Sistem Kurir Mendadak Kaya

Sistem Kurir Mendadak Kaya
Bab. 36. Pengungkapan Kejahatan


__ADS_3

"Saya ... Boy, kawan dari Susan," ucap Boy yang kini telah menjadi dirinya semula. Ia meletakkan raga Su ke atas sofa. Wanita paruh baya itu akan tertidur lumayan lama. Setidaknya sampai, Boy berhasil mengorek informasi dari pria yang kini hanya bisa duduk diatas kursi roda.


"Kawan, putriku? Sejak kapan, dia memiliki kawan seorang pria?" heran Pria bermarga Jung itu menelisik ke wajah Boy.


"Sempurna. Gagah, tampan dan berwibawa," puji Jung tanpa sadar mengalir begitu saja untaian itu keluar dari mulutnya.


" Belum lama, tapi kami cukup dekat akhir-akhir ini. Oh, ya. Apakah anda tau, jika Susan kini tengah menjalani operasi transplantasi jantung?" tanya Boy berusaha mencari tau, apakah pria di atas kursi roda ini juga ikut terlibat.


"Ya aku tau, jika putriku itu memiliki masalah pada jantungnya. Tapi, aku baru tau kalau kenyataannya ternyata separah ini," ucap Jung lirih. Nampak sekali penyesalan dalam diri pria paruh baya itu. Di wajahnya masih terlihat sisa-sisa ketampanan, hanya saja pria ini terlihat kurus tak terurus. Penyakit yang bersarang di dalam dirinya terus menggerogoti keperkasaannya secara perlahan.


"Berdoalah untuk putrimu. Aku yakin, jika dirinya akan kembali sehat seperti pertama kali aku bertemu dengannya. Operasi itu pasti berhasil. Berapa lama anda tak bertemu dengannya?" kulik Boy.


"Lama sekali ... mungkin sekitar hampir tiga musim," ucap Jung pelan, nampak sekali kesedihan dan juga kerinduan di pelupuk mata sendunya.


"Apa yang membuat kalian berpisah selama itu? Apa mungkin, Susan tidak tinggal di mansion ini?" cecar Boy yang sudah tak sabar menanti akhir dari informasi yang ingin ia ketahui.


"Semenjak menjadi idol, Susan tidak pernah peduli pada kami. Terutama padaku. Ia merasa bahwa dirinya sudah memiliki segalanya, termasuk harta tahta dan juga penghormatan. Susan, seakan tak butuh lagi marga keluarga. Ia bahkan mengganti namanya," tutur Jung lirih, kini bahkan terlihat beberapa bulir air mata mulai menyusuri kedua pipinya yang tirus.


"Bagaimana, anda bisa mengatakan jika Susan tidak lagi peduli? Bukankah sebaliknya? Anda yang tidak memperdulikannya?" cecar Boy lagi semakin ingin mengorek lebih jauh. Sepertinya ada bongkah kesalahpahaman di sini. Boy yakin, jika kedua ayah dan anak ini adalah korban playing victim dan juga jurus racun adu domba.


"Mana mungkin, saya hanya inginkan kebahagiaan untuknya. Menikahkannya dengan pengusaha hebat yang juga pria penyayang. Tapi, Susan membantah lalu pergi dari mansion." Jung berkata sambil sesekali mengusap ujung matanya.

__ADS_1


"Apa iya, hanya itu? Apa tidak ada alasan yang lain? Atau, apakah memang Susan mengungkapkannya sendiri pada anda?" Boy kini telah duduk mendekat pada Jung. Ia menyerahkan tissue untuk pria tua itu menyeka wajahnya yang basah. Sungguh pria yang malang . Sepertinya kalian adalah korban dari keserakahan.


"Memang tidak, tapi, Su memiliki bukti berupa chat dan juga voice note. Ditambah lagi, Susan tidak pernah menjenguk ku di sini. Apapun yang terjadi padaku. Ia tak peduli. Di luar, ia memiliki fans yang begitu banyak lantaran sikap dan juga sifat baiknya. Tapi, kau lihatlah. Bahkan, dengan ayahnya saja ia tak perduli," tutur Jung, kali ini rasa sakit hati dan kecewa cukup terlihat darinya.


"Kau tau, berapa lama Susan sakit jantung?"


"Anak itu menutupinya dari kami, aku baru tau semenjak Cia menyebar informasi melalui laman media sosial demi mencari donor jantung. Aku telah mengerahkan orang untuk mencari donor itu kemanapun dengan biaya berapapun. Meskipun, Susan tak lagi peduli padaku. Tapi aku yakin jika ini hanyalah masalah waktu. Gadis kecilku itu pasti akan kembali padaku suatu saat nanti," ungkap Jung lagi, miris. Membuat siapapun yang melihat gesturnya pasti paham. Betapa besar rasa cinta pria ini pada sang putri.


"Lalu sejak kapan anda sakit?" Ini adalah pertanyaan terakhir Boy yang merupakan kunci dari semuanya.


"Semenjak, Susan menolak perjodohan itu dan pergi dari rumah. Sejak itu kesehatanku memburuk dan terus memburuk. Sebab itu, aku telah memerintahkan pengacara untuk menyiapkan semuanya. Seluruh aset dan juga mengasuransikan jiwa ku dan juga putriku satu-satunya. Bagaimanapun, semua ini adalah hak yang harus menjadi miliknya. Dia tetap putriku, dan selamanya akan begitu. Di luar bagaimana, sikapnya padaku saat ini. Di luar hubungan kami yang memang renggang karena kurangnya komunikasi. Aku tidak membencinya, tolong sampaikan itu padanya. Mungkin, dia belum mau bertemu denganku," pinta Jung masih dengan nada lirih menyayat hati.


Begitu besar rasa cinta dan sayangnya pada Susan. Boy semakin yakin, jika kerenggangan hubungan kedua ayah dan anak ini memang hasil campur tangan orang ketiga. Pihak yang ingin mengambil keuntungan dari kelemahan hubungan keduanya.


Beberapa kejadian janggal yang sengaja ia lupakan. Ia merasa bahwa, Su juga sangat merindukan Susan, putrinya. Apalagi, Su telah membesarkan Susan sejak putrinya itu beranjak remaja. Mana mungkin, jika Su berniat jahat lada putrinya itu. Begitulah, kiranya beberapa hal yang ada di dalam pikiran Jung saat ini.


"Itu ... tidak mungkin ... ku rasa. Su sangat menyayangiku dan juga Susan. Wanita itu, bahkan rela meninggalkan dunia fashion demi merawatku yang lumpuh ini. Dimana lagi aku akan menemukan wanita yang tulus seperti, Su?" ucap Jung terus membela, Su.


"Aku punya sesuatu untuk dapat anda dengarkan. Mungkin, ini akan dapat membuka isi hati dan juga pikiran anda terhadap, wanita yang tengah tertidur pulas itu." tunjuk Boy ke atas sofa.


"Su!" Apa yang terjadi padanya?" kaget Jung, yang entah kenapa baru menyadari keberadaan sang istri di dalam kamarnya ini.

__ADS_1


"Biarkan saja dia. Saya yakin, jika anda mengetahui setiap rencana jahatnya. Pasti anda ingin melemparnya dari balkon hingga ke bawah sana," ucap Boy geram duluan.


"Mana mungkin, aku--"


"Sudah, dengarkan saja dulu!" Boy pun meletakkan ponselnya di atas kasur dan memutar rekaman barusan.


"Tirani! Perempuan sialan!" maki Jung begitu emosi, ia pun hendak memutar rodanya agar dapat mendekatkan diri kearah Su yang tertidur.


Akan tetapi, Boy menarik kursi yang diduduki oleh Jung. " Mana keren, jika anda menghajarnya dalam keadaan terbatas seperti ini," bisik Boy ditelinga Jung. Secara diam-diam ia telah mengaktifkan sistem kesembuhan dan pengobatan. Dalam kuasa itu, Boy bukan hanya mampu mengobati dirinya sendiri tapi juga orang lain. Hanya saja, untuk transplantasi organ, Boy harus memperdalamnya lagi.


"Bagaimana aku bisa keren dengan keadaan yang seperti ini! Atau, jangan-jangan ... semua yang terjadi padaku juga lantaran perbuatan darinya!" Jung semakin emosi ... tapi Boy ...


...Bersambung...


Minta tolong bantu naikin rate nya ya gais.


Terimakasih!



__ADS_1


Mampir juga ke dua novel baru author ya.


Have a nice sleep!


__ADS_2