Sistem Kurir Mendadak Kaya

Sistem Kurir Mendadak Kaya
SKMK. Bab 17. Hadiah Yang Hampir Mencabut Nyawa.


__ADS_3

Paginya ketika ayam berkokok saling bersahutan. Boy, benar-benar mendapati pening yang begitu menyakitkan pada kepalanya. Seperti tersengat listrik tegangan tinggi, begitu berat hanya sekedar untuk membuka mata. "Kemarin malam, adalah hari yang paling berat dalam hidup gua. Perasaan baru aja merem, kenapa udah pagi aja," keluh Boy dengan suara lemah dan rendah. Dirinya yang memang tidak pernah bisa bangun siang. Meskipun, ia mulai tertidur menjelang fajar. Telinganya akan otomatis menangkap suara ayam jago yang berkokok walaupun dari tempat yang jauh.


Bahkan, beberapa notif dari ponselnya terabaikan.


CIILUUNGG!


"Masih pagi, woii! Mata juga masih keriyep-keriyep ini! Belom bisa liat hape!" ujar Boy seakan sistem dapat mendengar ucapannya. Boy masih terus memijat pelipisnya. Sesekali menutup mulut karena menguap. Lalu, menggaruk ketiak dan juga perut. Begitulah kebiasaan laki-laki. Bahkan, ada yang lebih parah lagi. Tapi, author gak akan membuat aib itu di sini. Hahaha!


Kembali ke sistem yang sudah bawel di pagi hari. Macam emak-emak yang membangunkan anaknya untuk berangkat sekolah.


CIILUUNGG!


"Buset dah! Berisik banget si! Gua masih capek banget ini! Pingsan juga dah!" Boy menjatuhkan tubuhnya kembali di atas kasur sambil merentangkan kedua tangannya. Hingga kembali lagi terdengar sebuah nada dering notifikasi, membuat Boy meraih banyak lalu menutupi wajahnya.


TLINIING! TLINIING!


"Astoge! Elu emang sistem paling bawel!" pekik Boy dari balik bantal. Sebab ponselnya masih saja terus berdering. Entah kenapa, Boy merasa jika bantal milik David ini terasa lain. Sangat empuk dan juga wangi. Udara di kamar juga sangat sejuk tidak lengkap seperti tadi.


TEEETT! TEEETT! TEEETT!


"IYA! IYA! GUA BANGUN!" teriak Boy seraya melempar bantal itu kebawah. Ia pun memaksa untuk membuka kedua matanya. Memicing dahulu untuk beradaptasi dengan cahaya. Padahal, layar lada ponselnya juga sudah ia redup kan.

__ADS_1


[ HADIAH! HADIAH! HADIAH! ]


[ HADIAH KEJUTAN MENANTI ANDA! ]


[ SELAMAT! Anda telah menyelesaikan misi! TIGA misi sekaligus, telah membuat Anda menjadi orang KAYA MENDADAK! Tidak percaya? Lihat saja sendiri! MAKANYA BANGUUUNN! ]


Begitulah isi notifikasi yang terkirim dari sistem kurir. Membuat kedua mata Boy sukses membola sempurna.


"Apa maksudnya!" kaget Boy. Seperti mendengar, sistem kembali mengirim notif.


[ 75 juta dollar telah masuk ke saldo anda! Silakan di periksa! ]


Seketika, Boy turun dari kasur. Ia yang baru menurunkan sebelah kakinya langsung terjerembab ke depan. Hingga, wajah tampannya itu sukses mencium karpet berbulu di bawahnya. " Sejak kapan, David pake karpet berbulu gini di kamar?" herannya yang belum sadar bahwa keadaan di sekelilingnya telah berubah total. Boy pun bangkit tanpa menengok ke belakang. Ia hanya ingin mencuci wajahnya di kamar mandi. Ia berpikir mungkin sebab ngantuk jadi salah lihat angka.


Akan tetapi, Boy seketika terperangah karena bentukan kamar mandi di depannya ini tidak mirip dengan kamar mandi di rumah David. Seingatnya, David tidak mempunyai bathup apalagi shower. Akan tetapi hanya ember berukuran sedang untuk menampung air dan gayung yang bocor karena ulahnya semalam.


"Apa ini! Gua dimana! Gua siapa!" Boy terlihat memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Sepasang mata degan iris pekat itu menatap tak berkedip. Apalagi bathup di hadapannya begitu bagus. Serta ruangan bathroom ini begitu luas.


"Ini, kayaknya gua masih tidur dah. Buktinya, apa yang gua liat ini adalah khayalan dan mimpi," gumam Boy. "Berarti gua mesti pentokin kepala deh biar bangun."


DUGH!

__ADS_1


"Aduh!" Benar saja, Boy membenturkan kepalanya dengan sisi wastafel. Kemudian ia mengaduh keras sambil mengusap keningnya yang mungkin saja memar.


Aduh, Boy! Kenapa muka cakep lu bikin cacat! Nanti otor di marahin fans lu gimana!


"Kepala gua bahkan benjol. Kalo gitu, berarti ini semua nyata!" Boy kembali mematung kala sadar bahwa apa yang nampak di depan matanya ini adalah kenyataan bukan mimpi seperti apa yang ia pikirkan. Boy berlari keluar kamar mandi tak jadi membasuh wajahnya. Ia mencoba mencari David di ruang tamu.


Bukan mendapati kawannya yang mendengkur kencang semalaman. Boy, justru mendapati ruang tamu yang begitu mewah dengan seluruh properti rumah yang didesain begitu epik dan modern. Sofa, permadani, lampu hias menggantung, meja kristal, televisi LED berukuran raksasa dengan home teater komplit mejeng di lemari khusus. Jendela dan juga pintu yang di desain mewah dan berkelas. Wallpaper yang sangat dinamis dan harmonis dengan warna gordin juga marmer.


Boy, kembali berpikir. Apakah semalam ia salah masuk rumah?


" Gua yakin, semalem pulang kerumah si Zerenk. Soalnya rumah gua baru besok bisa ditempatin. Tapi, kenapa sekarang gua bangun tapi ada di kamar orang?" Boy meremas rambutnya merasa begitu bingung. Otaknya tak mampu lagi menerka untuk menyatukan persepsi yang ia tak habis pikir ini.


"Gua harus keluar!" Boy pun bergegas mencari pintu keluar. Tanpa sadar jika dirinya hanya mengenakan kaus oblong yang pres body. Hingga, otot bidang serta roti kotak kombinasinya begitu tercetak jelas. Bikin yang baca jadi ngeces bin traveling.


"Alamak!"


"Gua ada dimana?" Boy yang tidak menemukan jalan keluar utama, justru malah masuk ke dalam garasi dan melihat sebuah Porsche berwarna hitam metalik dengan garis merah pada bokongnya.



...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2