
"Kalian berdua, ikut aku!" ajak sang Presdir yang berjalan tegak melewati mereka. Tampak baik-baik saja dengan kemeja serta jas yang baru. Sama sekali tidak nampak baru saja terluka karena tersiram kopi panas. Bahkan, raut wajah itu masih sama. Ramah dan low profile.
Sachi dan Chung saling pandang, bingung.
"Kita diajak kemana?" tanya Sachi lewat gerakan bibir dan mata kepada sang asisten kaku. Chung, hanya menjawab dengan isyarat gerakan tangan yang berarti ikut saja. Jangan banyak tanya.
Serta merta hal itu membuat sang sekretaris cantik ini geram. Bagaimana jika sang presdir ingin menghukum mereka? Seketika tengkuk Sachi menjadi merinding. Belum pernah ia melakukan kesalahan sekecil apapun selama bekerja di perusahaan ini.
Tapi, hanya karena kelewat terkesima ia menjadi gugup dan kurang konsentrasi. Sehingga menyebabkan dirinya melakukan hal macam orang tak berotak. Sachi, dan Chung bergegas dengan langkah panjang mereka. Menaiki lift dan menyusuri lobi.
Langkah ketiganya berhenti tepat di sebuah gudang. Terkunci. Chung segera mencari, office boy yang memegang lantai dasar ini. Dalam kepalanya berputar berbagai tanya. Apa yang tengah Presdir mereka lakukan. Untuk apa mendatangi gudang dan membukanya.
__ADS_1
"Panggil satuan keamanan!" titah Boy setelah salah satu petugas bersih-bersih mencoba membuka gudang lama itu. Tentu saja hal itu membuat para pekerja lama, termasuk staf dan penjaga keamanan bingung. Kenapa presdir baru mereka begitu panik. Tau apa pasal isi gudang ini.
Pintu terbuka, keadaan gudang biasa saja. Sewajarnya gudang sebuah perusahaan dimana ruangan itu berisikan beberapa peralatan untuk menunjang pekerjaan di kantor. Beberapa alat yang sudah tidak terpakai lagi. Namun, semakin mereka ke dalam pemandangan asli semakin terkuak.
"Apa-apaan ini!" kaget Chung. Sebab, di area dalam gudang terdapat beberapa barang elekro yang masih layak pakai. Beberapa barang yang baru saja di ganti beberapa pekan lalu. Menurut laporan bahwa barang-barang tersebut telah rusak dan tak layak pakai. Ternyata ...
_____
"Terimakasih, Presdir Boy. Berkat ketelitian anda, perusahaan ini telah menemukan titik pusat dimana asal muasal kerugian selama. beberapa bulan ini. Kami para dewan direksi akan mengusut kasus ini hingga tuntas. Sekali lagi, kami sangat beruntung mendapat pemimpin yang begitu jeli seperti anda," Salah satu dewan komisaris mewakili dewan lainnya, memuji sepak terjang Boy yang belum seharian menjabat sebagai pemimpin mereka.
"Maaf, Presdir Boy. Di luar ada puteri dari sang pelaku yang ingin menemui anda!" lapor dari salah satu staff, dengan tubuh agak membungkuk ia memberitahukan situasi.
__ADS_1
"Bawa keruangan ku saja!" Seru Boy memberi perintah. Ia seakan telah membaca apa yang akan terjadi. Kecurangan dalam perusahaan ini bukan hanya di lakukan oleh Presdir lama mereka tapi juga berapa dewan direksi serta ketua divisi.
'Sistem sangat pandai. Membeli saham perusahaan ini dengan harga murah. Namun, setelah ku miliki selama sehari ... harga sahamnya naik sepuluh kali lipat.' batin Boy, ketika kedua mata pekatnya melihat deretan angka pada layar laptopnya.
Tok tok tok!
"Maaf, Presdir. Wanita itu menunggu di luar," lapor Chung, sedikit menunduk.
"Bawa dia masuk. Aku ingin tau apa yang akan dia katakan untuk membela ayahnya yang sudah jelas-jelas korup," ucap Boy, seraya menatap ke arah pintu. Ia ternyata sungguh penasaran, wanita seperti apa yang berani menemuinya itu. Padahal, sang ayah dengan jelas telah mencoreng nama keluarga mereka.
"Masuklah, dan ingat. Jaga kelakuan mu!" ujar Chung tegas memberi peringatan pada wanita muda ini. Apa yang dikatakan Chung barusan langsung diagguki cepat oleh wanita tersebut.
__ADS_1
"Presdir, Boy. Tolong ... habisi saja ayah saya!"
...Bersambung...