
Agnes hanya bisa mendengus pelan mendengar seruan dari David. Batinnya kesal, tapi mau bagaimana lagi. Bagaimanapun, David adalah penolongnya. Lagipula, kata-kata pria slengean yang entah kenapa tiba-tiba menjadi mempesona ini ada benarnya juga. Agnes pun kembali mengunyah takoyaki-nya dengan khidmat. Meskipun ia sadar jika, David masih terus memperhatikan dirinya.
Ia mencoba diam dan tahan kesal. Ia perlu pertolongan David lagi untuk mengantarkannya ke hotel. Lama-kelamaan, gadis tomboi ini rusuh juga. Ketika buku mata David yang panjang dan berwarna silver itu terus berkedip lucu. Agnes paling tidak suka jika ada orang yang menatapnya secara intens dan menelisik.
"Pernah kelilipan garpu gak!" seru Agnes kembali galak. Bahkan, kedua matanya memicing begitu judes.
"Kayaknya sih, belom pernah. Kalo kelilipan tawon tuh yang sering. Kan, gua pernah ya lagi narik lupa nurunin kaca helm gua, eh tawonnya--"
"Sstttt!" potong Agnes dengan jari telunjuk yang tiba-tiba menempel di depan bibir David. Menghentikan niat pria slengean itu untuk bercerita lebih lanjut.
"Gua lagi kagak mau denger curhatan orang apalagi dari elu!" ketua Agnes kemudian. Ia pun menggeser tempat makan, lalu berdiri dan menggeser kursi.
"Lah, elu sendiri yang nanya duluan. Ya gua kan, cuma jelasin. Emang ada gitu, orang yang bisa kelilipan garpu? Kok bisa? Kan aneh pertanyaan lu," tutur David membuat Agnes semakin gemes pengen nyekek. Astaga! Itu kan kiasan David! ( Otor aja kesel )
Agnes melengos dan hendak pergi begitu saja saking geramnya. Masa iya harus ia jelaskan dengan gamblang. Tiba-tiba, David meraih dan menarik tangannya.
"Eh, lu mau kemana?" tanya David seraya menaikkan sebelah alisnya.
"Balik ke hotel. Lagian udah kenyang," ucap Agnes santai.
"Kan di bilang gua yang anterin. Kenapa main pergi aja sih!" protes David. 'Nguras emosi banget emang ngomong sama cewek kulkas lima pintu. Gua udah keren bin bak super Hero aja masih kagak di anggap gini. Membagongkan!' gerutu David dalam hati. Tangannya masih memegang lengan Agnes, takut buruannya ini pergi. Secara gitu, antik. Maksudnya, jarang ada karakter cewek macam Agnes ini. Bahkan, pesona cowok tampan pun enggak mampu membuatnya bergeming.
"Sebenarnya, enggak perlu juga sih. Gue juga tau jalan ke hotel. Elu, udah nolong sama ngasih makan gue aja itu udah, makasi banget. Jadi, jangan nambah utang gue sama elu. Gue takut kagak bisa bayar," ucap Agnes.
"Siapa yang lagi ngutangin? Emangnya gue bangkee? Alias bang keliling?" cecar David benar-benar tidak mengerti arah pembicaraan Agnes ini.
"Ck. Susah banget deh ngomong sama elu. Capek gue!" keluh Agnes seraya berlalu.
"Yaudah, ayok! Naek motor aja sama gua. Biar elu kagak capek!" David pun meraih tangan Agnes dan menaikkannya keatas motor.
__ADS_1
"Hish, pemaksaan banget sih! Elu, mau nolong apa nyulik gue!" protes Agnes yang tidak di gubris oleh David. Agnes pun menggerakkan tangannya seakan hendak memukul David dari belakang. Saking geramnya.
"Sini dah, kalo berani mah jangan dari belakang!" celetuk David dengan seringai, yang membuat Agnes sontak menurunkan kedua tangannya.
'Ck. Tau aja ih, ni bocah!' batin Agnes, pasrah duduk di boncengan belakang dengan berpegangan pada tepi jok. Dan ...
"Aakkh!" jeritnya yang spontan langsung merangkul pinggang David lantaran kaget. Tubuh keduanya pun kini menjadi tanpa jarak. Hal itu lantaran David ngegas motornya terlalu kencang dan ngebut. "Lu pikir, elu itu Valentino Rossi apa Schumacher!" omel Agnes dengan teriakan, yang tanpa sadar semakin mengeratkan pegangannya. Sementara, David, hanya memasang seringai penuh kemenangan di balik helm full face nya.
Licik bin modus!
Balik ke panggung konser di sebuah hotel berkelas dengan bintangnya yang berpendar.
"Em, belum sih. Makanya kita kenalan sekarang. Aku, Najwa Khebab. Salah satu reporter gosip di salah satu stasiun televisi swasta," ucap Najwa sambil mengulurkan tangan mulusnya yang halus dan berjari lentik.
"Ah, baiklah. Panggil saja aku, Boy. Aku hanya kurir biasa yang berseragam hijau. Kau pasti tau kan," balas Boy merendah. Memang itu kan profesinya. Meskipun kini tidak lagi di bawah naungan aplikasi lama. Karena, tiba-tiba Sistem misterius meng-hack akunnya secara sepihak. Namun, Boy amat sangat bersyukur karena itu.
"Oke, Boy. Nama yang menggemaskan. Sama seperti orangnya," puji Najwa berani. Bahkan, wanita ini mengusap bisep Boy yang menonjol dari kemeja pres body yang pria itu kenakan. Boy, memang membuka jas hitam yang ia pakai tadi. Membuka dua kancing pertama, kemudian menggulung lengan kemeja hingga batas siku, membuat tampilannya semakin macho dan menggoda.
*Bertemu denganmu ... laksana sebuah hadiah semesta.
Aku yang menyerah pada dunia seakan malu pada asa-ku.
Mengenal mu ... menyadarkan ku bahwa, masih ada kisah yang indah.
Aku sesaat menjadi ragu untuk meninggalkan fana-ku.
Bawa aku pergi ke nirwana.
Hingga ku lupa kembali ke dunia.
__ADS_1
Kau cahaya dalam redup mimpiku.
Kau detak dalam debar jantung dan denyut dalam nadiku*.
Entah kenapa, Boy merasa jika syair itu adakah bahasa kalbu dari Susan yang ditujukan padanya. Apalagi, semenjak tadi, Susan terus menatapnya tak berpindah. Sorot mata dalam dan penuh arti, hingga rasa yang hendak di sampaikan oleh Susan sampai ke relung hati yang paling dalam.
Swiinggg!
Sesuatu tiba-tiba masuk kedalam pikiran Boy. Membuatnya merasa seperti tengah kesetrum sesaat.
[ Siapkan diri anda! Akan ada barang yang akan anda antar keluar negeri! Aktifkan, mode teleportasi mandiri melalui sensor suara. Hanya dengan fokus pada tempat dan niat tujuan. Maka anda akan lebih mudah menjangkau jarak dalam tiga kedipan mata. ]
Swingggg!
Setelah sebuah suara yang tiba-tiba masuk itu pergi, Boy kembali merasakan sebuah setruman di pelipis kirinya.
"Kau tak apa, Boy?" tanya Najwa yang menyadari keanehan dari pria tampan di sebelahnya ini.
"No, I'm oke!" ujar Boy.
Hingga, Susan mengakhiri lagu itu dan mulia sesi wawancara dengan host. Senyum itu tak lekang dari wajah cantiknya yang mulai memucat. Tak ada yang menyadari kecuali, Boy dan Cia sang manager.
Di bawah panggung, tepatnya di belakang Najwa yang sejak tadi masih terus berusaha sok kenal sok dekat dengan Boy. Ada seorang wanita cantik, dimana ia berasal dari masa lalu Boy yang kelam dan pahit. Dialah, Lilian. Mengepal tangan geram seraya mengumpat dalam hati.
"Tenyata dia benar-benar, Boy. Mantan suami ku yang kere bin melarat itu. Sial! Bagaimana bisa dia sekeren ini sekarang? Bagaimana bisa ia memiliki uang sebanyak itu untuk mengenakan barang-barang mahal? Apa ia sudah tidak ngojek lagi? Atau--" Lilian terus menduga-duga, bahkan dengan isi otaknya yang tidak cukup besar dan mampu untuk menganalisa.
Ia mendadak pusing memikirkan segala kemungkinan yang terjadi pada Boy. Melihat penampakan sang mantan yang semakin keren dan memikat saja, Lilian susah pusing tujuh keliling, turunan dan tanjakan. Bagaimana jika, dirinya mengetahui harta yang Boy Kutzhel miliki saat ini. Mungkin, isi otaknya akan mencair dan keluar lewat kuping. Kau menjijikkan, Lilian!
"Haih, bahkan Jack saja hanya bisa membeli jas kW dari brand yang di kenakan boy saat ini." Lilian celingukan, mencari keberadaan pria yang ia sebut namanya barusan. Sebab, pria itulah yang mengajaknya ke kota ini. Hasil dari rengekan serta goyangannya di atas tempat tidur Jack. Maka, pria itu mau juga membelikan tiket konser Susan. Sekalian mengajaknya liburan di kota ini. Tentu saja, untuk mengisi chanel vloger-nya yang mana membuat Lilian kebanjiran followers.
__ADS_1
"Temui tidak ya? Kira-kira, Jack dimana? Kalau dia tau kau bertemu Boy di sini bagaimana?" Lilian menggigiti kuku jarinya yang panjang dan berwarna merah marun itu.
...Bersambung...