Sistem Kurir Mendadak Kaya

Sistem Kurir Mendadak Kaya
Bab. 41. Permintaan Susan Kepada Boy.


__ADS_3

"Apaa ... ," panggil Susan dengan lirih, tatkala ia melihat, Jung berdiri dengan tegap membelakanginya.


Mendengar suara yang teramat ia rindukan, Jung sontak menoleh dan segera menghampiri. "Salanghaneun nae ttal ..." [ Puteriku sayang ... ]


Jung, menarik raga Susan kedalam pelukannya. Ia begitu sangat merindukan putri satu-satunya itu.


"Bagaimana keadaanmu?"tanya Jung sambil memindai tubuh putrinya dari atas hingga bawah. Bahkan, Jung memutari tubuh tinggi ramping Susan. "Bukankah, baru saja menjalani operasi transplantasi jantung, Nak? Bagaimana bisa kau sekarang?" cecar Jung bingung dengan kenyataan serta keadaan yang ia alami saat ini. Seketika ia menoleh ke belakang Susan. Dimana, Boy langsung menundukkan kepalanya sekilas.


"Aku baik, Appa. Semua ini adalah keajaiban yang diberikan oleh, Boy," ucap Susan seraya menoleh untuk menatap penuh kagum kepada pria yang begitu mempesona bak dewa Arjuna.


"Kau, juga menyelamatkan putriku. Tuan, terimakasih!" Jung dengan gerakan cepat langsung bersujud, mencium kaki Boy.


"Bangunlah! Jangan seperti ini," ucap Boy langsung membangunkan raga Jung yang bersimpuh di depan kakinya. Bahu pria paruh baya itu bergetar hebat. Tidak menyangka jika dirinya dapat berdiri lagi, juga masih memiliki kesempatan untuk memeluk putri kesayangannya.


"Ini, sudah takdir kalian. Aku hanyalah perantara sebagai pelaksana untuk memujudkan semuanya menjadi nyata," ucap Boy lagi merendah. Pria dengan warna rambut serta iris mata yang sama-sama legam itu, merasa tak nyaman jika di perlakukan terlalu terhormat oleh sesama manusia.


"Appa, harus merayakan ini!"seru Jung sumringah. Pria paruh baya itu teramat gembira hingga air matanya terus saja mengalir sejak tadi.


"Bagaimana, kalau kita mengunjungi yayasan amal yang pernah di asuh oleh eomma?" ajak Susan dengan gurat wajah antusias dan bahagia.


"Appa, setuju, sayang. Lakukanlah hal yang membuatmu bahagia. Itu adalah hal terpenting dalam hidup, Appa saat ini. Melihatmu, memelukmu, di masa tua Appa," ucap Jung lirih dengan suara serak pertanda ia kembali menahan tangisnya.


"Susan, bahagia ketika, Appa bahagia. Sebab itu, Susan memilih pergi," jelas Susan mengira jika Jung tidak mengetahui alasannya pergi dari mansion enam bulan yang lalu.


"Ah, itu. Maafkan, Appa-mu ini yang egois. Sudah tua tapi tidak tau diri. Aku keterlaluan! Bodoh!" Jung memukuli kepalanya sendiri lantaran merah dan menyesal atau kelakuannya selama ini. Dimana kala itu ia begitu mempercayai setiap perkataan Su.


"Appa! Jangan begini. Susan mengerti, sangat mengerti. Tolong, jangan sakiti dirimu sendiri ...," tahan Susan, dengan cara memeluk tubuh Jung erat. Pria itu merasa sangat berdosa sehingga ia terlarut dalam perasaannya.


"Maaf, jika aku harus memotong adegan kalian berdua sebentar. Hanya saja, aku harus pamit. Teruskan lah, temu kangen kalian. Lanjutkan juga hidup dan karirmu. Semua sudah beres, tidak akan ada lagi yang akan mengganggumu," pamit Boy, seraya memberi penjelasan singkat bahwa keadaan sudah kembali kondusif serta aman terkendali.

__ADS_1


"Boy, kenapa harus secepat ini kau kembali. Menginaplah. Bahkan, kami belum menjamu kau sebagai tamu. Betul kan, Appa?" tanya Susan memastikan dan juga meminta dukungan pada Jung. Ia tak ingin jika, Boy secepat ini pergi meninggalkannya.


"Aku masih ada urusan, lagipula kau sudah baik-baik saja. Kau tidak lagi membutuhkan ku disini. Habiskan waktumu dengan, orang tuamu satu-satunya," tolak Boy sangat halus sekali. Bagaimana pun, ia harus mempersiapkan diri untuk bekerja di perusahaan pertamanya besok. Setidaknya ia harus tidur nyenyak malam ini. Ah, apa iya bisa? Tidur nyenyak setelah didaulat sebagai konglomerat?


"Tapi, Boy --"


"Kita pasti akan bertemu lagi, percayalah pada takdir," ucap Boy tentu saja dengan seulas senyum yang tercipta begitu menawan di wajahnya. Seketika waktu di sekeliling Susan berhenti berputar. Ia merasa, sebentar lagi akan sangat jauh dari pria tampan di hadapannya ini. Boy, adalah lelaki paling sempurna yang pernah ia kenal. Bagaimana jika ia kehilangan? Seketika, dadanya merasa sesak. Menurutnya, Boy, bukankah orang biasa.


"Berbahagialah kalian. Tetap saling percaya, itulah yang menguatkan hubungan keluarga. Jangan biarkan orang luar kembali mengusik kebersamaan kalian. Semoga, kita--"


Cup!


Susan tidak tahan lagi, ia menabrakkan bibir penuh meronanya, pada bibir sensual milik Boy. Mendiamkannya lama, untuk merasakan kehangatan serta rasa manis itu lebih lama. Susan, ingin merekam rasa ini dalam memorinya.


Susan berjinjit serta mengalungkan kedua tangannya, untuk memperdalam ciumannya. Tak peduli saat ini, Jung mengeluarkan keringat dingin lantaran melihat aksi berani putrinya itu. "Tenyata, kau tak sepolos eomma-mu, Nak," gumam Jung tersenyum dan menggeleng pelan. Ia menjauh perlahan, tak ingin menyaksikan hal yang perlahan akan membuatnya ingin juga. Sementara, pasangan pun tak punya sekarang.


"Benar, kita akan bertemu lagi? Kurasa, setelah ini, kita akan semakin menjauh," ucap Susan pilu. Ia bahkan tak mau melepas pelukannya. Ia merasa setelah malam ini, Boy akan melesat dan bertengger jauh dari jangkauannya.


"Percayalah, pada takdir. Bukankah, kita pada awalnya tidak saling mengenal. Bahkan, aku tidak pernah mengira akan sedekat ini dengan mu," ucap Boy lirih di samping telinga Susan. Membuat, tubuh gadis itu seketika meremang.


"Boleh aku meminta satu hal padamu, sebelum kau pergi," ucap Susan yang belum menjauhkan tubuhnya dari raga tinggi tegap ini.


"Jika memang aku bisa, aku pasti akan mengabulkannya untukmu," ucap Boy dengan tatapan mata uang yang tak bergeser sedikit pun dari wajah cantik Susan Kymberley.


"Buatlah, kenangan yang paling indah dalam hidupku. Berikan aku Kebahagiaan sebelum kau pergi," ucap Susan lirih di samping telinga Boy. Ia bahkan, sempat mengecup sekilas caping telinga Boy.


"Kau--" Boy mengunci tatapannya pada wajah yang sudah semerah tomat akibat menggoda dirinya.


"Yakin, tidak akan menyesal?" Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Susan langsung menggeleng cepat.

__ADS_1


______


"Cepat lari kesini!" David, kawan dari Boy sang pemeran utama kita dalam novel ini. Terlihat begitu terengah-engah. Ia berlari sambil menuntun sebuah tangan ramping yang mengenakan pakaian longgar berlengan panjang. Serta topi yang menutupi sebagian wajahnya. Tak ketinggalan, skate board di antara lengan dan ketiaknya.


"Hah! Kita masuk sini aja!" David pun menarik Agnes masuk kedalam sebuah lorong sempit, pemisah antara satu gedung dengan gedung lainnya.


Tak lama kemudian, terdengar derap langkah kaki yang berasal dari komplotan yang memang tengah mengejar mereka.


Drap drap drap!


"Kenapa sih, lu demen banget di kejar orang!" ujar David seraya mengatur napasnya. Begitupun dengan Agnes.


"Bantu aku, untuk kali ini saja. Selamanya, aku akan mengingat kebaikanmu," ucap Agnes, seiring derap langkah kaki yang semakin mendekat. Agnes menguak topi yang menyembunyikan rambut panjangnya, hingga saat ini, Surai itu tergerai lurus menutupi punggungnya. Lalu, Agnes menurunkan sedikit leher pada pakaiannya hingga menampilkan sebelah bahunya.


"Heh, lu mau ngapain gue! Hempt!" David tak bisa berbicara lagi sebab saat ini, gadis tomboi yang manis ini telah menempelkan bibir virgin-nya pada bibir kebiruan, David.


'Anjirr! Bibir gue udah kagak perjaka!'


...Bersambung...


* Maaf, jika up nya lamaaa ...


* Sebenarnya novel ini harus tamat, tapi ...


*Otor masih sayang sama Boy, dan klean juga tentunya.


Tetap dukung novel ini ya ... udah tau kan caranya.


Kamsahamnida ... Sarangheo ...♥️

__ADS_1


__ADS_2