
Arman melangkah dengan gontai memasuki pekarangan kediaman orang tuanya. Ia tampak lesu dan tidak bersemangat. Melihat putranya tiba, Bu Ningsih pun bergegas menghampiri.
"Bagaimana, Arman? Apa kamu berhasil membujuk Nadira untuk kembali padamu?" tanya Bu Ningsih dengan begitu antusias.
"Huft!" Bukannya menjawab pertanyaan ibunya tersebut, Arman malah meneruskan langkahnya memasuki rumah sederhana itu.
"Arman, kamu dengar kata Ibu gak, sih?" kesal Bu Ningsih.
"Iya, dengar, Bu."
"Lalu kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan Ibu?"
"Sebentar, Bu. Aku lelah, biarkan aku bernapas terlebih dahulu," jawab Arman sembari menjatuhkan dirinya di sofa ruang depan lalu memejamkan matanya.
Bu Ningsih tersenyum sinis. "Bernapas! Memangnya tadi kamu gak bernapas, ya?" celetuknya dengan kesal.
Arman kembali membuka matanya. Ia menatap Bu Ningsih yang kini juga duduk di sofa tersebut dengan wajah sendu.
"Bu, semua rencanaku gagal. Nadira menolak kembali padaku dan memilih menikah dengan pria lain yang jauh lebih kaya. Lihatlah, aku malah diundang ke pesta pernikahan mereka," ucap Arman sembari menyerahkan kartu undangan yang diberikan oleh Nadira kepadanya.
"Apa? Ditolak!" pekik Bu Ningsih. Wanita paruh baya itu segera meraih kartu undangan tersebut dengan sangat kasar. Ia lalu membaca tulisan yang tertulis di sana dengan begitu serius.
"La-lalu bagaimana denganmu? Apa kamu akan terus seperti ini, Arman?!" lanjut Bu Ningsih dengan mata membulat menatap Arman.
"Ya, mau bagaimana lagi, Bu. Berilah aku waktu, aku akan cari pekerjaan," sahut Arman dengan lirih.
"Hhh, pekerjaan apa? Palingan juga jadi buruh lagi. Itu pun kalo diterima, kalo tidak? Ya, jadi pengangguran! Kasihan Ririn, bebannya bertambah lagi," ucap Bu Ningsih sambil mendengus kesal.
Ia bangkit dari posisinya lalu berjalan menuju dapur.
__ADS_1
"Bu, tolong buatin aku kopi. Aku haus, sejak tadi belum minum apa-apa," pinta Arman dengan wajah memelas.
"Tidak ada kopi! Gula juga sudah habis!" sahut Bu Ningsih sambil terus melanjutkan langkahnya. Setibanya di dapur, Bu Ningsih segera meraih gula, kopi, teh dan lain sebagainya lalu dimasukkan ke dalam lemari. Tak lupa, ia juga menguncinya agar Arman tidak bisa mengambilnya.
"Kalau mau makan dan minum dengan enak, ya bekerja! Biar kamu tahu bagaimana perjuangan Ririn di negeri orang," gumam Bu Ningsih sendiri.
***
Hari pernikahan Nadira dan Andrew pun tiba. Pernikahan yang dilangsungkan dengan sangat meriah. Nadira didandani layaknya seorang ratu, begitu cantik dan anggun dengan balutan gaun pengantin yang ia rancang sendiri.
Andrew pun tidak mau kalah. Lelaki itu terlihat begitu tampan dengan balutan tuxedo mahal berwarna senada dengan gaun pengantin yang dikenakan oleh Nadira.
Pun Amara, gadis mungil nan cantik itu tidak mau ketinggalan. Ia mengenakan gaun yang hampir mirip dengan gaun milik sang Ibu, tetapi dengan ukuran dan design yang lebih simpel dan sesuai dengan tubuhnya yang mungil.
Di tengah kemeriahan pesta pernikahan Andrew dan Nadira, sepasang mata sejak tadi memantau kebahagiaan pasangan itu dari jarak yang cukup jauh. Dia adalah Arman. Lelaki itu duduk di salah satu meja tamu yang berada di pojok paling jauh.
Lelaki itu berbaur dengan banyaknya tamu yang hadir ke pesta tersebut. Pesta yang dihadiri oleh tamu-tamu dari kalangan atas. Karena merasa minder, Arman pun memilih meja tersebut.
Arman memperhatikan keluarga besar Andrew yang kini tengah berfoto-foto ria di atas pelaminan bersama pasangan pengantin itu. Tidak ketinggalan anak semata wayangnya, Amara yang terlihat begitu bahagia bersama mereka. Gadis mungil itu bahkan terlihat begitu dekat dengan Tuan Bian, yang kini menjadi kakeknya.
"Beruntung sekali kamu, Nak. Semoga kamu selalu bahagia dan menjadi anak yang sukses. Jangan pernah lupakan Ayah, ya, Sayang," gumamnya lagi dengan mata berkaca-kaca. Bahkan beberapa bulir kristal itu berhasil lolos dari sudut mata Arman.
Setelah puas menyaksikan kemeriahan pesta pernikahan mantan istrinya itu, Arman pun berniat pulang tanpa berpamitan kepada siapa pun. Ia berjalan gontai, keluar dari bangunan megah itu. Namun, tiba-tiba langkahnya tertahan setelah mendengar suara mungil yang memanggilnya dari belakang.
"Ayah! Ayah!"
Arman berbalik lalu berjongkok dan siap menyambut tubuh mungil yang kini sedang berlari ke arahnya. "Amara, anakku!"
"Ayah!" seru gadis mungil itu yang kemudian memeluk tubuh Arman dengan begitu erat.
__ADS_1
Tangis Arman pecah. Pria itu terisak sambil memeluk putri kecilnya itu. Melihat sang ayah menangis, Amara pun segera melerai pelukan mereka.
"Kenapa Ayah menangis?" tanyanya sambil menyeka air mata Arman dengan sangat lembut.
"Ayah menangis bahagia, Nak. Ayah turut bahagia melihat kebahagiaan kamu dan Ibu kamu," sahut Arman.
Tiba-tiba Laras datang dan berdiri tepat di depan Arman. "Mas Arman," sapanya.
Arman tersenyum kecut. Ia bangkit dari posisinya kemudian mengangkat tubuh mungil Amara dan menggendongnya.
"Laras, tolong jangan ceritakan tentang kehadiranku kepada Nadira," ucapnya kemudian menyerahkan Amara kepada wanita itu.
"Memangnya kenapa, Mas? Lagi pula Nadira tidak akan marah, kok. Dia pasti senang melihat Mas Arman bisa hadir di pesta pernikahannya," sahut Laras.
"Tidak! Tidak usah, aku malu." Arman menghembuskan napas berat.
"Amara, jangan nakal, ya! Jadilah anak yang baik," ucap Arman sembari membelai lembut puncak kepala anak perempuannya itu.
"Siap, Ayah!" jawabnya sambil tersenyum manis.
Sebelum pergi, Arman mencium kedua pipi mungil Amara lalu berpamitan.
"Beneran, Mas tidak ingin menemui Nadira?" tanya Laras lagi.
"Ya, tidak usah." Arman melambaikan tangan lalu kembali melanjutkan langkahnya keluar dari tempat itu. Amara dan Laras masih menatap punggung Arman yang semakin menjauh dengan tatapan sedih.
"Mas Arman?" Budi, suami Laras datang menghampiri. Ia berdiri di samping Laras dan ikut menatap kepergian Arman.
"Ya, Mas. Itu Mas Arman," jawab Laras.
__ADS_1
***