Simpanan Janda Kaya

Simpanan Janda Kaya
Arman


__ADS_3

Hai-hai, Readers tersayang .... Maafkan Author yang baru bisa up sekarang 🤧😓 Beberapa hari ini Author disibukkan dengan kehidupan di dunia nyata, mengurus Dede Bayi yang baru lahir.


Author juga ingin mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya atas semua doa-doa kalian untuk kelahiran Author kemarin 🥰🥰🥰. Alhamdulillah, lahiran Author lancar tanpa ada hambatan yang berarti.


Oh ya, untuk cerita Nadira, Arman dan Andrew, mungkin Author gak bisa Up rutin lagi seperti kemarin. Tapi insyaallah pasti ditamatkan di bulan ini juga.


So ... Happy Reading ❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


"Sekarang apa rencanamu, Arman?" tanya Bu Ningsih yang mulai kebingungan dengan nasib mereka.


"Aku juga bingung, Bu. Untuk sementara aku akan tinggal di sini dan mulai mencari pekerjaan," jawab Arman lirih sembari membuang napas berat.


Bu Ningsih mendengus dengan wajah yang setengah ditekuk. "Hhhh, pekerjaan apa yang bisa kamu dapatkan dengan ijazah SMA mu itu? Paling-paling juga jadi buruh pabrik sama seperti dulu, yang gajinya bahkan tidak cukup untuk sebulan."


"Tapi lebih baik dari pada aku menganggur 'kan, Bu. Setidaknya aku tidak ikut menjadi bebannya mbak Ririn." Arman menyandarkan kepalanya di sandaran sofa sambil menatap langit-langit ruangan itu dengan tatapan menerawang.


Tiba-tiba terbesit sebuah ide yang menurut Bu Ningsih begitu cemerlang. Ia tersenyum lebar lalu menepuk pundak Arman dengan begitu antusias.


"Eh, Arman. Kenapa kamu tidak minta balikan saja sama Nadira? Bukankah sekarang anakmu sudah menjadi model cilik terkenal. Ibu yakin, duitnya pasti banyak."


Arman mendelik. Tak ada keyakinan yang terlihat di raut wajah lelaki itu. "Aku tidak yakin Nadira akan bersedia menerima aku kembali, Bu. Secara aku sudah mengecewakannya karena lebih memilih Ira si penipu itu dari pada dirinya," jawab Arman.


"Kalau dia tidak mau menerima kamu kembali, tinggal kamu ambil saja hak asuh Amara darinya. Sekarang Amara sudah bisa menghasilkan uang sendiri dan aku yakin Nadira pun tergantung hidup sama anakmu itu. Jadi, kalau Amara kamu ambil hak asuhnya, otomatis Nadira tidak bisa berkutik lagi dan mau tidak mau, ia pasti akan menerima kehadiranmu," tutur Bu Ningsih.


Arman tampak berpikir keras. Memikirkan kata-kata yang diucapkan oleh ibunya tersebut. Setelah beberapa saat, ia pun mulai mengembangkan sebuah senyuman tipis.

__ADS_1


"Ah, Ibu benar juga. Mungkin caranya terdengar kejam dan sangat memaksa. Namun, aku rasa itu ide yang cukup bagus!"


"Nah 'kan! Ayo, sekarang temui Nadira dan buat mereka kembali kepadamu," ucap Bu Ningsih mencoba menyemangati.


"Baik, Bu. Aku akan menemui Nadira secepatnya dan membicarakan masalah itu padanya," jawab Arman yang tidak kalah antusiasnya.


Beberapa hari kemudian.


Arman tampak bersiap-siap. Hari ini ia berencana menemui Nadira dan Amara. Tidak sulit menemukan di mana anak dan mantan istrinya itu tinggal, secara Amara sudah menjadi model sekaligus bintang cilik terkenal dan ada beberapa orang kenalan Arman yang tahu di mana posisi mereka saat ini.


"Jadi berangkat hari ini?" tanya Bu Ningsih tiba-tiba muncul dari balik pintu kamarnya. Wanita paruh baya itu berdiri di ambang pintu sambil memperhatikan Arman yang tengah asik membenarkan kemejanya.


Arman mendelik lalu tersenyum kecil. "Iya, Bu. Hari ini aku akan menemui Nadira dan Amara. Doa 'kan saja semuanya berjalan dengan lancar tanpa harus ada drama lain lagi. Ya, setidaknya jangan ada drama penolakan dari Nadira," jawab Arman.


"Pasti tidak, lah. Ibu yakin bahkan sampai saat ini Nadira pasti masih mengharapkan kehadiran dirimu," jawab Bu Ningsih dengan penuh percaya diri.


Arman yang sudah selesai merapikan pakaiannya, segera menghampiri Bu Ningsih yang masih berdiri di ambang pintu.


"Aamiin. Mari, Bu."


"Baiklah, hati-hati di jalan ya, Man."


"Ya, Bu."


Arman pun melenggang dengan penuh percaya diri meninggalkan kediaman sederhana milik ibunya tersebut. Sementara Bu Ningsih mengantarkan hingga ke depan rumah.


"Hmmm, semoga saja Nadira bersedia menerimamu kembali, Arman. Jujur, aku tidak sanggup jika kamu harus ikut numpang di sini. Hanya menambah beban Ririn saja. Kerjaannya tiap hari makan dan tidur. Kalau kamu kembali sama Dira 'kan setidaknya kalian masih bisa membantu kehidupan kami di sini," gerutunya dari dalam hati.


***


Setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya Arman tiba di depan ruko milik Nadira yang baru saja selesai direnovasi. Pria itu terpaku sejenak sambil memperhatikan tempat tersebut dengan penuh rasa takjub. Ia hampir saja tidak bisa mempercayai bahwa mantan istrinya itu bisa hidup mandiri dan sukses.


"Hmmm, beruntung sekali kamu, Nadira. Mungkin di balik semua peristiwa menyakitkan yang Tuhan berikan kepada kita, Tuhan sudah mempersiapkan rejeki yang melimpah ruah untuk kamu dan anak kita," gumam Arman dengan mata berkaca-kaca.


Arman menarik napas dalam lalu menghembuskannya kembali dengan perlahan. Arman lalu berjalan menghampiri ruko tersebut dengan perasaan yang campur aduk. Antara rasa senang, bahagia, sedih dan juga ketidak yakinan bahwa keinginannya kali ini akan terwujud.

__ADS_1


Arman tiba-tiba menghentikan langkahnya di depan pintu ruko. Mata lelaki itu kini tertuju pada sosok cantik berkulit putih mulus yang sedang berdiri di hadapannya.


"M-Mas Arman?"


"Nadira," balas Arman sambil tersenyum lebar. Ia masih memperhatikan sosok Nadira dengan seksama. Sekarang wanita yang pernah menemani hidupnya itu sudah benar-benar berubah. Terlihat jauh lebih cantik dan lebih menarik dari pada sebelumnya.


Daster bolong-bolong yang biasa menemaninya, kini sudah tak terlihat. Penampilan wanita itu tak kalah modis dari Nyonya Ira yang dulu pernah menjadi pujaannya.


"Mau apa Mas ke sini?" tanya Nadira dengan penuh kewaspadaan. Tiba-tiba saja terbesit di kepalanya bahwa Arman ingin mengambil hak asuh Amara darinya.


Pertanyaan yang keluar dari bibir Nadira berhasil membuyarkan lamunan Arman. Dari ekspresi raut wajah Nadira saat itu, Arman tahu bahwa Nadira tengah cemas dan tidak nyaman dengan keberadaannya di tempat itu. Ia maju beberapa langkah sembari mencoba menenangkannya.


"Jangan takut, Nadira. Aku tidak akan menyakitimu. Aku datang ke sini hanya untuk membicarakan sesuatu yang menurutku sangat-sangat penting. Boleh, 'kan?"


Nadira yang tadinya sempat ketakutan, kini merasa sedikit lebih tenang setelah mendengar penuturan oleh Arman barusan.


"Apalagi yang ingin Mas bicarakan padaku?"


"Ini soal kita ...." Arman terdiam sejenak sembari memperhatikan reaksi Nadira. "Aku berjanji tidak akan lama, Nadira. Hanya lima menit," lanjutnya dengan wajah memelas.


Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Nadira pun setuju. Ia mengangguk pelan lalu mempersilakan Arman untuk masuk ke dalam rukonya.


"Baiklah, silakan masuk. Tapi ingat, hanya lima menit saja!" balas Nadira.


Arman tersenyum lebar. Ia begitu bahagia karena Nadira menyambut kedatangannya dengan cukup baik. Ya, walaupun wajah cantik itu masih terlihat menekuk saat kedua netra mereka saling beradu.


"Ya, lima menit saja."


Arman berjalan mengikuti Nadira dari belakang. Wanita cantik itu mempersilakan dirinya untuk duduk di sebuah kursi yang tersedia di salah satu sudut ruangan lalu ikut menjatuhkan diri tak jauh dari Arman.


"Sekarang katakan, apa yang ingin Mas bicarakan padaku," ucap Nadira tanpa basa-basi.


Arman menghela napas panjang. "Nadira, sebenarnya tujuan aku ke sini hanya untuk meminta maaf padamu dan aku ...."


Arman menghentikan ucapannya lalu menatap lekat kedua netra indah wanita cantik itu. "Aku ingin kembali padamu, Nad. Aku ingin kita bisa bersama-sama lagi seperti dulu. Menjadi sebuah keluarga yang utuh. Ada kamu, aku dan anak kita, Amara ...."

__ADS_1


...***...


__ADS_2