
Hola guys!
Ini sekuel dari Sistem Mendadak Kaya.
Mengisahkan sahabatnya, Boy Kutzhel yang bernama David Zerenk.
Pemasaran?
Kuy, cekidot!
*
*
*
"Heh, lu mau ngapain gue!"
Kedua bola mata dengan iris blue ocean milik, David membola. Tatkala, ia merasakan sebuah beda kenyal mendarat dengan lembut pada bibirnya.
Gumam-gumam.
Tanpa, bisa berbicara sepatah kata pun lagi, sebab gadis tomboi yang menggemaskan ini telah menempelkan bibir yang semanis ceri pada bibir kebiruan, David.
__ADS_1
Semua itu, lantaran pemuda ini terlalu banyak merokok dan minum kopi. Perlu diketahui, jika David sebelumnya adalah tukang ojek online. Hanya, saja semenjak keadaan sahabatnya berubah ia pun ikut kecipratan hidup senang.
Bahkan, Boy memerintahkan padanya agar kembali mendaftar kuliah saja.
Agnes, tak lagi memikirkan apapun selain keselamatan mereka berdua. Karenaya ia segera menarik kedua tangan David agar merangkul pinggang rampingnya. Setelah itu, gadis manis ini mengalungkan lengan ke leher kurus, David.
'Anjirr! Bibir gue udah kagak perjaka!' David memekik dalam hatinya. Entah, apakah ini rejeki atau musibah untuknya. Karena, setelah kejadian ini telah menunggu takdir baru untuknya.
Benar saja, beberapa saat kemudian.
Dor Dor Dor.
"David!"
"Tinggalkan, pemuda itu! Kita, bawa gadis ini saja. Bos, pasti menyukai tangkapan kita kali ini." Pria berwajah jelek dan sangat menyeringai di depan wajah Agnes yang berlinang air mata.
Gadis itu meronta dan berteriak, tapi usahanya sia-sia. Para pria yang menangkapnya berbadan besar semua. Ia yang memiliki raga mungil hanya dapat memukul dan menendang angin.
Dav, Im sorry. Aku telah membawamu kedalam masalahku," ucapan penuh sesal itu lirih diucapkan oleh Agnes. Gadis tomboi ini berkabung dalam sesal mendalam di kamar mewah yang terasa penjara baginya.
Satu pekan lagi, ia akan di nikahi sebagai istri keenam.
Seandainya, sang bibi tidak menjualnya pada seorang lintah darat yang memiliki lima istri. Mungkin, kejadian ini tidak akan pernah terjadi dalam hidupnya.
__ADS_1
Kini, Agnes hanya bisa menatap foto di dalam ponselnya. Ia meremas, slayer yang diberikan David pada malam pengejaran itu. Siapa sangka, jika saat itu akan menjadi pertemuan terakhir bagi keduanya.
Sang lintah darat, ternyata terus mengincar keselamatan David, sejak saat itu.
Setetes demi setetes air mata luruh membasahi kedua pipinya yang halus. Kepalanya semakin merunduk dalam dengan kedua bahu yang bergetar naik dan turun. Jika bukan karena berniat menyelamatkan dirinya, mungkin saat ini pemuda itu masih hidup.
"David!!!"
Sementara itu.
David takkan lagi dapat menjawab panggilannya kali ini. Pria itu telah terbujur kaku di dalam peti kremasi. Dimana sebentar lagi akan segera di laksanakan prosesinya. Sebab, tak ada satupun sanak saudara yang menjemput jenazah pemuda tampan yang bernasib tragis ini.
"Apa! Jadi jenazahnya sudah di kremasi!" Boy, jatuh berlutut di atas lantai marmer dingin kamar jenazah sebuah ruang sakit.
"Zerenk! Kenapa Lo ninggalin gua, tanpa salam perpisahan! Lo belom bayar utang, Renk. Lo harus kuliah lagi." Akhirnya, suara Boy melemah seiring bahunya yang bergetar.
"Eh, dimana gua? Mana penjahatnya? Badan gue!" David bingung ketika melihat tubuhnya dililit kabel dan berbagai macam alat penunjang kesehatan.
Namun dirinya bukan berada di sebuah kamar rumah sakit. Melainkan di sebuah kamar mewah.
Serbuuuu!
__ADS_1