
"Boss, kita kedatangan orang baru," ucap salah seorang wanita (anggap saja si B) berkata pada seorang wanita bertubuh tinggi besar dengan wajah sangar (anggap saja si A).
"Benarkah? Kasus apa?" tanya si A dengan wajah datar.
"Katanya sih kasus penipuan sekaligus kasus percobaan pembunuhan," jelas si C.
Tidak berselang lama, seorang sipir datang bersama seorang wanita berumur yang berjalan dengan kepala tertunduk.
"Masuklah, Bu Ira."
Wanita paruh baya yang berjalan dengan kepala tertunduk itu adalah Nyonya Ira, yang kini sudah resmi menjadi seorang tahanan di lapas tersebut.
Ira mengangkat kepalanya lalu melihat ke sekeliling ruangan sempit, pengap serta lembab itu dengan seksama. Ada beberapa wanita sangar yang usianya jauh lebih muda darinya. Yang memiliki tampang sangar dan juga beringas.
"Bu, bo-bolehkah saya minta kamar lain?" ucap Ira dengan terbata-bata. Ia ketakutan lalu menatap sipir itu dengan tatapan memelas. Berharap sipir itu mau mendengarkan serta mengabulkan keinginannya.
"Memangnya kamu mau kamar yang mana? Yang sebelah?" jawab sipir itu sambil tersenyum sinis.
Ira melirik sebuah ruangan yang terletak di sebelah sel tersebut dan ternyata penghuni di ruangan itu terlihat jauh lebih sangar dan lebih menakutkan.
Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Ira memilih ruangan yang pertama. "Ya sudah, di sini saja, Bu."
Pintu sel terbuka dan Ira pun segera masuk ke dalam sana dengan langkah ragu-ragu. Ia mengedarkan pandangannya dan mencoba mencari jarak aman dari para tahanan senior tersebut.
"Lihatlah, C! Sepertinya kita punya mainan baru," ucap si A sambil menyeringai licik.
"Kamu benar, Boss! Dan katanya wanita ini dulunya seorang sosialita. Dia pasti tidak akan betah tinggal di sini karena sudah terbiasa makan dan tidur di tempat yang enak," balas si C.
"Tapi sayang, semua itu hasil menipu dan sekarang terpaksa harus menjadi tahanan seperti kita," timpal si B.
Ketiga wanita sangar itu berjalan menghampiri Ira yang masih berdiri di salah satu pojok ruangan. Wajahnya tampak memucat karena ketakutan.
"Mau apa kalian?" pekik Ira dengan seluruh tubuh bergetar hebat.
__ADS_1
"Mau apa?" Si A tertawa lantang, lalu diikuti oleh si B dan si C.
"Kami hanya ingin memberikan sedikit pelajaran buatmu, hei, Wanita Penipu!" balas si A, masih mencoba mendekati Ira yang semakin ketakutan.
"Jangan mendekat! Jika kalian berani macam-macam, maka aku akan berteriak. Biar para sipir datang dan menghukum kalian," sahut Ira.
Ketiga wanita itu tergelak. "Menghukum kami? Kamu salah, Nyonya Kaya! Malah sebaliknya, para sipir akan senang dan berterima kasih kepada kami karena kami sudah mengurus orang-orangnya supaya lebih patuh dan tahu bagaimana peraturan di sini," jelas si A yang kini sudah berada tepat di hadapannya sambil memasang seringaian mengerikan.
"Ja-jangan!!!!"
Ketiga wanita sangar itu memberikan sedikit pelajaran kepada Ira, hingga ia tak berani macam-macam lagi di tempat itu.
Sementara itu.
"Bu, bolehkah aku minta kopi sedikit saja. Sudah beberapa hari aku tidak minum kopi dan kepalaku rasanya sakit sekali," keluh Arman sambil memijat kepalanya yang memang benar-benar terasa sakit.
"Aduh, Arman. Bukannya Ibu tidak mau kasih kamu kopi. Tapi ya, memang kopinya yang enggak ada. Semua persediaan di rumah ini sudah habis. Gula, kopi, minyak, bahkan persediaan beras pun sudah mulai menipis. Sementara Ririn masih belum mengirimkan uang gajinya kepada Ibu. Apa kamu tahu, hutang Ibu pun sudah mulai menumpuk di warung," tutur Bu Ningsih dengan wajah cemas.
Arman menghembuskan napas berat lalu mencoba memejamkan matanya sambil bersandar di sandaran sofa. Berharap bisa tidur dan rasa sakit kepalanya berkurang.
"Eh, Arman! Jangan tidur saja kerjaannya. Cari kerja atau apa, kek, yang bisa menghasilkan duit," celetuk Bu Ningsih.
"Bu, kepalaku sakit. Besok aku cari kerja lagi," jawab Arman dengan mata terpejam.
"Kalau begitu kamu makan dan minumnya besok saja! Hari ini cukup makan dan minum angin saja kalau begitu," sahut Bu Ningsih dengan kesal.
Lagi-lagi Arman menghembuskan napas berat. Ia membuka matanya kemudian duduk dengan posisi tegak.
"Ada yang tidak kamu ketahui, Arman. Sekarang Ririn sudah tidak bekerja di tempat majikannya yang dulu. Majikannya yang sekarang itu sangat pelit dan gaji pun sedikit. Mana katanya kasih gaji suka telat. Makanya sekarang mbak mu itu suka telat kirim uang ke Ibu. Mana jumlahnya berkurang jauh," keluh Bu Ningsih dengan wajah frustrasi.
"Memangnya kenapa dengan majikan lamanya? Bukankah katanya majikannya dulu baik dan pengertian," tanya Arman sambil melirik Bu Ningsih.
"Dia dituduh menggoda suami majikannya. Sebab itulah mereka mengusirnya dan sekarang bekerja di tempat yang baru," sahut Bu Ningsih.
__ADS_1
Arman tidak ingin menimpali. Ia bangkit dari posisinya lalu bersiap untuk pergi.
"Aku pergi dulu," ucapnya kemudian pergi begitu saja tanpa bersalaman ataupun menjelaskan mau ke mana ia sebenarnya.
Bu Ningsih hanya bisa geleng-geleng kepala sambil bergumam. Ya ampun, Arman-Arman. Seharusnya bilang kek, mau ke mana gitu. Ini malah main nyelonong aja."
Arman melangkah gontai. Ia berjalan tak tau arah dan tujuan. Yang ada dipikirannya saat itu hanya satu. Temukan pekerjaan dan dapatkan uang untuk memenuhi kebutuhannya.
Namun, hingga berjam-jam kemudian, Arman masih belum menemukan pekerjaan itu. Arman kelelahan. Ia memilih untuk beristirahat di depan sebuah toko sambil menahan rasa haus yang amat sangat di kerongkongannya.
Dari kejauhan, tampak seorang wanita paruh baya yang sedang kesulitan membawa barang belanjaannya. Ia melirik ke kiri dan ke kanan, mencoba mencari bantuan. Namun, ia tidak menemukan siapa pun yang dapat membantunya.
Hingga akhirnya kedua netra wanita paruh baya itu tertuju pada Arman yang masih beristirahat di depan toko milik orang lain. Wanita paruh baya itu berteriak, meneriaki Arman untuk meminta pertolongan.
"Hei, kamu! Iya, kamu! Sini," ucapnya dengan begitu antusias.
Arman bergegas menghampiri wanita paruh baya itu. "Ada apa ya, Bu?"
"Ehm, tolong bantu aku. Tolong bantu masukkan barang-barang belanjaanku ini ke dalam mobil. Mobilnya ada di seberang jalan sana," ucap wanita itu sembari menunjuk ke arah mobilnya yang berada di seberang jalan.
Arman tampak berpikir dengan alis yang saling bertaut. Setelah menimbang-nimbang, Arman pun akhirnya menyetujui permintaan wanita paruh baya itu.
"Baik, Bu."
Arman bergegas membawa barang belanjaan wanita itu lalu memasukkannya ke dalam mobil yang ada di seberang jalan. Setelah berhasil membantu wanita itu, Arman pun berniat pergi.
"Ehm, sebentar! Ini untukmu, ambillah dan terima kasih banyak atas bantuannya," ucap wanita itu kepada Arman.
"Untuk saya?"
"Ya." Wanita itu mengangguk sembari tersenyum. Ia kemudian masuk ke dalam mobilnya lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Arman menatap selembar uang yang ada di tangannya sambil tersenyum. Walaupun jumlahnya tidak banyak, tetapi Arman tetap senang dan berniat akan membeli secangkir kopi di warung seberang jalan.
__ADS_1
Dengan semangat, Arman berjalan dengan cepat menyeberangi jalan. Tanpa ia sadari sebuah truck oleng sedang melaju di belakangnya. Hingga ....
...***...