
Boy menempelkan bibirnya. Sekuat tenaga ia mengendalikan diri serta debar jantungnya yang tidak beraturan. Berusaha memasukkan oksigen untuk memompa kedua paru-paru Susan. Bibir Susan begitu hangat dan manis. Hampir saja Boy kehilangan fokusnya. Akan tetapi dirinya segera sadar untuk kembali Boy kembali memompa udara yang membuat dada Susan mengembang. Tak lama kemudian ...
"Uhukk ... uhukk!" Susan terbatuk-batuk pertanda pasokan oksigen pada paru-parunya berada dalam keadaan normal. Kedua matanya membola besar lantaran kaget. Sebab, paras pria yang ia kagumi kini nampak dekat sekali dengan wajahnya.
"A–apa yang terjadi?" tanyanya begitu gugup. Apalagi, Boy justru menatapnya begitu lekat. Sebelah tangannya masih memegangi bahu dan menahan kepala Susan.
"Nona ... syukurlah anda sudah sadar," ucap Cia penuh kelegaan. Tentu saja ungkapannya itu membuat Boy segera menyadari posisinya. Ia pun segera melepas Susan pelan dan hati-hati.
"Aku, kenapa Cia?" tanya Susan akan tetapi tatapan matanya mengarah pada Boy. Pria itu kikuk, ingin menjawab tapi yang disebut nama sang manager.
"Nona, mengalami sesak napas lalu pingsan. Kebetulan, Boy datang mengantarkan paket. Sebab itu aku meminta pria ini ... membantu anda dengan memberikan napas buatan," jelas Cia, dengan sedikit senyum menceritakan kejadian yang menurutnya sangat heroik dan romantis itu.
"Aku, sesak? Napas buatan?" tanya Susan mengulang inti kejadian dengan tatapan yang tak lepas dari wajah Boy.
Boy, yang juga merasakan kecanggungan yang teramat sangat. Hanya bisa menahan napasnya mendapati sorotan penuh kagum dari Susan.
"Boy, terimakasih." Tanpa Boy sangka yang dikiranya Susan akan marah, lalu menampar dan mungkin langsung mengusirnya. Akan tetapi artis cantik yang terkenal dengan sikap dan sifat low-profilnya ini, justru mengucapkan terimakasih atas perbuatannya.
__ADS_1
"Saya ... maaf telah lancang." Boy segera bangkit lalu membungkukkan badannya. Ia merasa baru saja melakukan hal yang sudah di luar batas. Meskipun niatnya hanya menolong, akan tetapi Boy tau dan sadar jika tadi ia sempat menikmati sebentar bibir merah merona milik Susan.
"Tidak, Boy. Kau telah menyelamatkan nyawaku. Entah bagaimana, aku lupa dimana meletakkan obat dan alat bantu pernapasanku. Apa yang kau lakukan tadi sangatlah benar. Aku yang seharusnya membungkuk padamu ," dalih Susan berusaha turun dari sofa bed. Akan tetapi daya tubuhnya masih lemah, Susan pun seketika limbung. Beruntung, Boy dengan sigap menangkap raganya.
Lagi-lagi tubuh keduanya yang saling berdekatan menimbulkan percikan api yang menghangatkan. Suara dentuman yang berasal dari detak jantung keduanya laksana bersahut-sahutan. ' Kenapa lagi-lagi waktu serasa berhenti berputar ketika berdekatan seperti ini dengannya? Dunia ku terasa indah dan tak lagi suram. Semua sakit di dalam hati menjadi sembuh perlahan. Gua mulai ngelupain rasa sakit itu. Ingin rasanya gak ngelepasin kamu.' batin Boy. Dirinya semakin hilang kendali. Susan baginya bagaikan magnet yang membuat akal sehatnya tak mampu menyaring situasi. Boy, memeluk erat tubuh Susan dan semakin mendekatkan wajah mereka hingga hampir saja hidung mancung keduanya saling menempel. Tiba-tiba sebuah suara deheman dari Cia mengembalikan kesadaran keduanya.
"Nona, sebaiknya anda beristirahat. Saya akan membuatkan salad buah. Dan, Boy. Sebaiknya jangan menganggu Nona. Konser malam ini tidak boleh gagal. Setelahnya, Nona bisa libur selama dua hari," ucap Cia berat. Sebenernya ia tak tega membiarkan Susan terus bekerja dengan keadaannya yang lemah. Gadai berambut panjang sepunggung itu, terlihat sehat lantaran dibantu bermacam obat-obatan serta vitamin. Bahkan setiap ingin manggung, Susan harus di suntik vitamin dulu.
Sementara, orang yang tidak tau menganggap dirinya rutin melakukan suntik putih dan pencerah wajah. Padahal, Susan melakukan suntik vitamin dan stamina. Akan tetapi, lama kelamaan jantungnya selain lemah. Susan yang sebenarnya tidak boleh terlalu lelah, terpaksa harus memforsir dirinya demi hutang yang di miliki oleh ayah dan ibu tirinya. Kenapa pusing? Bukankah Susan terkenal dan tentu saja kata raya?
Mungkin, dari kacamata awam akan terlihat seperti itu. Akan tetapi Susan tidak menikmati semua hasil kerja kerasnya selama ini sendirian. Ibu tirinya yang sejak awal memaksa untuk menjadi managernya. Telah menyalahgunakan seluruh uang hasil jerih payah Susan. Sang ayah yang terjebak investasi bodong. Kini terjerat hutang, dan hanya Susan lah satu-satunya keluarga yang mampu membantu. Meskipun, dalam keadaan sakit jantung.
"Tunggu ... Boy!" panggil Susan. Boy seketika berbalik. Pada saat itulah ia melihat Susan menengadahkan tangannya meminta sesuatu.
"Berikan aku ponselmu!" pinta Susan dengan sebuah senyum yang membuat Boy tidak bertanya lagi. Menurut saja, Boy menyerahkan ponselnya yang entah sejak kapan berubah menjadi ponsel termahal di ASIA. Seketika hal itu membuat kedua bola mata Boy hampir meloncat keluar. Tadinya dia malu memperlihatkan ponsel buluk nan jadul pada Susan. Justru kini, Susan yang sepertinya kena mental.
"Ponselmu!" takjub Susan, terlihat dari mulut dan kedua mata yang membola. Susan menoleh ke arah Cia. Managernya itu pun ternyata tenaga melongo bagai orang bodoh saja. Tangan Susan seketika gemetar, namun ia berusaha menutupinya. Masa iya artis papan atas sekelas dirinya tidak pernah memegang ponsel semahal ini. Sekedar memegang saja pasti pernah bukan?
__ADS_1
Susan berusaha menutupi perasaan kagetnya. Melihat ponsel termahal yang berada di atas telapak. tangannya saat ini. Menentukan siapa Boy sebenarnya.
'Ini, salah satu ponsel termahal di dunia karena di balut emas 24 karat dengan berlian berwarna pink besar di tengah bagian belakang. Siapa Boy sebenarnya. Harga ponsel ini setara 400 milyar.' batin Susan semakin penasaran. Siapa Boy sebenarnya. Tidak tau saja dia, jika Boy sudah berkunang-kunang.
'Kejutan apa lagi ini. Apa sistem yang mengganti ponsel lamaku? Atau sekedar membalutnya dengan emas dan berlian?' batin Boy sesak napas. Sebab kemarin-kemarin ponselnya adalah jenis keluaran lama. Sangat kudet dan jadul.
Tapi lihatlah kini, hidupnya telah di naikkan derajat oleh sebuah sistem kurir. Sistem yang membuatnya seketika menjadi pria keren yang kaya. Pria yang dipandang kagum, bukan lagi sebelah mata.
Setelah menulis nomer ponselnya, Susan menekan angka tersebut hingga tersambung ke ponselnya yang juga sangat mahal di atas tempat tidur.
"Aku akan menghubungi mu nanti," ucap Susan dengan senyum menawannya. Boy hanya mengangguk dengan seulas senyum tipis.
Setelah keluar dari kamar dan berada di lobi untuk mengecek ponselnya. Ternyata memang ada sebuah notifikasi.
"Perasaan tadi nggak bunyi apa-apa!" celetuk Boy, lantas segera membuka notif pesan dari sistem.
__ADS_1
...Bersambung ...