
"Gua ini bukan penjahat kelamin, lu kan tau gimana sifat gua, tem," sahut Boy pelan, membalas kata-kata sistem dalam otaknya.
[ Terserah, Tuan. Sistem telah menyiapkan apa yang anda butuhkan dan inginkan. Selamat, menikmati peran sebagai Presdir baru. Dengan kepandaian yang anda miliki saat ini, perusahaan pasti akan semakin maju. ]
" Oh iya, gua kan udah punya hampir semuanya. Kekuasaan, kekayaan, kekuatan juga ketampanan. Apa ini tandanya, lu akan pergi, tem?" tanya Boy, perasaannya mengatakan jika sistem akan menghilang.
[ Sistem, tidak akan pergi jauh. Sistem telah menyatu dengan, Tuan. Mungkin, interaksi kita yang akan berkurang. ]
"Karena tidak ada misi, lu jadi kagak bisa lagi memberi perintah. Oh, senangnya. Kita tetap akan sering berinteraksi, tem. Gua bakal sering pake kuasa teleportasi dan juga avatar. Seenggaknya, gua bisa gunain kuasa itu tanpa sebuah misi apapun," terang Boy lagi pada sistem.
[ Karena itu saya katakan. Sistem telah menyatu dan dapat, Tuan gunakan sesuka hati. Anda pria yang bijak, sehingga tidak akan memanfaatkan kuasa ini untuk kepentingan pribadi. ]
"Oke, tem. Gua ngerti. Gomawo!" seru Boy pelan dengan senyum lebar sehingga menampilkan giginya yang rata dan putih. Ruangan itu telah sepi, sehingga tidak akan ada yang merasa aneh melihat seorang pria tampan berbicara sendirian.
Ternyata tidak juga. Di balik pintu terdapat sepasang mata indah dengan bulu mata lentik mengerjap beberapa kali, bingung. Mungkin, ia merasa aneh saat pertama kali dipikirnya dalam ruangan itu memang masih ada beberapa orang.
Wanita berpakaian formal nan elegan itu, mundur beberapa langkah lalu membelakangi pintu yang sedikit terbuka. "Ku pikir, tadi Presdir sedang bersama seseorang. Tapi, ternyata ... dia berbicara seorang diri." Sachi membatin seraya membekap mulut dengan satu tangannya. Sementara tangan satunya lagi tenaga memegang nampan dimana di atasnya terdapat cangkir berisi kopi espresso.
"Masuk tidak ya?" Sachi pulang pergi dengan pikirannya sendiri. Mau balik badan, kok dia ngeri. Mau balik ke pantry tapi ini adalah pesan dari asisten Chung. Pria itu mengatakan bahwa Presdir mereka menyukai kopi hitam panas. Sebab, itulah Sachi berinisiatif mengantarkan kopi ke ruangan sang Presdir baru.
Masih dalam kebingungannya, Sachi memejamkan mata. Menghela napas dan mengatur ritme detak jantungnya. "Tarik napas ... buang ...! Tarik lagi ... bu--"
__ADS_1
"Kamu ngapain?"
"Akh!" Sachi seketika berbalik dan ...
Prakhh!
"Ashh ... panas!" teriak Boy, tatkala kopi espresso panas tumpah mengenai dadanya. Kemejanya yang berwana putih berubah hitam seketika.
"Astaga! Dewa Apollo!" pekik Sachi yang kaget melihat akibat ulahnya sendiri. Dirinya semakin panik ketika melihat wajah kesakitan dari Presdir baru perusahaan tempatnya mengais rejeki untuk membeli berlian ini.
"P–pak, ma–maaf, anda tidak apa-apa kah?" gugup Sachi membuatnya terbata-bata. Tanahnya reflek terulur ikut mengusap kemeja, Boy bermaksud membersihkan tumpahan kopi.
Asisten Chung memekik kaget melihat apa yang tengah terjadi pada pemimpin baru mereka saat ini. Bahkan, wajah Boy memerah menahan panas di bagian dadanya.
"Cepat ambilkan air dingin! Lalu, panggil Office Boy kesini!" titahnya tegas. Asisten Chung adalah asisten yang sangat kompeten dan tegas. Tidak boleh ada sedikit pun kesalahan dalam lingkungan Presdir mereka. Akan tetapi, Sachi baru saja melakukan satu kesalahan besar. Mereka semua yang berada satu divisi mungkin riwayatnya akan tamat sebenar lagi.
"Maafkan, kebodohan kami, Presdir Boy." Asisten Chung menunduk dalam. Ia bahkan tidak berani mengangkat kepalanya sebelum Boy menjawab ucapannya.
"Kenapa kau masih menunduk? Bangunlah!" titah Boy. Ia tau jika para karyawannya ini takut padanya. Sebab, kelakuan Presdir yang lama telah masuk ke dalam memorinya. Sehingga, Boy tahu bahwa ia tidak boleh melakukan hal yang sama.
"Aku tidak apa. Jangan menggangguku dulu. Kau jaga saja pintu ini," ucap Boy pada asisten Chung. Tentu saja hal itu sontak membuat pria kurus tinggi dengan wajah serius ini mendongak dengan raut wajah bingung sekaligus keheranan. Mulutnya membentuk huruf O, akan tetapi ia buru-buru tersadar dan langsung mengangguk.
__ADS_1
"Presdir tidak marah? Dia tidak menghukum ku? Ah?" Chung masih mencerna kejadian barusan. Terlihat, Sachi berlari kearahnya "Asisten Chung, ini air es dan juga--"
"Berhenti di sini. Presdir tidak mau di ganggu," potong asisten Chung.
"Tapi, luka bakarnya--"
"Apa perintahku kurang jelas! Semua karena ulahmu. Hari pertama Presdir menjadi buruk! Sebaiknya kau tunggu saja nasibmu yang akan lebih buruk lagi!" tegas asisten Chung, tepat di depan wajah Sachi.
Tentu saja hal itu serta merta membuat wanita ini gemetar fan hampir menangis. Namun, Sachi berusaha menguatkan dirinya dan juga hatinya. "Semua memang salahku, salahku ...," gumamnya lirih. Sachi memejamkan matanya berusaha menyiapkan hatinya dari segala kemungkinan terburuk.
Sachi dan Chung, sama-sama terdiam menanti takdir mereka. Akan tetapi tiba-tiba ...
Klek!
Keduanya terkesiap, hingga mematung bak patung batu.
"Kalian berdua, ikut aku!" ajak sang Presdir yang berjalan tegak melewati mereka. Tampak baik-baik saja dengan kemeja serta jas yang baru. Sama sekali tidak nampak baru saja terluka karena tersiram kopi panas. Bahkan, raut wajah itu masih sama. Ramah dan low profile.
Sachi dan Chung saling pandang, bingung.
...Bersambung ...
__ADS_1