
Tak!
Duagh!
Boy menepis tangan Jack yang melayangkan sabetan dari sebuah benda tajam berbentuk pisau lipat, lalu mendorong tubuh Jack dengan satu tangannya. Tetap tenang dan santai, akan tetapi gerakan Boy tersebut, ternyata mampu membuat Jack Potter tersungkur. Kening serta hidungnya mencium lantai marmer dengan keras.
"Sial! Kenapa tiba-tiba tenaganya begitu besar. Tangannya ku bahkan merasa nyeri sekali. Sementara itu, Boy tetap tenang seakan tak bergeming dari tempatnya berdiri." Jack bergumam, sambil berusaha bangun. Ia mendengus ketika melihat senyum remeh itu terbit di wajah Boy yang entah kenapa terlihat begitu bersinar.
"Kurang ajar! Kau terlalu ikut campur urusanku!" hardik Jack yang kembali berlari maju seraya mengarahkan serangan membabi-buta kepada Boy.
Boy cukup menghindar, menangkis. Bahkan ia sama sekali tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya berdiri. Merasa puas bermain, Boy menangkis pukulan dari Jack dengan menangkap lalu memutar tangannya, hingga tubuh Jack juga ikut berputar di udara. Dengan secepat kilat, Boy pun mengarahkan pukulannya menggunakan sebelah tangannya ke perut Jack.
Bugghh!
"Uhukkk!" Jack terbatuk-batuk dan langsung memuntahkan cairan berwarna merah segar dari mulutnya.
"Akh!" Lilian berteriak keras lantaran Jack muntah darah begitu banyak. Ia pun berlari menghampiri pria itu. Namun sayang, ketika sampai mendekat Jack malah mendorongnya dengan keras. Pria berwajah macam kanebo kering itu begitu di penuhi emosi. Ia kembali bangkit dengan susah payah untuk kembali berusaha menghajar Boy Kutzhel. Padahal, menyentuhnya saja ia tak bisa.
"Kau telah mengacaukan segalanya. Atas hak apa kau mencampuri urusanku dengan gadis kampung bernama Molly, yang tengah hamil itu!" teriak Jack. Ia telah berhasil mencekal kerah kemeja, Boy. Sengaja, Boy diam tak melawan. Baginya, Jack bukanlah lawan yang setimpal. Kalau mau, bisa saja pria yang berlagak dihadapannya ini, hancur luluh lantak.
"Kau yang salah, tapi memarahiku!" Boy menyeringai, lalu kemudian ...
Bugh!
Boy mengarahkan tinju dengan seperlima tenaga yang ia miliki. Namun, hal sekecil itu saja sudah mampu membuat Jack Potter tersungkur mencium ujung sepatunya. Boy, mundur agar muntahan Jack tidak mengotori sepatu mahalnya itu.
"Sakit, sekali!" Jack mengeram menahan nyeri yang teramat sangat pada ulu hatinya. Kali ini ia merasa tak lagi memiliki kekuatan untuk bangun.
Entah siap yang tengah ia hadapi saat ini. Terlihat santai dan tenang, akan tetapi tenaga yang di keluarkannya mempu membuat Jack yang bertubuh kekar yak berkutik.
__ADS_1
"Kenapa, dia menjadi kuat seperti itu? Aura dan pembawaannya yang tenang justru menakutkan. Seperti bukan pria pecundang lemah yang selama ini hidup bersamaku dan ku bodohi. Jack, yang kuat dan pandai beladiri, bahkan dibuat bertekuk lutut hanya dengan satu pukulan. Aku harus bisa mengambil hatinya kembali. Aku harus mendapatkannya. Aku tau, Boy pasti masih mencintaiku. Pria bucin sepertinya, pasti akan mudah ku taklukkan kembali," gumam Lilian dengan seringai licik yang tercipta dari bibir merah marunnya. Ia bahkan tak perduli dengan keadaan Jack yang pingsan.
"Boy! Tunggu, honey!" panggil Lilian, membuat Boy sontak menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Entah, dari hadapanku! Atau, kau akan bernasib sama dengan pacar mu itu!" ancam, Boy, seraya menunjuk raga Jack yang tertelungkup di belakang Lilian.
Sorot mata, Boy yang tidak seperti biasa ia lihat ini membuat nyali Lilian ciut seketika. Tungkainya bergetar, aura mantan yang tersakiti ternyata begitu menakutkan.
"Ka–kau, tidak mungkin seperti itu padaku, kan, honey?" Lilian masih mencoba untuk merayu pria yang telah mengeraskan rahangnya ini. Tatapannya begitu tajam dan tegas. Boy menaikkan seringainya terlihat muak. Meskipun, wanita di hadapannya sangatlah cantik dan seksi. Lilian telah membuangnya bagai sampah tak berarti. Menolak permohonannya yang tak inginkan perpisahan mereka kala itu.
"Aku tau kau masih mencintaiku, kan!" Lilian bahkan memberanikan dirinya untuk meraih pergelangan tangan Boy. Di luar dugaan, Boy menarik dan mencekal tangannya kuat. Hingg kini raga mereka tanpa jarak.
"Cintaku padamu telah terbawa oleh angin dan debu. Habis tak tersisa sedikit pun. Tak ada alasan bagiku untuk kembali padamu meski dalam mimpi sekalipun! Ketahuilah, bahwa wanita yang pantas berada di sisiku. Bukan wanita sembarangan! Kau akan melihatnya nanti. Satu hal yang pasti, kau tidak akan sebanding dengan mereka!" ucap Boy penuh penekanan, membaut Lilian hanya mampu menelan ludahnya karena wajah Boy begitu dekat. Hingga napas berbau mint itu menguasai otaknya.
Setelahnya, Boy menghempas lengan Lilian, hingga wanita itu agak mundur dan limbung. Lilian berusaha menguasai napasnya yang tidak beraturan. Isi otaknya ngeblenk seketika. Pesona, Boy sungguh membuatnya gila. Bagaimana pun, ia harus mendapatkannya kembali. Hasratnya telah dibuat mendidih sesaat tadi. Lilian pun kembali mengingat kebersamaan dan kemesraan mereka kala itu. Membuat ia mengusap dada serta berakhir dengan memeluk diri sendiri. " Sial kau, Boy. Sentuhanmu yang sedikit itu saja telah membuatku kembali tergila-gila padamu. Jangan panggil aku Lilian Judies, jika aku tidak bisa mendapatkan mu kembali!" gumamnya masih dengan napas yang tersengal-sengal.
TLINIING!
Begitulah pesan dari sistem yang berhasil, Boy buka pada aplikasi misterius di dalam ponsel mewahnya itu. Boy, kini berada di sebuah koridor yang sepi. Menelaah dan mengartikan setiap kata dan kalimat. Tetap saja ia tak mengerti. Satu pesan lagi masuk. Memberikan alamat pengambilan paket.
"Sebuah rumah sakit besar? Temui Dokter, Fransisca? Huh, kenapa lagi-lagi harus perempuan!" gerutu Boy. Ia pun memasukkan kembali ponselnya kedalam saku dan memutuskan untuk melihat penampilan terakhir dari Susan. Sebelum ia melangkahkan kaki memasuki ruangan pertunjukan konser mini. Ponselnya kembali berdering.
Kali ini sebuah panggilan dari nomer ponsel ...
"Susan? Apa ia takut aku pergi sampai menelepon," gumam Boy dengan kekehan kecil dan gelengan kepala.
"Halo, cantik--"
[ Boy, ini aku, Cia!]
__ADS_1
[ Susan, di larikan kerumah sakit karena terkena serangan jantung. Susul kami! ]
"Aku segera datang!" Tanpa banyak berpikir lagi, Boy mencari lift untuk turun ke basemen. Hatinya tak karuan. Ia merasa jika Susan dan Cia memang tengah menyembunyikan sesuatu darinya.
Boy memasuki kendaraan mewah beroda empat itu dan segera meluncur dengan cepat.
_____
"Lepasin tangannya! Udah sampe nih!" seru David pada Agnes yang tengah merasa gemetar di jok belakang. Gadis itu seketika melepas rangkulannya yang melingkar di pinggang David. Memuat sang pengemudi senyum-senyum tak jelas.
"Kau ini mau mati, ya!"
Puk!
Satu pukulan sukses mendarat di punggung lebar David.
"Terimakasih, karena udah mengantarkan saya hingga selamat! Oh iya, sama-sama. Itu, bukan masalah!" oceh David menyindir Agnes, sambil mengusap bahunya yang rada nyeri. 'Tangan si boleh kecil, tapi manteb juga buat mukul. Kenapa tadi gak ngelawan sih ke penjahat!' batin David menggerutu kesal campur gemas.
"Makasi buat apa! Kau ini hampir membuat jantungku lepas dari sarangnya, tau tidak!" seru Agnes ketus, dengan napas yang tersengal-sengal lantaran emosi.
David mengorek kupingnya yang berdengung lantaran teriakan nyaring bin cempreng dari gadis tomboi yang manis di hadapannya ini.
"Itu namanya gaya! Ngerti aksi keren gak sih?"
Puk!
Cup!
...Bersambung...
__ADS_1
Sambil kalian nunggu up, baca karya kawan otor juga boleh banget dah ini. Yang suka beladiri cocok dah pokonya mah! Mangtabbb!