
PRUUTT!
"Uhuk. Uhuk!" Sementara di tempat lain, pemuda yang bernama David dengan rambut silver pendeknya itu tengah terbatuk-batuk.
"Ini siapa yang lagi nyebut nama gua sih? Sampe keselek gini." David meraih gelas berisi air putih yang diberikan si babeh pemilik warung kopi. Wajah pemuda itu memerah.
"Makanya banyakin nyebut jadi orang tong!" celetuk babeh.
"But. But ... gitu kan, Beh!" ledek David yang mana sudah lebih baik. Memang dasar anak kurang ajar. Kalau di kasi tau pasti meledak saja kerjaannya.
"Udeh malem, pulang Sono lu tidur! Nyari duit Mulu kaya kagak tipes iye!" oceh sang pemilik warung kopi itu mengingatkan David.
"Bener juga, Beh. Pulang ah! Nih, bayaran buat kopi sama mi gorengnya. Malam ini lumayan banyak yang ngasih tip." David menyerahkan lembaran uang kertas berwarna hijau kepada Babeh sang pemilik warkop. Tentu saja hal itu disambut dengan senang dan senyum yang lebar. Pasalnya, David biasanya bakalan kasbon alias berhutang.
"Biar sering-sering deh, dapet customer yang baek!" celetuk si babeh lagi. Setelah David pergi, pria tua berbadan gemuk itu pun menutup warungnya. Lalu ia masuk kedalam rumah yang berada di belakang kios kecilnya. Sebuah petakan yang hanya cukup untuknya dan juga sang istri saja. Sementara, anak-anaknya telah hidup dengan keluarganya masing-masing.
Ketika berbelok gang yang menuju rumah sederhananya, seketika David mencengkeram rem motornya secara mendadak.
Ckiiittt!
BRUGH!
"Kuntilanak!" teriak David ketika di hadapannya ini terdapat seorang yang mirip anak gadis namun mengenakan daster pendek di atas lutut. Sementara rambut panjangnya yang berwarna hitam sepunggung di biarkan tergerai begitu saja.
__ADS_1
Napas nya memburu lantaran kaget. Tapi, gadis yang melintas di depannya begitu saja ini, hanya menoleh kearahnya dengan tatapan sinis. Gadis itu berdiri dan berpaling mendekat ke arahnya. Pada saat itulah, David dapat melihat seluruh wajah gadis muda itu dengan jelas.
"Ya ampun, cakep." celetuk David kelepasan.
"Heh! Apaan Lo! Bisa gak bawa motornya selow dikit!" hardiknya marah dengan kedua mata bulatnya yang melotot.
"Ya ampun, serem!" ucap David lagi Bahkan sedikit bergidik.
"Udah malem, Neng. Biasanya juga ni jalan sepi. Ngapa tau si Eneng tiba-tiba nyebrang. Untung aja rem motor gua pakem," dalih David membela diri.
"Alasan! Lo emang selalu ngebut kalo bawa motor lewat sini!" serunya penuh emosi, sambil menggendong seekor anak kucing yang gemetar ketakutan.
'Apa dia tadi nyebrang, gara-gara mau nyelametin itu anak kucing itu ya?' batin David menduga.
"Ngeles aja Lo terus! Awas, gua tandain Lo!" ancam gadis manis tapi tomboi itu. Rambutnya yang panjang berbentuk segi tersibak angin malam. Bibirnya yang tipis membuatnya terlihat sedikit jutek. Belum lagi bentuk matanya yang panjang. Sebuah pasangan yang sempurna untuk membentuk sifat tegas dan berani dari dirinya.
"Ye, Maaf! Cantik-cantik jangan judes, nanti jodohnya jauh. Hahaha!" Setelah meledek, David berlalu dengan cepat. Membuat gadis cantik nan tomboi berdecak kesal.
"Kalo gak salah, tadi kan Agnes anaknya, Pak Bonar. Perasaan dulu nya kecil pendek item. Kenapa sekarang jadi cantik bener." David bergumam seraya terus menyunggingkan senyumnya.
Di waktu yang sama di tempat yang berbeda.
Kini, Boy telah sampai didepan rumah yang terdapat didepan komplek perumahan elit. Paula yang turun kembali kesusahan ketika hendak membuka helmnya. "Perasaan, tadi udah gampang banget. Masa nyangkut lagi?" bingung Boy. Tak ayal dirinya kembali mendekati Paula fan membantu membuka helm tersebut. Sepersekian detik pandangan dari kedua mata mereka saling beradu. Menciptakan aliran listrik yang menyengat hingga ke pori-pori. Membuat seluruh tubuh tiba-tiba merinding di tengah malam dingin seperti ini. Boy, berusaha mengalihkan pandangan agar pikiran kotornya juga teralihkan.
__ADS_1
Klik!
"Huft, akhirnya." Boy pun dapat bernapas lega ketika helm tersebut bisa di lepas.
"Boy, kamu senagaja kan?" celetuk Paula yang mana lantas membuat Boy melongo heran.
"Eh, sengaja gimana?" tanya Boy.
"Sengaja, bikin helmnya susah dibuka. Biar kamu bisa berdiri dengan jarak lebih dekat sama aku, iya kan? Udah dia kali Lo kayak gitu! Tadinya, aku pikir itu kebetulan, tapi ternyata ... semuanya memang kamu rencanakan," tebak Paula dengan senyum penuh arti. Kalimatnya barusan seketika menyentak Boy.
"Eh, gak gitu beneran!" tampik Boy, hal itu justru membuat Paula tertawa malu-malu.
"Bener juga gapapa kok, aku malah senang," ucap Paula seraya berjalan semakin mendekat. Hingga tubuh keduanya kini berjarak sekitar satu jengkal saja.
"Aku seneng deket sama kamu, Boy. Hari ini, aku malah bahagia banget. Meskipun, kamu sempat ninggalin aku sendirian. Kamu, udah merubah pandangan aku terhadap kesetiaan laki-laki. Aku tidak takut untuk mencoba percaya lagi. Gimana, Boy. Kamu juga senang kan sama aku?" tanya Paula begitu frontal. Membuat tenggorokan Boy seperti tercekat biji kedondong. Tak tau harus menjawab apa. Belum lagi, posisi Paula kini mendongak dengan bibir ranumnya yang merekah senyum.
"Sa–saya--" Entah kenapa, Boy justru ingin meraih bibir ranum itu ketimbang menjawab pertanyaan dari Paula. Geloranya sudah keburu mendidih dengan setiap kata dan body language Paula yang memancing jiwa kesepiannya. Paula yang mengerti maksud dari Boy, semakin memajukan dirinya lalu memejamkan kedua matanya. Hampir saja, bibir keduanya bertabrakan dengan sensual.
CIILUUNGG!
Sebuah notif gak ada akhlak, karena masuk di waktu yang tidak tepat.
'Sistem, kamvrettt!'
__ADS_1
...Bersambung ...