Sistem Kurir Mendadak Kaya

Sistem Kurir Mendadak Kaya
SKMK. Bab 21. Menghajar Jambret Demi Paket


__ADS_3

BRUAGH!.


Pria penjambret tersebut tersungkur ketika, Boy menjulurkan kaki panjangnya untuk menghadang lari penjahat tak profesional itu. Memang sih larinya kencang, tapi tentu saja dengan kemampuan yang di miliki Boy saat ini. Pria itu bukan lah tandingnya sama sekali.


Pria itu segera bangun kembali, dan hendak lari. Boy, seketika dalam hitungan detik telah menarik ujung Hoodie yang di kenakan penjambret itu. Lehernya tercekik, lantaran Boy menarik kupluknya.


"Nyari penyakit amat sih, nyopet di bandara! Balikin tuh barang! Sebentar lagi, lu bakalan bonyok di hajar massa!" seru Boy pria penjambret yang masih berusaha kabur ini. Kotak besar itu masih di peluknya erat.


"Nyerahin barang ini! Ngimpi aja lu!"


Sreettt!


Penjambretan itu ternyata tanpa di duga mengeluarkan pisau saku, kemudian berputar cepat seraya melayangkan sabetan tepat ke arah wajah Boy. Secepat kilat, Boy yang memiliki sensor bahaya dan juga reflek tinggi. Segera memundurkan wajahnya, lalu menangkis tepat di belakang siku.


Tak!


xliningg!


Pisau tersebut terlepas diiringi teriakan dari penjambret itu karena mungkin tangannya patah di sebabkan tangkisan dari Boy yang lumayan kencang.


"Yah! Tangan lu patah!" seru Boy yang mana melihat penjambret itu kini meraung di atas tanah. Segera ia mengambil kotak tersebut, dan berkata ...


"Gua harap kejadian ini bisa jadi pelajaran bakal lu! Enggak semua kejahatan bisa berjalan dengan mulus." Setelah mengatakan kalimat tersebut, Boy segera meninggalkan penjambret begitu saja. Ia berpikir lamban laun para scurity akan menemukannya.


"Heh! Itu kotak milik gua! Balikin! Argh!" Penjambret itu ternyata belum menyerah, ia berusaha bangkit dan kembali memungut pisaunya yang terjauh jauh dari tempatnya tersungkur.


"Hyyaaatt!"


Boy bergeming dengan seringai penuh arti. Kemudian ia pun berbalik sekaligus mengarahkan tendangannya ke arah perut penjambret.


Duagghh!


Bruugghh!


Tendangan bertenaga kuat pun mendarat tepat di perut, hingga pria penjambret itu terpental dan jatuh tersungkur dengan wajah yang mencium aspal jalanan.

__ADS_1


"Sudah kukatakan, kau bukan lawanku! Sekarang, bukan hanya tangan mu yang patah tapi hidung dan leher mu juga pasti patah!" ujar Boy sebenarnya geram, karena penjambret itu berani menyerangnya dari belakang.


Melihat tak ada pergerakan lagi dari penjahat amatiran itu. Bagaimana mau bergerak, satu tendangan Boy saja sudah mampu meluluh lantakkan seluruh tulang penjambret tersebut. Pria itu pingsan. Boy pun melenggang dengan tenang.


"Kira-kira dimana alamat hotel tempat Susan menginap?" gumam Boy yang kini kembali membuka ponselnya. Mencari alamat tertera yang telah diberikan oleh sistem kurir.


"Okelah. Zerenk pasti bisa nunggu kan. Gua harus jalanin misi dulu." Boy pun ke parkiran mencari mobil mewahnya. Tak jadi ia membeli tiket pesawat sekarang. Karena, ia yakin misi dari sistem kali ini. Akan semakin mendekatkan pada Susan.


"Pokoknya, gua harus lebih pede lagi. Gua udah bukan Boy yang dulu kere. Sekarang, gua udah punya semuanya. Gua bukan pria pecundang yang bakal diem aja mendapati kecurangan dan penindasan. Siapapun, yang berniat jahat. Bakal gua libas!" ucap Boy di depan kemudi mobil dengan seringai yang tak luput membuat wajah tampannya menjadi terlihat sedikit sadis..


Boy menyalakan mesin mobil. "Susan, sayang. Boy datang!" Setelahnya ia pun terkekeh menertawakan keinginannya yang nyeleneh itu. Bagaimana bisa ia berpikir untuk mendekati wanita, sementara luka dan kecewa di hatinya belumlah sepenuhnya sirna dan terlupakan.


Tak berapa lama kemudian, Boy pun sampai di hotel. Dimana Susan menginap selama beberapa hari di tempat itu. Sekarang tugas Boy untuk menembus penjagaan dari pihak keamanan hotel juga para body guard artis K-Pop tersebut.


Bahkan terdapat beberapa reporter dan juga wartawan yang ingin meliput. Namun, mereka mendapat penolakan dari para pihak keamanan. Dengan alasan, jika Susan sedang tidak bisa diganggu. Artis tersebut sedang menenangkan dirinya untuk konser nanti malam.


"Kagak ada salah sedikitpun. Gua harus lewat mana ini. Penjagaannya ketat banget. Bisa-bisa,ini paket kagak sampe ke tangan Susan tepat waktu." Gumam Boy seraya terus berpikir mencari cara. " Ahaaa! Gua akan coba cara ini. Semoga aja berhasil!" Boy pun bersemangat untuk membelah kerumunan. Ia menghadapi langsung body guard berbadan besar dengan pakaian serba hitam itu.


"Mundur! Tidak menerima penggemar!" gertak sang bodyguard.


"Saya ini kurir. Ingin mengantarkan barang pesanan Nona Susan. Saya bukan penggemarnya," jelas Boy penuh harap bahwa penjaga ini percaya dan membiarkannya masuk kedalam hotel.


"Terserah! Kalau kau tidak percaya, telepon saja manager nya. Katakan kalau Boy mengantarkan paket khusus. Atau, penampilan Susan akan berantakan malam ini. Dan, semua kesalahan terletak pada penjaga sok tau seperti mu!" ancam Boy dengan sorot mata tajam. Membuat bodyguard itu merogoh ponselnya. Ia pun menghubungi kawannya di atas.


"Tenyata kau benar, Bung! Naiklah!" ucap sang bodyguard. Membaut Boy begitu senang dan langsung ngacir secepat mungkin.


"Eh, kok dia boleh masuk!"


" Iya tuh, wah gak adil nih!"


"Jangan mentang-mentang dia cakep!" Begitulah protes dari beberapa penggemar dan juga wartawan. Mereka sudah sejak sebelum fajar telah menunggu di depan hotel.


Boy telah sampai di depan kamar hotel. Di sini ia juga disambut lagi oleh seorang bodyguard juga. Sepertinya kawan pria yang memiliki otot besar di bawah sana.


"Serahkan padaku, barangnya!" pinta sang penjaga. Tentu saja Boy menolak. Mana ada peraturan menitipkan barang bagi kurir teladan macam dirinya. Ia harus menyerahkan langsung kepada yang bersangkutan. Atau?

__ADS_1


"Maaf, saya harus menyerahkannya secara langsung. Jika anda tidak percaya silakan hubungi manager Susan." ucap Boy yang tidak bisa diintimidasi hanya dengan otot yang mirip buntalan itu.


Bahkan menurut tebakan Boy, hanya dengan satu pukulan saja pasti pria itu akan jatuh.


Tak ayal pria tersebut mengetuk pintu kamar hotel. Hingga seorang wanita cantik yang dewasa keluar dari dalam.


"Ada kurir yang hendak mengantarkan paket," ucap sang penjaga yang mana hal itu sontak membuat manager CIA menoleh.


"Boy!" pekiknya seraya menutup mulut dengan tangan akting kagetnya.


"Iya, Nona. Saya harap tidak terlambat mengantar paket ini untuk Susan. Karena sejak dari bawah sampai sini saya sudah mendapatkan kesulitan," jelas Boy, yang mana lebih mirip sebuah aduan.


"Biarkan dia masuk, dia tamu VVIP Nona Susan!" ucap Cia yang lantas segera diangguki oleh penjaga tersebut.


"Nona, lihatlah siapa yang datang!" panggil Cia, dengan Boy yang mengekor di belakangnya. Namun, tak ada sahutan dari Susan. Ternyata ...


"Nona!" Cia memekik saat mendapati keadaan Susan yang sesak napas lalu pingsan.


"Tidak, Nona! Boy, bagaimana ini!" pekik CIA khawatir. Boy mengeluarkan ponselnya dulu dan menyelesaikan misi dengan mengklik selesai.


Setelah itu, tiba-tiba ...


srringggg ...!


Ada sesuatu perintah yang masuk lewat pikirannya. Boy merasakan sedikit sakit pada pelipisnya. Seperti orang yang tengah migren.


"Izinkan aku untuk memberikan pertolongan pertama," ucap Boy pada CIA yang sudah berlinangan air mata.


"Lakukan, Boy. Aku percaya padamu," ucap CIA yang entah kenapa meyakini apapun yang akan Boy lakukan pada Susan nanti.


"Susan, apa yang terjadi padamu?"


Boy mensejajarkan raga Susan, meninggikan kepalanya dengan sesuatu. Membuka kancing bagian atas pakaiannya sambil menelan ludah. "Fokus Boy. Fokus!"


Setelahnya, Boy menutup hidung Susan. Tangan satunya lagi menaikkan dagu gadis cantik berkulit putih itu. Boy, semakin mendekatkan bibirnya ke mulut Susan yang sengaja ia buka dengan menekan pipi menggunakan telunjuk dan ibu jarinya.

__ADS_1


😎Ada yang tau, Boy lagi ngapain?


...Bersambung ...


__ADS_2