
"Boy ..,"
Mendengar sebuah suara lirih yang lemah memanggil namanya, hal itu sontak membuat Boy seketika menoleh ke asal suara. Pada saat itulah ia mendapati raut wajah pucat spasi dengan bibir yang kering dan tatapan mata yang sayu.
"Susan!" Dalam keadaan kaget sekaligus senang, segera menghampiri Susan Kimberley yang telah siuman. " Bagaimana keadaanmu saat ini? Apa ada yang sakit? Katakan padaku bagian mana yang sakit itu," cecar Boy dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
Hal itu justru membuat, Susan tersenyum bahagia. " Aku, baik-baik saja ...," jawabnya lirih dan pelan. Dalam hatinya Susan bersorak girang. Ia sangat senang ketika pertama kali membuka matanya setelah operasi, orang yang pertama kali ia lihat adalah pria yang ia sukai. Namun, iya tidak dapat mengungkapkan perasaannya itu lantaran tenaganya masih belum pulih. Susan, masih kesusahan membuka mulutnya untuk mengeluarkan suara. Dirinya masih merasakan lemas dan juga sedikit pusing pada kepalanya.
"Jangan khawatir, Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan kesehatanmu seperti sedia kala. Sekarang, kau istirahat saja ya," saran Boy, refleks ia memajukan wajahnya untuk memberikan kecupan singkat pada kening Susan.
Sontak saja, apa yang dilakukan oleh Boy tersebut membuat sudut hati gadis cantik yang tengah terbaring lemah ini, seketika menjadi hangat. Susan yakin, jika Boy juga memiliki perasaan yang sama dengannya.
Sementara, Cia yang masih terduduk lesu lantaran cekikan dan dorongan dari Boy. Semakin geram dengan apa yang ia saksikan saat ini. Cukup sudah telinganya hampir tuli, kala Susan terus menceritakan bagaimana romantisnya Boy kala mereka berdua makan malam di atas kapal pesiar. Bahkan, Susan kala itu menceritakan bagaimana Boy mencium bibirnya. Tak ada satu hal pun yang tidak Susan ceritakan. Namun, hal itu ternyata seketika membangkitkan sisi iri dengki dari hati Cia. Akhirnya, ia memutuskan untuk menerima tawaran dari Madame Su.
"Hentikan kemesraan kalian! Harusnya kau mati saja!" Susan yang telah susah payah berdiri kembali menghampiri Susan untuk melepaskan tembakan dari sebuah senjata api kecil. Tentu saja hal itu membuat Susan maupun Boy seketika membulatkan kedua mata mereka.
Dalam hitungan detik, Boy telah memerintahkan sistem untuk ...
[ Berikan aku Avatar dewa kebal segala macam senjata!]
Kemudian, Boy mengulurkan telapak tangannya ke depan wajah Susan. Hal tersebut membuat Susan memejamkan mata dan menahan napas. Ia pasrah jika peluru tersebut menembus keningnya. Tapi, ia tidak merasakan apapun. Suana pun, perlahan membuka kedua matanya, dan yang terjadi adalah ...
"Boy ...," lirihnya menatap heran campur bingung kepada pria di sebelahnya ini. Ekspresi, Boy begitu kaku, rahangnya mengeras, tatapannya menyorot tajam pada Cia.
__ADS_1
Kedua mata Cia pun membulat sempurna tatkala tembakannya mampu di tahan oleh telapak tangan Boy. Lutut wanita itu seketika gemetar menyaksikan hal aneh yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Bagaimana bisa? Mana mungkin? Siapa dia sebenarnya? Itulah beberapa pertanyaan yang berseliweran di dalam kepala Cia.
Boy, menggenggam timah panas berukuran sekitar dua milimeter itu. Lalu, ketika Boy membuka telapak tangannya, kedua mata Cia pun sukses hampir loncat dari rongga kelopaknya. Sebab, selongsong peluru itu telah hancur menjadi butiran debu.
Wanita cantik itu mundur beberapa langkah, seketika senjata api itu lepas dari genggaman kedua tangannya.
Prak!
Boy, justru melangkah mendekat ke arah Cia yang terus mundur hingga pinggangnya menabrak ujung nakas.
"Si–siapa ... kau!" tanya Cia terbata dengan kedua bibir gemetar. Sebenarnya seluruh tubuhnya kini bergetar hebat. Aura wajah pria yang sebelumnya ia puja itu, kini berubah menjadi begitu dingin dan menakutkan. Seakan ingin menyantapnya hidup-hidup.
"Aku, Boy! Jangan bilang kau lupa!" hardik Boy keras yang mana hal itu langsung membuat Cia terperanjat kaget. Mendapat teguran kencang serta tatapan yang begitu tajam membuat Cia merasa jika dirinya saat ini tengah dikuliti. Rasanya perih dan sakit bukan main. Perlahan air mata itu turun membasahi kedua pipinya. Ia telah terpojok ke sudut dinding, sehingga tak dapat mundur lagi. Boy,menekan bahunya kuat hingga Cia berteriak.
Terdengar bunyi ' Krekkk '.
Mungkin lantaran Boy masih menggunakan Avatar dewa kebal senjata. Juga, Boy yang emosi lupa jika tenaga yang ia keluarkan cukup besar.
"Sekarang kau menangis? Kemana sikap villain mu barusan! Bukankah, baru saja kau berteriak sambil menodongkan senjata kepada majikanmu yang terbaring lemah di sana!" teriak Boy di depan wajah Cia yang sudah basah berlinang air mata.
"Lepaskan aku ... huhu ... ini sangat sakit!" rintih Cia, tanpa menggubris makian dari pria tampan yang kini sangat membuatnya ketakutan itu.
"Katakan, apa alasan perbuatanmu terhadap Susan!" hardik Boy dengan masih menggunakan nada tinggi.
__ADS_1
"Argh!"
Mendengar Cia terus menjerit dan meringis, Boy menjauhkan tangannya.
"Tanyakan saja sama dia! Aku tidak akan begini jika bukan karena ibunya yang telah membuat mamiku bunuh diri!" pekik Cia histeris.
Sepasang iris pekat Boy, membulat sempurna. Apalagi ini? Sebuah dendam. Menciptakan musuh dalam selimut.
Di atas brangkar, Susan terisak hingga napasnya sesak. "Semua, bukan salah ibu ... bukan salah ibu ...," lirih Susan tergugu.
"Haih, awas saja kalau hadiahku tidak keren. Kepalaku pusing kau tau," bisik Boy pada sistem di dalam kepalanya.
Sorry guys ... pembacaku terkeren sejagad hokage.
Otor ijin slow update ya untuk cerita ini.
Kudu semedi gan😎 nyari si Ilham sama Edi yang kadang suka minggat gak bilang-bilang.
Cerita ini harus keren dan ganteng kayak otor, whehehehehe.
Tengkiyu buat yang masih setia.
Jangan lupa dukungannya.
__ADS_1
Salam Pecinta Halu!