
Boy, menguasai hatinya melangkah memasuki gedung megah nan elit. Seorang pria menghampirinya. Ia memperkenalkan diri sebagai asisten pribadi. Serta seorang wanita cantik juga mendekat seraya, memperkenalkan diri sebagai sekretarisnya. Sedangkan, belasan anggota staf lain telah berbaris di kanan dan kiri. Menyambut kehadiran Boy sebagai Presdir mereka dengan penghormatan.
"Selamat datang, Presdir Boy Kutzhel!" ucap mereka serempak seraya menundukkan kepala. Boy mengikuti arahan dan informasi yang telah ia terima secara beruntun di dalam kepalanya. Memasang senyum kharismatik sepanjang hari membaut aura gedung itu terasa berbeda dari sebelumnya.
"Kiyowo! Presdir baru kita macam malaikat saja. Begitu menawan dan memukau. Ah ... sepertinya penyakit asam lambungku tidak akan pernah kambuh lagi!" pekik tertahan salah satu staf wanita yang kemudian diiyakan oleh beberapa kawannya. Mereka cantik dan elegan serta berotak pintar. Sesuai dengan motto perusahaan ini yang berbasis tekhnologi serta pengetahuan.
"Tuan, muda. Ini ruangan anda yang baru saja kami renovasi sesuai dengan keinginan dan juga karakter pribadi anda. Semoga anda puas, terhadap hasil kerja kami," ucap sang asisten yang bernama Chung ini. Tubuhnya tinggi kurus, serta berkacamata.
"Kamsahamnida," ucap Boy dengan seulas senyum ke arah asisten pribadinya itu. Tentu saja hal itu langsung di balas dengan adegan membungkukkan badan dari Chung.
"Apa agenda hari ini?" tanya Boy seraya membuka laptop di atas meja kerjanya. Boy, di masa lalunya hanya pernah bekerja sebagai staf administrasi. Merasa sedikit bingung dengan pekerjaan sebagai direktur yang akan memimpin perusahaan sebesar ini. Namun, segala informasi yang telah memenuhi otaknya secara singkat tadi lagi membuatnya lebih percaya diri untuk menjalankan perannya saat ini.
"Saya akan memanggil Sachi agar dia menjelaskan dengan detil apa agenda, Tuan hari ini," ucap Chung, menunduk kemudian berlalu keluar.
Boy, menatap ke depan lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangannya yang mewah dan berteknologi canggih. Ia menekan bagian bawah ujung meja. Terdapat beberapa tombol, dan ... tirai jendela pun terbuka menampilkan suasana luar gedung.
Boy, menekan tombol lain lagi yang mana informasi ini telah ia terima barusan. Seketika tak buku di hadapannya bergerak memutar. Di sanalah, Boy menemukan sebuah ruangan mewah bak kamar hotel yang dapat ia gunakan kala penat melanda.
__ADS_1
"Ah, semua ini luar biasa. Gua speechless, sumpah. Sistem, lu keren abis! Gomawo!" seru Boy, dengan raut wajah senang dan puas liat biasa. Tidak pernah ia bayangkan sebelumnya jika kekayaan serta kekuasaan ini akan ia miliki dalam waktu beberapa bulan saja.
"Permisi, Presdir Boy," ucap wanita cantik nan anggun, masuk begitu elegan menghampiri, Boy. Rambutnya yang ikal bergelung menggemaskan dan menjuntai di bahunya. Meskipun pakaiannya sopan, akan tetapi bentuknya yang memang press body tidak mampu menutupi lekuk tubuh indah dari sekretaris Boy ini.
"Jelaskan apa saja agenda ku hari ini?" tanya Boy yang berusaha dengan susah payah mengontrol mata dan juga isi dalam pikirannya.
"Baik, Tuan akan saya jelaskan," ucap Sachi lembut dengan senyum terus terukir di wajahnya yang segar dan cantik.
"Silahkan!" Boy mengarahkan tangannya menunjuk kursi di depan agar sang sekretaris duduk manis.
"Tidak, Tuan. Biar begini saja," jawab Sachi yang ternyata juga tengah berusaha menguasai dirinya. Wanita itu, ternyata begitu terpesona akan aura Boy Kutzhel yang luar biasa memikat dan menarik bak magnet ini.
"Jelaskan, agendaku pada hari ini!" pinta Boy, tegas. Aura kepemimpinan nampak jelas menguar dari dalam dirinya.
"Baik, Tuan. Hari ini anda akan memimpin rapat pertama direksi. Sebagai pemimpin baru perusahaan ini," jelas Sachi dalam satu tarikan napas saja.
"Baiklah, persiapkan semuanya!" titah Boy lagi.
__ADS_1
Sachi pun menunduk sekilas dan segera berlalu. Para dewan direksi telah menunggu pemimpin baru dari perusahaan ini. Mereka penasaran dan tidak sabar untuk melihat dengan mata kepala sendiri. Sebab, menurut desas-desus, Presdir baru mereka adalah sosok pria tampan mempesona yang sangat humble. Berbeda dengan Presdir lama mereka. Dimana perusahaan ini hampir bangkrut karena sang pemimpin tak dapat menjalani bisnis dengan baik.
Tap Tap Tap.
Langkah tegap terdengar berirama memasuki ruangan luas dengan meja panjang berbentuk huruf U serta setiap kursi yang menyertainya. Para anggota dewan direksi yang terdiri dari beberapa wanita dan sebagian besar lagi adalah laki-laki berumur. Menatap tak berkedip pada sosok tinggi tegap berkharisma bak dewa Yunani ini. Boy, memiliki ketampanan level tinggi saat ini. Siapapun, entah pria maupun wanita akan terkesima. Sebab, tidak ada kesombongan, bahkan seulas senyum tipis nan hangat tercetak menawan pada wajahnya.
Mereka pun meyambut sang Presdir dengan menundukkan tubuh serentak. Boy, pun membalas dengan melakukan hal yang sama.
"Silakan duduk kembali, dewan direksi sekalian. Perkenalkan, saya Boy Kutzhel. Presiden direktur baru di perusahaan ini. Mohon bimbingannya, agar kita sama-sama bekerja keras dari dalam hati. Untuk kembali memajukan perusahaan ini hingga di pandang dunia," ucap Boy begitu tegas dan lugas.
"Selamat datang, Presdir Boy!" seru mereka semua serempak.
Boy, kembali menaikan salah satu sudut bibirnya keatas. Hingga, senyum tipis itu kembali hadir menghiasi wajah tampannya yang sangat sedap dan rugi untuk tidak dipandang.
'Menjadi, sosok yang begitu dihormati dengan kekuasaan dan kekayaan yang di miliki. Di kelilingi kemewahan serta wanita-wanita cantik. Sebenarnya ini perusahaan atau agency film? Kenapa, para staff wanitanya secantik model papan atas semua?' batin Boy berdecak kagum. Pasti siapapun akan betah jika setiap hari melihat pemandangan indah begini.
'Sampai kapan iman dan imin gua bakalan tahan kalau begini?' batin Boy lagi, yang kemudian disahuti oleh sistem.
__ADS_1
[ Jangan di tahan, Tuan Bos! Nanti jadi jerawat bahkan bisul. Nikmati saja! Semua ini adalah rejeki dari hasil kerja keras anda! ]
...Bersambung ...