
"Iya tapi kan jauh, Nes. Bibik cuma gak mau nanti kamu kurang makan. Lumayan kamu tiga hari di kota orang," sanggah wanita empat puluh lima tahun itu, yang mana sejak orang tua Agnes berpisah, maka dialah yang mengurus sang ponakan. Sejak Bonar sang abang, meninggalkan istrinya menikah lagi. Ibunda Agnes itu marah lalu pergi meninggalkan Agnez sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Karenanya, Agnes akan bersikap judes dan antipati pada setiap pria yang ia temui apalagi yang mendekat padanya.
"Iya deh, terserah Bibik aja," desahnya. Mau bagaimanapun, niat wanita itu baik. Sangat menghawatirkan dan sangat paham jika Agnes paling susah sama makan. Kecuali, kalau sama lauk kesukaan. Agnes pun menyalami sang bibik yang telah membesarkan dan menyekolahkannya itu. Setelah mencium kedua pipi, gadis tomboi ini pun melambaikan tangannya. Agnes menaiki skate-boardnya untuk mencapai halte bus.
"Biasanya, tukang ojek kucel ngeselin itu udah kebut-kebutan di sini? Tumben enggak ada batang hidungnya yang lancip itu? Dih! Ngapain juga gue mikirin dia, najis tralala!" Agnes pun menggelengkan kepalanya cepat berusaha mengusir bayangan tak penting itu jauh-jauh. Tak lama kemudian, bus pariwisata dari sekolahnya datang.
"Curang lu, Nes! Bukan ngumpul di kampus!" sorak dari teman-teman kuliahnya.
"Ngapain, kan lewat sini juga. Jadi gue gak usah muter buang waktu aja!" kilah Agnes dengan nada ketus seperti biasa.
Kembali lagi pada keadaan David.
Pria itu masih saja bingung dengan keadaannya. Seketika ia ingat pada ponselnya yang entah bagaimana ada di atas kasur empuk itu. "Gua harus ngabarin si Boy ini! Tu anak pasti nyariin." David, menyentuh layar ponselnya untuk kemudian menghubungi Boy. Hingga tak lama, teleponnya pun diangkat. " Woy! Bro! Lu dimana?" tanya David dengan nada panik yang begitu kentara.
"Tuh kan, ni anak nyariin gua." Boy sekali lagi melihat layar ponselnya memastikan jika yang menelepon memang David sahabatnya. " Sori, Renk! Gua bakal jelasin ke elu nanti. Sekarang gua otewe jemput lu ya!" Tanpa, mendengar jawaban dari David, Boy kembali melakukan kendaraannya. Ia pikir dengan uangnya yang segitu banyak. Boy bisa membeli tiket pesawat keberangkatan langsung menuju kota dimana David ia tinggalkan. Tanpa Boy sadari, mereka sebenarnya berada di dalam kota yang sama bahkan dalam rumah yang sama.
"Eh, apa kata ni anak? Mau otewe? Perasaan, gua belom bilang lagi ada dimana sekarang?" gumam David bingung. Sekali lagi ia melihat keluar jendela hari sudah semakin beranjak siang. Sebab cahaya matahari terlihat menyilaukan di pantulan oleh air laut. Perutnya seketika berbunyi nyaring.
"Aduh, lapar lagi nih. Nyari makanan dulu deh." David pun keluar dalam keadaan tidak senonoh. Bagaimana tidak, dia saat ini hanya mengenakan kolor Kumal yang tak elok dipandang oleh mata. Untung saja, bentuk tubuhnya bisa dibilang lumayan lah. Secara David memiliki peralatan gym buatannya sendiri. Seperti barbel yang ia buat dari semen dan ember.
David, menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Mencari tau apakah rumah ini ada penghuninya atau tidak. Jika memang ia di culik, kemungkinan kamarnya akan di kunci dari luar bukan dari dalam. David, benar-benar tak habis pikir. Sebenernya apa yang terjadi padanya. Di kediaman siapa ini ia berada saat ini?
Entahlah, David hanya ingin mencari pengganjal perutnya terlebih dahulu. Karena jika dalam keadaan lambung yang kosong maka otaknya tidak bisa berpikir.
__ADS_1
"Wah, pucuk di cinta makanan di depan mata!" Seketika kedua mata indah dengan bulu mata yang seiras dengan warna rambutnya itu berbinar. Dimana saat ini iris kebiruan itu menemukan sekotak roti tawar beserta topingnya yang beraneka ragam. Beberapa buah juga tertata tapi di atas meja. Ada pisang, apel, pir, anggur, kiwi, stoberi, jambu kristal, manggis, dan masih banyak lagi. Sampai David berpikir ...
"Ini meja makan, apa toko buah dah?" kekehnya tapi setelah itu tak peduli. Ketika ia merasa rumah ini kosong tanpa penghuni. Dengan santai, dalam keadaan polos pada bagian atas tubuhnya, David mendudukkan dirinya di kursi. Mengambil dua lembar roti tawar susu itu ke atas piring. Kemudian, mengolesnya dengan selai coklat kacang.
"Mana nih, si Boy? Katanya mau otewe?" gumam David seraya memasukkan roti selai itu kedalam mulutnya yang lebar. Hingga selembar roti itu habis hanya dalam dua gigitan saja.
Sementara itu, Boy telah berada di bandara. Akan tetapi ...
TEEETTT! TEEETTT! TEEETTT!
Bunyi nada dering berisik yang keluar dari dalam ponselnya membuat beberapa pasang mata tertuju padanya. "Ck! Jadi bahan tontonan kan ? Emang gak bisa apa yang nada deringnya di ganti yang enakan dikit gitu." Boy ngedumel sambil berlalu mencari tempat yang sekiranya agak sepi. Tadi di lobi ia telah menjadi tontonan karena menitipkan kendaraan mewahnya pada valet parkir.
Sekarang ia kembali menjadi perhatian orang karena bunyi nada dering ponselnya yang seperti ojek online. Ck. Boy, ente pan emang kang ojek.
CIILUUNGG!
"Ck. Tauk ah gelap! Percuma ngomong juga kagak ada wujudnya!" Boy lagi-lagi gemas dengan nada dering dari sistem yang nyeleneh itu. Tapi, dia tetap menggeser layar ponselnya untuk membuka notifikasi.
[ Sebuah Misi pengantaran paket! Akan tetapi anda harus melawan jambret dulu! Untuk mendapatkan paket tersebut! Klik "OK" jika mau. ]
Begitulah isi notif dari sistem kurir yang telah membuat Boy menjadi kaya raya dalam hitungan hari.
"Emang cuma ada tombol Ok doang. Kan gua kagak bisa kayaknya nolak misi satu pun. Terus ini, kagak ada apa hadiahnya?" Ternyata, Boy masih saja kurang dengan apa yang sudah ia miliki saat ini.
__ADS_1
TLINIING!
Seperti tau apa yang di gumamkan oleh Boy. SISTEM kembali mengirim notifikasi.
[ Kirim paket tersebut ke kafe Jedack And Jeduck. Atas nama penerima Susan Kimberley. Lalu, dapatkan tiket dan voucher makan malam. Di sebuah kapal pesiar untuk dua orang! ]
Setelah membaca notifikasi tersebut, sudut bibir Boy terangkat tinggi hingga sebuah senyum lebar menghiasi wajah tampannya yang memukau. Bagaimana tidak, jika sejak kedatangan ke bandara ia telah menarik tatapan mata sejumlah wanita muda dan juga tua.
Di sebuah tempat tak jauh dari lobi bandara kedatangan. Seorang pria muda yang hendak masuk kedalam sebuah mobil berwarna merah tiba-tiba di hadang seorang yang menggunakan hoodie gelap dengan masker yang menutupi sebagian wajahnya.
Sreettt!
"Hei!!" Itu hadiah untuk Susan ku!" teriak pria yang tadinya memegang sebuah kotak. Namun, kini kotak itu telah berpindah tangan.
"Apa ini saatnya?" gumam Boy yang mana nalurinya berkata bahwa misi yang di maksud oleh sistem ada di sekitar sini. Boy pun segera berlari ke luar dengan cepat. Hingga ia sampai si lobi bagian samping.
Melihat target yang di maksud, Boy lantas mengejarnya. Bahkan beberapa penjaga pun ia salip. Lari Boy sangat cepat.
Boy melihat target, penjambret yang di maksud oleh sistem. Ia pun berbelok memotong jalan. Kemudian ...
BRUAGH!
...Bersambung ...
__ADS_1