senyuman manis mengembang di wajah cantik gadis mungil tersebut.


"Gadis pintar." Setelah memberikan ciuman hangatnya di puncak kepala Amara, Andrew pun segera bangkit lalu kembali menatap Nadira.


"Selamat malam juga, Mas Andrew. Hati-hati di jalan." Nadira dan Amara melambaikan tangan mereka hingga Andrew menghilang dari balik pintu mobilnya.


Setelah Andrew pergi, Nadira dan Amara pun bergegas masuk ke dalam ruko. Kedatangan mereka disambut hangat oleh Laras yang sudah sejak tadi menunggu. Ia segera menyambut si kecil Amara dari pelukan Nadira lalu menggendongnya.


"Wah, senang kalian sudah kembali."


"Lihat, Tante. Ara punya boneka baru, dikasih sama Om Andrew. Bonekanya cantik 'kan, Tante?" ucap Amara sembari memperlihatkan boneka baru yang diberikan oleh Andrew.


"Wah, cantik sekali, Sayang! Tante juga mau, ah!" sahut Laras.


"Hmmm, maaf tante, Om Andrew hanya beli satu untuk Ara," ucap Amara dengan lirih.


Laras pun tertawa pelan lalu kembali menimpali ucapan gadis mungil itu. "Tidak, Sayang. Tante Laras cuma bercanda."


Nadira menghampiri Laras lalu berjalan di sampingnya. "Maafkan aku, Mbak Laras. Karena aku, Mbak harus pulang terlambat."


Laras tersenyum. "Tidak apa-apa. Lagi pula Mas Budi bekerja lembur malam ini."

__ADS_1


"Benarkah? Apa itu artinya Mbak bisa menginap di sini?" tanya Nadira dengan sangat antusias.


"Boleh, jika kamu memintanya," jawab Laras.


"Ya, aku mau, Mbak. Nginap di sini, ya! Temani kami," rengek Nadira sembari menarik-narik tangan Laras.


Laras terkekeh pelan dan tak sengaja ia melihat cincin berlian yang melingkar di jari manis Nadira saat itu.


"Iya-iya, baiklah. Aku akan menginap malam ini. Oh ya, ngomong-ngomong cincin barumu cantik sekali," celetuk Laras sembari melirik ke arah jari manis Nadira.


Wajah Nadira seketika memerah karena malu. Ia tidak menyangka bahwa Laras menyadari bahwa ada cincin baru yang melingkar di jari manisnya.


"Sebenarnya ini cincin pemberian mas Andrew, Mbak."


"Ara juga punya, dikasih sama om Andrew, Tante. Lihatlah!" Amara pun tidak mau kalah. Ia mengulurkan tangannya ke hadapan Laras dan memperlihatkan cincin barunya kepada wanita itu.


"Wow, Ara juga dapet. Hmmm, Ara jahat! Kenapa Ara tidak minta satu buat Tante Laras?" goda Laras.


Belum sempat Amara menjawab perkataan Laras, Nadira sudah menyela pembicaraan mereka.


"Nanti aku ceritakan, Mbak."


"Baiklah, aku tidak sabar!" sahut Laras.


Setelah membantu membersihkan tubuh Amara, menggantikan bajunya lalu menemaninya tidur, Laras pun bergegas menemui Nadira. Ia begitu penasaran pasal cincin berlian yang melingkar di jari manis sahabatnya itu.


"Eh, Nad! Cepat ceritakan soal cincin itu! Apa Andrew melamarmu?" tanyanya tanpa berbasa-basi lagi.


Nadira yang tengah duduk di depan cermin rias, segera menoleh ke arah Laras.


"Menurut Mbak?" tanya Nadira balik.


"Jadi itu benar? Andrew melamarmu!" pekik Laras dengan mata membulat sempurna.


"Ya, Mbak. Tapi ... jujur, aku masih belum yakin dengan jawabanku. Mbak tahu sendiri 'kan? Pengkhianatan yang dilakukan oleh mas Arman kepadaku, benar-benar membuatku kecewa dan putus asa. Bahkan aku merasa kehilangan kepercayaan kepada mahluk yang bernama lelaki," tutur Nadira dengan wajah sendu.


Laras menghembuskan napas berat. "Tapi aku rasa Andrew berbeda, Nad. Melihat dari sikap dan perlakuannya terhadap kalian berdua, aku rasa dia memang benar-benar tulus," sahut Laras.


...*** ...

__ADS_1


__ADS_2