Sistem Kurir Mendadak Kaya

Sistem Kurir Mendadak Kaya
SKMK. Bab 15. Membujuk Untuk Dua Nyawa


__ADS_3

Boy ternyata tidak masuk untuk benar-benar buang air kecil. Pandangan matanya menelisik dan mendeteksi hal-hal yang sekiranya mencurigakan. Tapi tak ada apapun yang sekiranya bisa membahayakan nyawa. Gadis yang ia kenal ketika di gedung konsultan dan advokat itu. Sepertinya tidaklah merencanakan sesuatu. Apakah, perkiraan Boy salah? Mungkin, bukan gadis itu yang di maksud oleh sistem.


Boy memutuskan untuk kembali ke ruang depan. Sudah cukup ia menyelidiki di sekitar dapur dan ruang makan belakang. Tidak apapun yang mencurigakan baginya. Akan tetapi, ketika hendak kembali ke ruang depan, Boy menginjak sesuatu tepat di depan sebuah kamar.


"Apa ini, botol vitamin atau apa?" gumam Boy bertanya-tanya sambil memungut benda tersebut. Seketika kedua bola matanya terbelalak. Langsung saja, Boy mendobrak pintu kamar. Dan benar saja, di hadapannya gadis itu tengah menatap dengan nanar tablet-tablet obat penggugur kandungan di atas tangannya.


Plak!


Boy menepis hingga obat-obatan dengan bentuk kecil itu bertebaran di kasur dan di lantai..


"Jika kau meminumnya, bukan hanya keguguran! Tapi kau juga akan mati bersama janin di dalam rahimmu!" bentak Boy, refleks.


"Biar saja aku mati bersamanya! Buat apa juga kami hidup jika hanya akan menanggung malu! Sementara, kekasih ku ternyata tidak menginginkan kami lagi berada di sisinya!" teriak gadis yang ternyata sudah tak gadis lagi itu, histeris.


Segera Boy menutup rapat pintu kamarnya. Takut jika teriakannya terdengar keluar. Hilang sudah rasa kantuknya. Mendadak pusing iya kepalanya. Mendapati, tugas berat dari sistem yang akan kembali membuat jantungnya kempat-kempot.

__ADS_1


"Bunuh diri, bukanlah sebuah jalan keluar dari setiap masalah. Apalagi, jika masalah itu kau cari dan mau ciptakan sendiri. Apa kau tau? Setiap masalah dalam hidup bukanlah datang dari pemilik semesta. Akan tetapi dari dalam diri manusia itu sendiri. Kita yang mencari masalah, lalu dengan pikiran dangkal, jiwa yang picik. Serta merta menyalahkan keadaan. Meratapi nasib! Bukankah, kau seharusnya mencari solusi. Bagaimana menghadapi masa depanmu? Bagaimana, menjaga diri dan juga janin dalam perutmu. Perbuatan kalian yang telah menghadirkannya ke dunia. Lalu dengan segampang itu kau ingin meniadakannya?" cecar Boy, tegas. Membuat gadis itu terpekur tak berdaya.


Raganya gemetar hebat, dengan Isak tangis yang terus mengalun dari bibirnya. Menaikkan lutut, lalu memeluknya dengan erat.


"Lalu aku harus bagaimana? Ini buah kesalahan kami berdua. Kenapa harus aku yang menanggungnya seorang diri? Apa yang harus aku katakan kepada keluarga ku nanti?" isak gadis itu semakin menjadi.


"Masalah itu harus di hadapi dengan cara berpikir yang dewasa dan berani. Bukankah kau sangat berani ketika melakukannya tanpa memikirkan bagaimana nanti efeknya kebelakang? Apa aku memikirkan nasib keluargamu atau bahkan nasib bayi yang akan hadir nanti tanpa hubungan yang sah? Lalu kau semudah itu ingin kabur lari dari tanggung jawab dengan cara membunuhnya?" cecar Boy terus membaut gadis itu semakin terpojok dan menyadari kesalahannya.


Untung saja, Boy masih bisa menahan hawa napsunya. Jika tidak, mungkin akan ada sosok yang nanti akan di rugikan dari hubungan yang semu. Dia susah sekali untuk mendapatkan keturunan. Lalu, ada seseorang yang dengan seenaknya ingin membunuh nyawa yang dititipkan dalam rahimnya seperti ingin menghabisi nyawa tikus saja. Bagaimana ia tidak geram.


"Karena kau memang salah, kau menimbun kesalahan sebelumnya dengan kesalahan yang lain. Menimpa perbuatan buruk mu dengan perbuatan yang lebih buruk lagi! Seharusnya, kau sadar, bahwa ini adalah peringatan. Setiap perbuatan pasti akan ada konsekuensinya. Jadi terimalah. Perbaikan dirimu, dan jalani hidup dengan cara yang lebih baik lagi. Bukan malah sebaliknya!" tutur Boy masih dengan cara bicaranya yang tegas namun tidak mendiskriminasi. Menyentuh sisi waras dari manusia yang egois.


Gadis itu, hanya bisa terisak meski sudah tidak histeris seperti tadi. Mungkin, kata-kata dari Boy sudah nyangkut ke dalam otak dan juga hatinya. Terlihat dari gerakan tangannya yang menyusut air mata juga napasnya yang menghela berat.


"Lalu apa yang sekarang harus aku lakukan. Aku tidak sanggup melewati semuanya sendirian. Aku harus berkerja, untuk menghidupi keluarga ku di desa. Sementara, perut ku semakin lama akan semakin membesar. Apa yang harus aku katakan pada mereka?" rengek gadis itu pada Boy. Membuat pria tampan ini mengusap wajahnya kasar.

__ADS_1


"Temui pria itu. Kejar pertanggung jawabannya. Kalau perlu datangi keluarganya. Jadilah wanita yang pintar, kau itu bukan korban. Akan tetapi pelaku. Jadi, jangan sekali-kali limpahkan kesalahan kalian pada calon bayi yang tidak berdosa itu!" saran Boy dengan tetap menggunakan nada bicara yang tegas.


"Bagaimana cara aku menekannya? Aku bahkan tidak tau di mana orang tuanya. Kami, baru kenal beberapa bulan dan aku sangat tergila-gila padanya. Aku tidak pernah mencari tau siapa dia gak keluarganya," sesal gadis itu merutuki kebodohannya sendiri.


"Kau tau sosial medianya?" tanya Boy, yang terlihat sekali tengah menahan geramnya. Jika sudah begini wanita akan menyalahkan laki-laki. Padahal banyak sekali contoh jika mereka duluan yang memancing dan memberi lampu hijau. Pria mana yang tahan akan godaan nikmat di hadapannya. Seperti kejadian beberapa saat yang lalu. Dimana kala itu, Paula terus memancing gelora kelelakiannya. Bagus saja, akal sehat masih mendominasi. Atau bisa dikatakan, Sistem yang menggagalkan segala rencana kotornya. Meskipun dalam otak Boy tadi hanya sekedar ingin merasakan bibir ranum Paula. Tapi, siapa yang tau jika semua yang berawal dari penasaran akan berakhir menjerumuskan.


"Tidak, tapi aku tau kantornya," jawab gadis itu seraya menunduk malu.


"Siapa sih, pria yang berengsek dan bermental tempe itu!" heran Boy penasaran. Dia saja ingin sekali punya bayi, lah ini malah tidak mau mengakui.


"Mas, tidak akan mengenalnya. Dia sangat tampan, jadi wajar jika aku terjebak pesonanya. Namanya, Jack Potter.


JEGGEERR!


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2