Simpanan Janda Kaya

Simpanan Janda Kaya
Arman Putus Asa


__ADS_3

"Tidak usah mengelak lagi, Ira. Lelaki ini sudah mengakui semua perbuatannya. Termasuk soal kecelakaan itu," ucap Tuan Bian.


"Demi Tuhan, aku tidak mengenalnya!" Nyonya Ira masih mencoba mengelak padahal semua bukti sudah mulai menyudutkan dirinya.


"Kamu pasti tahu, Ira. Lelaki ini sengaja kamu suruh untuk membuat rem mobilku tak berfungsi hingga kecelakaan itu pun terjadi. Namun, saat itu aku masih bisa menyelamatkan diri walaupun aku mengalami luka-luka. Di saat aku mencoba keluar, tiba-tiba ia datang lalu memukuliku. Ia menghidupkan kembali mesin mobil dan mengarahkannya ke jurang di saat aku sudah tidak berdaya. Tepat di saat-saat itulah dia sempat menyebutkan namamu, yang ternyata menjadi dalang atas kecelakaan itu," tutur Tuan Bian sambil tersenyum kecil.


Nyonya Ira menggelengkan kepalanya. "Tidak! Itu tidak benar! Itu sama sekali tidak benar," teriaknya dengan panik.


Bukan hanya Nyonya Ira yang begitu syok, Arman pun tidak kalah syok setelah mendengar penuturan tuan Bian tersebut.


"A-apa itu benar, Ira?" tanyanya.


"Tidak! Itu tidak benar, mereka semua sudah gila!" elak wanita itu.


Beberapa orang anggota kepolisian datang menghampiri Nyonya Ira dan memegangi kedua tangannya. Namun, wanita itu tidak tinggal diam. Ia terus mencoba melepaskan diri dari cengkeraman para petugas kepolisian itu dan berteriak-teriak bahwa dirinya tidak bersalah.


"Aku tidak bersalah! Semua ini hanya kebohongan yang sengaja diciptakan oleh lelaki tua itu," ucapnya dengan geram.


"Diamlah, Nyonya! Sebaiknya Anda jelaskan semuanya di kantor!" tegas salah satu polisi sembari menyeret wanita itu keluar dari rumah megah itu dan membawanya ke kantor polisi untuk dimintai keterangan bersama lelaki suruhannya.


Arman segera menghampiri tuan Bian lalu menangkupkan kedua tangannya ke hadapan lelaki tua itu.


"Tuan, siapa pun Anda! Saya mohon, tolong jangan bawa istri saya. Saat ini dia tengah mengandung anak kami," ucap Arman dengan lirih.


Mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Arman barusan, Tuan Bian pun tergelak. "Apa kamu bilang, dia hamil?"

__ADS_1


"Arman-Arman! Kamu memang benar-benar polos. Kamu bahkan begitu mudah ditipu oleh wanita itu. Bagaimana dia bisa hamil, sementara rahimnya sudah diangkat beberapa tahun yang lalu karena penyakit yang menggerogotinya," lanjut Tuan Bian yang berhasil membuat Arman terpelongo mendengarnya.


"Apa? Ja-jadi selama ini dia hanya membohongiku?" sahut Arman dengan terbata-bata.


"Ya, bukankah sudah aku katakan sebelumnya padamu, Arman. Aku merasa kasihan padamu karena sudah silau oleh batu jalanan yang dipoles menyerupai sebongkah berlian. Padahal berlian yang sebenar-benarnya sudah kamu miliki dan sekarang kamu campakkan begitu saja," tutur Tuan Bian.


Arman tertunduk sedih. Ia bingung harus bagaimana sekarang. Selama ini ia sudah terlalu enak menggantungkan hidup kepada Nyonya Ira, sampai rela melepaskan anak dan istri sahnya.


"Sekarang pergilah," titah Tuan Bian sembari menunjuk ke arah pintu.


Arman merasa malu karena sebelumnya sempat mencoba mengusir lelaki tua itu, yang tidak lain adalah pemilik asli rumah megah yang ia tempati bersama nyonya Ira.


Arman mengangguk pelan lalu membalikkan badan dan keluar dari rumah itu. Sepeninggal Nyonya Ira dan Arman, rumah itu pun segera dibersihkan dan ditutup rapat. Tuan Bian berencana menjualnya. Ia tidak ingin mengingat apa pun lagi soal wanita itu dan yang lainnya.


Dengan langkah gontai, Arman melenggang pergi dari rumah itu tanpa membawa apa pun. Termasuk motor yang pernah dibelikan oleh Nyonya Ira dahulu. Semuanya disita karena merupakan hak milik tuan Bian. Arman hanya meminta sebuah kartu nama milik salah satu teman Nyonya Ira yang ia simpan dahulu untuk ia bawa pulang bersamanya.


Sekarang tujuan Arman hanya satu, ke tempat ibunya. Hanya wanita itu lah satu-satunya harapan Arman di saat terpuruk dan terjatuh seperti sekarang ini.


Satu jam kemudian.


Lelaki itu akhirnya tiba di depan kediaman Bu Ningsih. Kebetulan saat itu Bu Ningsih tengah asik berbincang dengan salah satu tetangganya. Wanita paruh baya itu tengah asik membicarakan soal menantu kesayangannya. Yang kaya raya, yang selama ini menjadi saluran dana terbesarnya.


Jika Bu Ningsih tampak begitu semangat membangga-banggakan menantunya, berbeda dari wanita yang diajaknya bicara. Ia tampak malas-malasan mendengarkan celetukan dari wanita paruh baya itu.


Namun, perbincangan mereka terhenti seketika ketika Bu Ningsih melihat sosok Arman yang datang menghampirinya dengan wajah masam dan terlihat begitu frustrasi. Bu Ningsih bergegas menghampiri Arman dan meninggalkan wanita yang tadi menjadi lawan bicaranya.

__ADS_1


"Arman, apa yang terjadi padamu? Kenapa wajahmu terlihat kusut begitu?" tanya Bu Ningsih dengan kedua alis yang saling bertaut.


"Aku ingin bicara sama Ibu," sahut Arman sambil mengusap wajahnya dengan kasar lalu kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah milik Bu Ningsih.


Melihat kecemasan dari raut wajah Arman saat itu, Bu Ningsih sadar bahwa ada sesuatu yang tidak beres dari anak lelakinya itu. Ia bergegas pamit kepada wanita yang tadi bicara padanya lalu segera menyusul Arman yang kini sudah berada di dalam rumahnya.


"Ada masalah apa lagi anak itu. Kenapa wajahnya masam sekali," gumam Bu Ningsih.


Setibanya di ruang depan, Bu Ningsih segera menjatuhkan dirinya di sofa yang ada di ruangan tersebut. Di mana Arman sudah duduk di sana sambil bersandar.


"Kamu kenapa lagi, Arman? Mana mobilmu, kenapa kamu kemari dengan jalan kaki?" tanya Bu Ningsih heran.


Arman menghela napas berat. "Aku sedang dalam masalah, Bu."


"Masalah? Masalah apa lagi? Jangan bilang kalau kamu lagi marahan sama istrimu, ya! Jangan begitu, Arman. Seharusnya kamu itu mengerti! Mengalah lah, kan selama ini dia yang menjamin kehidupan kita," tutur Bu Ningsih sembari mencoba mengingatkan Arman.


"Bukan itu, Bu. Ini bahkan lebih parah dari itu," jawab Arman dengan wajah cemas.


"Lebih parah? Arman, kamu jangan bikin takut, ya!"


"Serius, Bu. Aku baru saja diusir. Pemilik asli rumah mewah itu ternyata bukanlah Ira, melainkan tuan Bian, mantan suami Ira dahulu. Ira melakukan penipuan dan mengakui bahwa semua itu adalah miliknya dan ternyata itu hanyalah sebuah tipuan belaka. Dan bukan hanya itu saja, Ira pun terlibat kasus yang sangat berat," tuturnya dengan lemas dan tak bersemangat sedikit pun.


"Jangan bercanda kamu, Arman!" pekik Bu Ningsih dengan mata melotot menatap anak lelakinya itu.


"Aku tidak bercanda, Bu. Ira baru saja digiring ke kantor polisi untuk dimintai keterangan soal penipuan dan kejahatan yang telah ia lakukan kepada mantan suaminya itu," lanjut Arman.

__ADS_1


"Ji-jika benar yang apa kamu katakan barusan, itu artinya tambang emas kita akan segera lenyap dan kita tidak bisa bersenang-senang lagi. Oh ya, Tuhan!" pekik Bu Ningsih dengan wajah panik.


...***...


__ADS_2