Sistem Kurir Mendadak Kaya

Sistem Kurir Mendadak Kaya
SKMK. Bab 10. Misi Suka-suka Sistem.


__ADS_3

Akhirnya, Boy memilih bertanya pada penjaga di depan restoran dari hotel tersebut. " Pak, apa ada paket untuk Nona Susan yang tertahan di sini?" tanyanya sambil awas, sebab Boy merasa ada yang mengikutinya sejak tadi.


Penjaga itu tidak langsung menjawab, ia memperhatikan penampilan Boy yang kinclong dari atas hingga bawah. 'Stylenya biasa aja, meskipun wajahnya tampan macam artis Korea. Tidak ada brand bergengsi yang di kenakan pemuda ini. Mungkin, dia memang kurirnya.' batin sang penjaga.


"Benar. Ini ada buket bunga dan sekotak besar coklat." Sang penjaga memberikan buket yang lumayan besar itu kepada Boy.


"Wah, gede juga nih buketnya. Baiklah, Pak. Terimakasih, ya!" seru Boy langsung berlalu, ia berbelok di koridor menuju bagian belakang area restoran. Sorot matanya berkeliling mencari ruangan yang bertuliskan nama artis idolanya itu. Boy menghentikan langkahnya mendadak, ia menoleh cepat dan memindai sesuatu yang mencurigakan. ' Seperti ada yang mengikuti. Tapi siapa?' batin Boy penuh kewaspadaan.


"Sasaran menuju ruangan Susan, Bos. Kami masih mengikutinya." lapor sang penguntit pelan pada pria yang bernama Daniel Warberg menggunakan earphone yang menempel di telinganya.


"Brengsekk!"


"Dia meninggalkan Paula ku untuk mengantarkan bunga pada artis K-Pop itu! Kau memang pantas mati!" maki, Daniel. Terlihat dirinya semakin kesal dan memendam amarah pada Boy. Menurutnya, Boy hanya sedang mempermainkan wanitanya. Tanpa dirinya sadari bahwa dirinya telah lebih dulu melukai Paula.


Tak lama kemudian, Boy menemukan ruangan tersebut. Ia pun mengetuk pintu seraya merapikan pakaiannya. Menarik napas dalam untuk mengontrol degup jantungnya yang berdebar tak beraturan. 'Ngimpi apa gua mau ketemu ama Susan. Sistem kadang ngesellin emang. Tapi, kadang kayak tau aja gitu perasaan dan keinginan gua. Duh, deg-degan ya ampun.' Boy membatin seraya mengusap dadanya sambil menghela napas berkali-kali.


Tok Tok!


"Siapa?" terdengar pertanyaan dari dalam. Nada bahasanya agak asing karena yang mengucapkan masih dengan logat Korea.


"Kurir!" jawab Boy gugup.


"Masuk saja!" seru suara yang lembut itu lagi. Memerintahkan, kepada Boy untuk membuka pintu dan masuk.


'Duh, tangan sama kaki gemeteran gini. Itu yang jawab kayak suara Susan. Kenapa, bukan managernya aja sih yang nerima. Jantung gua belom siap ini.' Boy terus meringis gugup dalam hati. Sekali lagi ia menarik napasnya dalam lalu menghembuskannya perlahan.


"Permisi!" Boy melangkahkan kakinya untuk masuk, lalu berbalik demi menutup pintu. Di dalam genggamannya ada seikat buket bunga besar yang sengaja menutupi bagian wajahnya. Boy, masih belum siap jika menatap langsung Susan sang idola. Entah, apakah Susan akan mengerti bahasanya.


"Sorry, Miss. Ini flowernya--" Boy bingung mau bicara apa. Bahasa inggrisnya juga tidak terlalu fasih. Lagipula, Susan juga tidak bisa bahasa Inggris. Rata-rata orang Korea memang tidak lancar berbahasa asing. Mereka cukup nasionalis.


"Wah, cantik! Sini!" Puji Susan seraya mengulurkan tangan untuk mengambil buket yang berada dalam dekapan Boy. Mau tak mau Boy menyerahkan buket tersebut dengan wajah yang tertunduk. Lalu ia juga menyodorkan kotak besar coklat yang di peluk sejak tadi. Semua yang ia bawa untuk Susan serba besar jadi harus di dekap biar tak jatuh.


"Terima kasih!" ucap Susan meskipun tak fasih. Akan tetapi jelas dan bisa di mengerti.


"Sama-sama," jawab Boy masih dengan menundukkan pandangannya. Tentu saja hal tersebut membuat Susan heran.

__ADS_1


"Kamu, penonton ya?" tanya Susan agak terbata. Sebab ia mengucapkan bahasa yang sama dengan Boy. Memang, sebelum datang ke negara ini Susan sempat mempelajari bahasa. Apalagi rencana ia akan lama di negara ini. Ada beberapa penampilan dan juga konser kecil selama dua bulan ke depan.


"I–iya," jawab Boy memberanikan diri mendongakkan wajahnya.


Nyeeesss!


Betapa sejuk hatinya kala dapat memandang wajah cantik Susan sedekat ini. Seketika itu juga aliran darah yang memompa jantungnya bekerja lebih cepat.


"Hai, saya Susan!" Susan mengulurkan tangan yang hanya di pandangi oleh Boy.


"Kamu, siapa?" tanya Susan, yang mana hal itu membuat Boy seketika sadar. Boy pun menyambut ukuran tangan dari Susan. Pada saat itulah kulitnya bersentuhan dengan kulit lembut Susan. Haih, ingin rasanya Boy pingsang saat ini juga.


"Saya, Boy. Maaf, permisi." Setelah memperkenalkan dirinya, Boy ingin cepat-cepat kabur saja.,


"Tunggu!" Susan menghentikan Boy, lalu memberikan sebuah tiket. "Saya mau kamu datang!" ucap Susan kaku, meski begitu Boy menangkap dengan jelas maksudnya.


Boy meraih secarik tiket untuk satu orang itu. Memberanikan diri untuk menatap sang idola sekali lagi. Pada saat itulah, ia menangkap senyum Susan yang seketika menghentikan dunianya. Boy, terpaku. Setelah sadar, dirinya benar-benar segera keluar dari ruangan itu dengan cepat. Kebetulan sang manager telah kembali.


"Apa pria itu ... barusan ... mengantar bunga?" Susan hanya mengangguk dengan senyum menjawab kebingungan dari sang manager. Pasalnya, nama pengirim bunga dan coklat tersebut bertuliskan nama "Boy".


"Gila! Segitu tegangnya padahal baru ketemu aja. Huh, level elu ama die beda cuy! Jangan terlalu ngarep!" Boy bicara pada dirinya sendiri seakan sedang menasihati. Baru saja lega, tiba-tiba ...


BRUGH!


"Heh! Apa-apaan lu pada!" seru Boy berontak dari cekalan dua pria berbadan tinggi besar. Tanpa menggubris keduanya justru menyeret tubuh Boy dengan kasar. Ingat akan perintah sistem, Boy membiarkan saja di bawa kemana dirinya. Padahal jika ingin, kedua pria yang mencekal lengannya bisa saja di buat terpental hanya dengan satu sentakan.


BRUGH!


Boy di lempar ke depan hingga jatuh berlutut. Kemudian mendongak, menatap pada pria yang saat ini mencengkeram kerah bajunya.


"Kau pikir siapa dirimu, hah! Sudah merasa paling tampan, sampai berani mendekati wanitaku!" hardik pria berahang tegas yang tak lain adalah Daniel.


"Anda, adalah anak dari pengusaha yang memiliki banyak stasiun televisi bukan?" tanya Boy. Bukannya gentar justru mewawancara.


"Apa pedulimu! Seharusnya kubungkam mulutmu ini!" Daniel telah mengangkat satu tangannya dengan alat berduri yang ia genggam. Kemudian melayangkannya dengan sasaran wajah tampan Boy yang begitu glowing mempesona.

__ADS_1


GREP!


Hampir saja, ujung senjata dalam kepalan Daniel mengenai wajah Boy. Akan tetapi, dengan gerakan cepat dan bertenaga salah satu tangan Boy mampu menahan lengan Daniel. Satu tangan Boy lagi memegang cengkraman Daniel yang menempel erat mengalung lehernya. Sekelebat informasi berjalan di dalam pikiran Boy. Membuat ia menyeringai penuh kemenangan. Saat inilah ia paham, tentang misi rahasia sistemnya.


Dengan gerakan cepat, Boy membalik keadaan. Daniel tidak ingin melepaskan mangsanya ini begitu saja. Lututnya terangkat ingin menendang perut Boy. Akan tetapi Boy yang sigap menangkis serangan Daniel dengan satu kakinya.


TAK!


BUKK!


BUKK!


Duel hebat pun tak terelakkan karena Daniel memiliki ilmu beladiri yang cukup hebat. Boy dapat mengimbangi dengan separuh tenaganya. Sebab, sistem memperingati tidak boleh sampai lawan mati. Tentu saja, Boy juga masih memiliki hati nurani. Ia menangis serangan demi serangan yang di arahkan Daniel padanya.


Saat terjepit, kedua anak buah Daniel maju dan turut menyerang.


Hiyyaaatt!


PRANGG!


Swiingg!


Boy yang berhasil mengambil alih senjata dalam genggaman Daniel. Menggunakannya untuk menangkis pedang yang berada di atas kepalanya.


Sreenggg!


Terdengar suara benda tajam yang beradu. Boy memutari tubuhnya, menarik lengan lawan dan langsung memberikan pukulan pada titik lemah di bawah ketiak. Sehingga, pegangan pada pedang terlepas. Kini, lagi-lagi benda tajam tersebut berpindah tangan kepada Boy.


Bruugghh!


Boy mendorong tubuh anak buah Daniel yang berbadan besar itu dengan kakinya. Sebenarnya pelan saja. Namun, karena kekuatan Boy sudah di level gold maka tenaga yang dikeluarkan cukup besar. Membuat anak buah Daniel tersungkur cukup keras.


"Kenapa dia kuat sekali!" Daniel meringis seraya mengusap sudut bibirnya yang berdarah. "Seluruh tulangku sakit, rusukku seperti retak. Padahal, dia melakukan perlawanan dengan tenang." racau Daniel sambil berusaha tetap dalam keadaan sadar. Matanya sudah berkunang-kunang sejak mendapat pukulan tadi.


"Apa kepalaku juga retak?"

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2