
Boy sungguh tidak menyangka jika keberuntungan berpihak secara beruntun datang padanya. Ia mengingat semenjak sistem kurir yang ajaib itu tiba-tiba ada di ponselnya. Kehidupannya sedikit demi sedikit berubah. Kesedihan dan kegagalan rumah tangganya yang mana menyisakan kekecewaan dan sakit hati mendalam. Memang belumlah pria tampan berwajah bak manekin ini lupakan seluruhnya. Justru, sistem seakan memberi hiburan dengan memberi hal-hal yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Boy, Memiliki motor yang dulu pernah hanya berani ia impikan dalam tidurnya. Menebus kembali rumah peninggalan mendiang orangtuanya yang mana telah digadaikan oleh Lilian. Kini, ia bisa menginjakkan kaki di sebuah hotel ternama. Dinner dengan jamuan restoran bernuansa elit kalangan kelas atas. Di dampingi seorang wanita cantik yang menjadi owner hotel bintang tiga.
Satu hal lagi yang membuat Boy tak percaya adalah, di hadapannya kini terpampang nyata dan jelas. Susan Kimberley dengan gayanya yang anggun serta alunan suara merdu yang selama ini hanya dapat Boy lihat dalam gadgetnya. Pahatan maha sempurna dari sang maha sempurna. Membuat sepasang iris pekat Boy menatap lekat tak bergeser sedikit pun.
Ternyata gerak gerik dan senyum yang terus terpatri di wajah tampan Boy, membuat Paula resah, ia sedikit tak nyaman dengan tatapan kagum Boy yang berlebihan terhadap penyanyi solo cantik asal negara Korea selatan itu.
Paula menikmati makan malam romantis dengan sedikit perasaan tak rela. Entahlah, perasaan apa yang ia miliki untuk pria yang baru dikenalnya sehari ini.
Kau tidak tau saja Paula. Bahkan, perkenalan kalian saja sudah hampir membuat Boy kami mati!
"Boy," panggil Paula lembut, membuat kepala Boy akhirnya menoleh kearahnya.
"Ah, ya. Ada apa Paula? Apa kau ingin memesan makanan yang lain. Pesan saja, kebetulan saya bawa uang. Jadi, jangan khawatir," tawar Boy ramah, dan pria ini kembali menengok ke atas panggung. Tentu saja hal itu membuat satu desah panjang keluar dari mulut Paula.
'Kau sangat tidak peka, Boy. Apa segitu besar rasa kagummu pada Susan? Haih, bodoh kau Paula. Tentu saja iya. Pria mana yang bisa mengalihkan pandangannya dari penyanyi cantik dengan wajah menarik seperti Susan.' batin Paula merutuki dirinya sendiri.
Untuk kali pertama dalam hidupnya, tersirat rasa kesal di hatinya untuk Susan Kimberley. Padahal selama ini Paula sangat memuji dan memuja salah satu artis K-Pop yang tengah naik daun itu. Bahkan, Paula bermimpi dapat mengundang Susan untuk tampil di acara hotelnya nanti. Tapi, apa mau di kata. Jadwal penyanyi itu sangatlah padat. Bahkan, sudah penuh untuk satu tahun ke depan.
Lagu yang di bawakan Susan sangat mendayu dan mengena sekali pada kedua pasangan yang berbeda level ini. Boy yang memang mengerti bahasa dari lirik lagu yang di bawakan Susan sampai memejamkan mata dengan senyum indahnya yang terbit sesekali dari wajahnya.
...Aku sangat menyukainya....
...Memandangmu hati berdebar....
...Bahkan saat aku cemburu buta....
__ADS_1
...Semua kenangan yang sederhana....
...Dalam keabadian yang gelap....
...Dalam penantian yang panjang....
...Seperti cahaya matahari, kau datang padaku....
Boy dan Paula meresapi lirik lagu tersebut, yang mana mewakilkan perasaan mereka pada orang yang berbeda. Boy mengartikan lirik lagu itu sebagai perasaannya pada Susan. Perasaan aneh dan harapan yang bodoh baginya. Bukankah ia nampak bagai pungguk yang merindukan bulan.
Sementara, Paula merasa bahwa kehadiran Boy Mempu memberi warna lain dalam hidupnya. Kesederhanaan serta kesopanan Boy membuat kekecewaan terhadap sikap kasar seseorang terhempas begitu saja. Boy perlahan mengobati luka. Dan mengembalikan kepercayaannya lagi terhadap makhluk yang bernama pria.
Tanpa keduanya sadari, tatapan mata elang dari sudut restoran yang sengaja di buat remang. Mengintai mereka sejak tadi tanpa kedip. Rahang kanan dan kiri nya mengeras dan bergemeletak. Kedua tanahnya mengepal di atas meja. Ingin rasanya ia menghampiri keduanya lalu menarik Paula ke dalam pelukannya. Ia, begitu merindukan wanita yang telah memutuskan cintanya begitu saja.
"Lakukan sekarang. Aku sudah muak!" Pria tersebut pun bangkit dan berlalu, diikuti oleh dua orang pengawalnya. Ketika sampai di sebuah tempat belakang restoran yang sepi. Pria berahang tegas itu mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jubahnya. Sebuah senjata yang di genggam macam cincin dengan ujung tajam dan runcing. Mungkin, ia berniat menghancurkan wajah tampan Boy dengan memukulinya. Pasti hancur tak berbentuk. Secara benda itu sangat menyeramkan. Dasar, psikopat!
"Cia, salah satu penonton pria di depan. Kau perhatikan tidak?" tanya Susan saat ia telah berada di ruang tunggu khusus miliknya. Ia terlihat merapikan make up yang dibantu oleh stylish.
"Yang mana, Nona?" tanya Cia sang manager heran.
"Yang duduk paling depan, bersama dengan wanita cantik berambut panjang. Pria itu terus menatapku dengan teduh, Cia. Tidak seperti penggemarku yang lain. Yang mana mata mereka selalu menatapku penuh gairah dan napsu. Menjijikkan!" jelas Susan, membuat Cia langsung memutar rekaman dari gadgetnya.
"Apa pria ini yang kau maksud?" tunjuk Cia. Membaut Susan seketika mengangguk dengan seulas senyum ketika layar tablet tersebut menampilkan wajah ramah Boy, tentu saja dengan senyumnya yang menawan.
"Mata anda jeli juga, Nona. Bahkan, lampu sorot beberapa kali mengambil gambarnya. Pria ini sangat tampan. Namun, kesederhanaan hidup dan hatinya tercetak jelas pada raut dan aura wajahnya. Pria ini, pasti banyak wanita yang menyukainya. Bukankah, yang sebelahnya itu pasti kekasihnya?" tebak Cia, yang seketika membuat senyum di wajah Susan redup. Bahkan bibir mungil merah merona miliknya mencebik ke depan.
_____
__ADS_1
CIILUUNGG!
Tiba-tiba sebuah notif berbunyi dari ponsel android milik Boy.
[ Sebuah Misi datang! Maaf sudah menggangu kencan anda! Antarkan paket buket bunga untuk Susan. Akan tetapi anda perlu mengontrol emosi dan selesaikan semua masalah dengan smart. Tidak boleh ada pertumpahan darah. Ambil misi, maka kekuatan dan kekayaan anda akan bertambah tanpa anda sadari itu seperti apa. Bonus! Kenalan sama Susan! Ciee ... senang kan! ]
TLINIING!
[ Jika gagal. Maka, kekuatan dan ketampanan anda kembali pada level bronze.]
Boy yang mengintip pesan sistem dari kolong meja, tersenyum sinis. ' Lama-lama ni sistem bikin kesel juga. Kerjaannya ngancem Mulu! Udah tau orang lagi kencan pake di kasi misi. Emang gak bisa besok apa!' Boy memendam gram sekaligus kesal. Apalagi ancaman sistem akan membuat semua menjadi kembali awal jika dirinya gagal. Meskipun, Sistem tidak jelas mengatakan misinya apa kali ini. Makin kesini, sistem sering main rahasia-rahasiaan. Walaupun begitu, Boy akui. Hadiah dari sistem tak mungkin asal apalagi main-main.
"Kenapa, Boy! Apa ada masalah?" tanya Paula penuh selidik. Namun, pertanyaannya di jawab Boy dengan gelengan kepala.
'Apa itu dari pacarnya?' batin Paula risau.
Dia itu duren, Paul!
"Saya ijin ke toilet sebentar ya," ucap Boy pamit, tak lupa ia sematkan senyum menawannya yang mana membuat Paula salah tingkah.
Boy meninggalkan Paula ke toilet. Ia harus berjalan-jalan sekitar restoran hotel tersebut dan mencari paket bunga yang harus ia kirim ke ruangan Susan. Entahlah masalah yang menurut sistem harus diselesaikannya saat ini juga itu apa.
"Pria itu justru mendatangai kita, Tuan. Mungkin, dia berniat mencari angin." lapor seorang pengawal melalui earphone.
"Tarik paksa dia kesini! Aku sudah tidak sabar ingin menghancurkan kesombongannya!"
Bersambung
__ADS_1