Simpanan Janda Kaya

Simpanan Janda Kaya
Di Kediaman Mewah Nyonya Ira


__ADS_3

"Selamat datang, Ibu. Mari masuk," ajak Nyonya Ira yang dengan begitu hangat menyambut kedatangan calon mertuanya.


"Ya ampun, Nak Ira. Rumahmu bagus sekali," gumam Bu Ningsih yang begitu kagum melihat kemewahan dan kemegahan bangunan yang kini ia jajaki.


Nyonya Ira tersenyum tipis. "Tentu saja, Bu. Tidak lama lagi rumah ini pun akan menjadi tempat tinggalnya Mas Arman. Itu artinya Ibu bisa berkunjung atau menginap di sini kapan pun Ibu mau," jawab Nyonya Ira yang berhasil membuat Bu Ningsih semakin terkesima kepadanya.


"Wah, benarkah itu?" Bu Ningsih dengan mata membulat sempurna.


"Ya, Bu. Benar 'kan Mas Arman?" Nyonya Ira melirik Arman yang sejak tadi hanya diam sambil melangkah di belakangnya.


Arman pun mengangguk pelan. "Ya, Bu."


"Ibu senang sekali," balas Bu Ningsih dengan wajah semringah.


"Besok kita akan berangkat, Bu. Jadi untuk malam ini Ibu bisa tidur di kamar tamu. Kemarilah, biar aku tunjukkan di mana kamar Ibu," ucap Nyonya Ira sembari menuntun Bu Ningsih menuju kamar tamu yang akan ditempati olehnya.


Arman menjatuhkan diri di sofa ruang utama dengan tatapan yang tetap tertuju pada Bu Ningsih dan Nyonya Ira yang kini berjalan menuju kamar tamu. Ia menghembuskan napas berat kemudian memijit pelipisnya yang terasa berdenyut-denyut.


"Maafkan aku Nadira karena sudah berbohong padamu. Bahkan Ibu pun ikut-ikutan andil dalam kebohongan ini. Seandainya cobaan di hidup kita tak serumit ini, mungkin aku tidak akan pernah sudi melakukan ini," gumam Arman.


Sementara itu.


Nyonya Ira dan Bu Ningsih sudah tiba di kamar yang akan ditempati oleh Bu Ningsih. Nyonya Ira membuka pintu ruangan tersebut lalu mempersilakan Bu Ningsih untuk masuk.


"Masuklah, Bu. Sekarang Ibu bisa beristirahat di kamar ini. Bagaimana kamarnya, Ibu suka?" tanya Nyonya Ira.


"Ya, Nak Ira. Ibu sangat-sangat menyukainya," jawab Bu Ningsih dengan begitu semringah.


"Oh syukurlah kalau begitu. Silakan beristirahat, jika butuh sesuatu jangan sungkan untuk bicara sama saya," ucap Nyonya Ira kemudian.


"Oh, tentu saja, Nak Ira. Terima kasih banyak, kamu memang calon menantu terbaik Ibu," jawab Bu Ningsih.


Nyonya Ira segera pamit. Ia berjalan menuju pintu kamar tersebut. Wanita itu sempat melirik kembali Bu Ningsih lalu memutarkan bola matanya. Sementara Bu Ningsih sendiri tidak menyadarinya. Ia sibuk memperhatikan sekeliling kamar sambil berdecak kagum.

__ADS_1


"Ya ampun, kamar ini nyaman sekali. Berbeda dengan kamarku yang kalau cuaca panas bikin pengap, kalau cuaca dingin sudah seperti berada di dalam kulkas. Hmmm, kalau di sini adem sekali. Lama-lama di sini juga aku betah," gumam Bu Ningsih sambil tersenyum lebar.


Wanita paruh baya itu menjatuhkan dirinya di atas kasur empuk yang ada di dalam kamar tersebut. Matanya terus menyapu seluruh ruangan yang bernuansa serba putih itu sambil tersenyum lebar.


"Enak sekali, mataku sampai ngantuk dibuatnya," lanjut Bu Ningsih.


Di saat ia masih mengagumi kamar yang ia tempati, tiba-tiba ponsel miliknya bergetar. Ia meraih ponsel tersebut lalu memperhatikan siapa yang tengah menghubunginya.


"Ririn! Ah, kebetulan sekali!" pekik Bu Ningsih.


Bu Ningsih segera menerima panggilan dari anak pertamanya itu. Ia meletakkan ponselnya di samping telinga lalu menyapa wanita tersebut.


"Rin!"


"Bagaimana kabar Ibu?" tanya Ririn - kakak perempuan Arman yang bekerja sebagai TKW di luar negeri.


"Baik, Rin. Kebetulan sekali kamu menghubungi Ibu. Ada sesuatu yang ingin Ibu bicarakan. Tapi sebentar, coba perhatikan ini! Kira-kira Ibu sedang berada di mana, ya?"


Bu Ningsih mengalihkan panggilan mereka menjadi video call. Ia memperlihatkan sekeliling kamar tersebut kepada anak perempuannya itu sambil tersenyum bangga.


"Ish, hotel mana? Memangnya ngapain Ibu cek in di hotel segala?"


"Trus, di mana?"


"Ibu tengah berada di rumah calon istrinya Arman. Lusa mereka akan mengadakan resepsi pernikahan mewah di hotel berbintang yang terkenal di kota kita. Jadi, menunggu hari itu, Ibu di ajak nginap di kediamannya," jelas Bu Ningsih dengan bangga.


"Apa? Calon istri Arman? Jadi maksud Ibu, Arman akan menikah lagi? Trus, bagaimana dengan Nadira?" pekik Ririn dengan mata membulat sempurna.


"Iya, Arman akan segera menikah. Nadira sih tidak tahu sebab pernikahan ini 'kan dirahasiakan," ucap Bu Ningsih.


"Tapi kenapa begitu, Bu? Apa Ibu tidak kasihan sama Nadira? Ya Tuhan, tiba-tiba aku teringat akan nasibku sendiri, Bu. Di mana aku dikhianati oleh suamiku," lirih Ririn dengan wajah sedih.


Bu Ningsih membuang napas kasar. "Arman tidak mengkhianati Nadira. Semua ini terpaksa ia lakukan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Lagi pula calon istri Arman ini seorang janda kaya raya, Rin. Ia bahkan bersedia menanggung kebutuhan Nadira dan Amara, selama Arman menjadi suaminya. Hayo, kurang baik apa dia coba?" celetuk Bu Ningsih.

__ADS_1


Ririn menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kenapa Ibu baru bercerita sekarang?"


"Kamu gak menghubungi Ibu. Kamu tahu sendiri 'kan, Ibu gak mau ganggu pekerjaan kamu di sana, takut majikan kamu marah," sahut Bu Ningsih lagi.


"Ya sudah kalau begitu. Selamat lah buat Arman, moga pernikahan mereka langgeng aja. Oh ya, titip salam buat Arman ya, Bu."


"Ya, nanti Ibu sampaikan."


Setelah Ririn memutuskan panggilannya, Bu Ningsih pun segera melanjutkan istirahatnya.


Sementara itu.


Nyonya Ira tiba di ruang utama. Dia duduk di samping Arman yang sejak tadi hanya diam tak bersuara.


"Sudahlah, Mas. Sebenarnya apa yang kamu khawatirkan? Kamu masih bisa menemui Nadira dan Amara seperti biasa setelah kita menikah. Kebutuhan kalian, aku yang jamin dan aku pun tidak meminta agar kamu menceraikan Nadira, 'kan?" celetuk Nyonya Ira sambil mengelus pundak Arman.


"Iya, aku tahu, Nyonya. Tapi—"


Ucapan Arman tertahan saat jari telunjuk Nyonya Ira menyentuh bibir sensualnya.


"Jangan panggil aku dengan sebutan Nyonya lagi, Mas. Sebentar lagi aku akan menjadi istrimu. Panggil aku dengan sebutan sayang atau apalah, tetapi jangan panggil aku dengan sebutan Nyonya."


Arman menghembuskan napas berat. "Maafkan aku, Sayang. Aku lupa," jawab Arman.


"Sudah, jangan bersedih-sedih lagi, Mas. Ingat! Aku tidak ingin di hari istimewa kita, wajahmu tetap terlihat seperti ini. Semua sahabat, teman-teman, serta kolegaku hadir. Jadi, jangan permalukan aku di hari itu," tegas Nyonya Ira.


"Baiklah," jawab Arman tampak pasrah.


Nyonya Ira merebahkan kepalanya di pundak Arman. "Malam ini Mas Arman sudah harus tidur bersamaku."


"Tapi, kita belum sah menjadi suami istri, Sayang. Tidak bisa kah kita tidur bersama setelah menikah saja? Untuk malam ini aku bisa tidur di sofa, tidak apa-apa," tolak Arman dengan halus.


"Tidak bisa! Pokoknya malam ini kamu harus tidur bersamaku. Titik!" tegas Nyonya Ira lagi.

__ADS_1


...***...


__ADS_2