Sistem Kurir Mendadak Kaya

Sistem Kurir Mendadak Kaya
SKMK. Bab 31. Sistem Yang Mulai Menyatu


__ADS_3

Sepasang mata indah dengan iris hitam pekat itu membola. Tatkala, kecupan singkat dari David mendarat tanpa permisi ke bibirnya. Agnes, mendadak tak bisa bernapas. Ia kaget Bahkan bisa di bilang syok berat. Seumur hidup belum pernah ada pria yang berani memegang tangannya. Eh, ini malah nyosor tanpa aba-aba.


"Elu!" seru Agnes geram. Matanya menatap tak terima atas perlakuan dari pria yang masih bertengger santai di atas motor sambil memasang wajah tanpa dosa. Ingin rasanya Agnes mencakar saja wajah itu dengan kukunya. Tapi ternyata apa yang dipikirkannya tidak sesuai dengan tindakannya. Agnes justru malah memukul kembali David menggunakan kepalan tangannya. Akan tetapi, belum sampai pukulan itu mendarat, David sudah lebih dulu mencekal lengannya.


GREP!


"Tadi aja, sama preman-preman itu kamu gak berani mukul. Kenapa sama aku berani banget ya? Seharusnya itu, kamu baik-baik sama aku. Ini, terimakasih aja enggak. Tapi, kamu malah seenaknya aja mukulin aku terus! Padahal kalau mau kamu itu memiliki tenaga yang lumayan kuat untuk melawan. Tapi, kenapa giliran sama penjahat kamu cuma teriak-teriak aja?" cecar David begitu menohok. Sebab, ucapan pria itu memang benar adanya.


Agnes tidak bisa menjawab satu pun cecaran pertanyaan dari David yang memang sengaja di ajukan untuk menyindirnya.


"Anggap aja itu upah dari kamu! Dan aku siap bertanggung jawab di kemudian hari. Nih, nomer ponsel aku! Kali aja kamu kangen, nanti tinggal telepon aja," ucap David narsis sekalian menyodorkan secarik kertas ke depan Agnes.


"Upah apaan! Siapa juga yang mau nyimpen nomer ponsel kamu!" Agnes mendorong balik tangan David. Sialnya, David justru menarik tangannya dan membuka telapak tangan Agnes lebar-lebar. Kemudian, dengan cepat dan penuh percaya diri. David menuliskan dua belas digit nomer ponselnya. Hal itu pun sukses membuat Agnes mengeratkan gigi-giginya.


"Dasar, cowok narsis gilak!" umpat Agnes sambil lalu masuk kedalam hotel tempatnya menginap, bersama dengan para mahasiswa lainnya. Setelah sampai kamar, Agnes berniat untuk menghapus nomer yang ada di telapak tangannya. Tapi hal itu urung ia laksanakan, sebab terdapat note manis yang entah kapan di tulis oleh David di sana.


[ Telpon aku kalo ada yang jahat sama kamu! ]

__ADS_1


Itulah kalimat yang pria slengean itu ukir di telapak tangannya. Agnes pun tanpa sadar mengulas senyum yang sangat jarang ia ukir pada wajah manisnya itu. Dengan cepat ia memindahkan angka dua belas digit itu ke ponsel pintarnya.


"Hadeehh! Ngapa gua jadi terlibat sama tu cewek tomboi nyebelin begitu ya? Pake ngasih nomer hape pulak," gumam David sambil mengendarai motornya entah kemana.


Boy, yang sudah sampai di lobi rumah sakit pun dibuat kaget oleh sebuah pesan dari Cia. Manager Susan Kimberley.


[ Boy, maaf tidak menunggu mu. Susan Anfal! Kami langsung terbang ke Korea. Susul kami jika memang Susan berati untukmu. Sebab, sebelum dia pingsan ... Susan menyebut namamu. ]


Membaca kalimat demi kalimat pesan yang dikirim oleh, Cia. Entah kenapa, salah satu sudut hatinya bagai di tusuk oleh sembilu. Nyeri dan perih. Dadanya seketika sesak, bahkan bernapas pun sulit. Bagaimana bisa secepat ini? Kenapa, tau-tau Susan mengalami hal seperti ini? Sekelebat, kata-kata Susan ketika di kapal pesiar pun berseliweran pada kepala, Boy.


Boy, melajukan motornya dengan kecepatan tinggi hingga beberapa saat kemudian ia telah sampai kembali ke Villa mewahnya. Setelah sampai di dalam orang pertama yang ia cari adalah David kawannya. "Kemana tu anak?" gumam, Boy. Ketika dirinya tidak menepati sosok dari kawannya itu. Ketua pelayan menyapa, Boy hanya memerintahkan untuk menyiapkan keperluannya setelah mandi. Enaknya punya pelayan. Bahkan, air hangat pun sudah siap di dalam bathup. Boy hendak memburu waktu. Ia ingin segera menyusul Susan ke negaranya. Sebab itu ia hanya mandi di bawah guyuran shower saja.


"Tuan David sejak beberapa jam lalu keluar menggunakan motor milik tukang kebun, Tuan Muda,"ucap kepala pelayan yang tidak muda dan juga tidak terlalu tua itu. Kini, Boy sudah ada di meja makan dengan beberapa pelayan khusus yang akan menyiapkan kebutuhannya saat makan. Padahal, ini sudah tengah malam. Pelayannya ternyata bekerja selama 24jam penuh. Luar biasa bukan. Padahal, tadinya Boy berniat akan membuat mi instan sendiri. Tapi dirinya tersesat di dapurnya yang luar itu.


"Jadi begitu, ya. Oh, ya Pak. Saya mau ke korea satu jam lagi. Tolong, Pak Kim bereskan pakaian saya!" titah Boy. Enak juga, punya kekuasaan yang bisa memerintah seperti ini. Apalagi, apapun yang ia butuhkan ternyata semuanya sudah tersedia dalam Villa yang mewah ini.


"Baik, Tuan Muda. Saya akan menyiapkannya. Kalau boleh tau berapa lama anda akan pergi?" tanya Pak Kim. Kepala pelayan dengan kumis tipis yang bertengger di bawah hidung mancungnya. Lumayan tampan, untuk sekelas kepala pelayan.

__ADS_1


Boy yang baru saja menyelesaikan makannya sudah dikagetkan dengan kehadiran Pak Kim yang telah kembali dari kamarnya. Dengan menyeret sebuah koper lumayan besar. "Perlengkapan anda sudah siap, Tuan Muda," ucap Pak Kim membuat Boy terperangah.


Baru saja, Boy hendak menyahut ucapan Pak Kim. Sebuah suara mirip monitor kembali berdengung di kepalanya.


[ Aktifkan kuasa teleportasi! Portal akan di buka lima menit dari sekarang! Setelah mengambil paket, maka kekuatan level platinum akan menyatu dalam tubuh anda! Selesaikan Misi ini dengan cepat dan baik! Nyawa seseorang yang berhubungan dengan masa depan anda berada di tangan mu, Boy Kutzhel! ]


Boy hampir saja terjatuh dari kursinya. Sebab, ketika monitor sistem berbicara kepalanya seperti tersengat oleh listrik. "Anda tidak apa, Tuan?" tanya Pak Kim khawatir. Boy, menaikkan tangannya pertanda bahwa dirinya baik-baik saja. Tak lama kemudian ia pun segera berlari ke atas kamarnya menggunakan lift. Tentu saja hal itu membuat para pekerja bingung.


"Biasanya juga lewat notif. Kenapa perintahnya sekarang harus lewat kepalaku sih!" gerutu Boy, ia pun mengerjap-ngerjapkan matanya karena ada beberapa informasi yang seperti layar komputer di dalam pikirannya.


"Jadi, seiring misi yang semakin sulit maka kekuatan dan kemampuan yang kumiliki akan semakin bertambah. Lalu, apa maksud dari halangan yang nanti akan ku hadapi? Apa isi dari paket itu sebenarnya? Kenapa yang akan menghadang ku berpakaian hitam semua?" Boy bertanya-tanya seorang diri sambil terus melihat dirinya di cermin.


"Akh!" pekik Boy ketika sistem masuk kembali ke dalam kepalanya.


"Lewat hape aja napa, Tem! Gua kayak orang kena vertigo gini!" protes Boy pada sistem yang kini telah otomatis masuk ke dalam jaringan otaknya.


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2