
Ig : aulia.rahim. 9847
fb : Aulia Rahim
...Follow sosmed otor ya guys! ...
...Thx!...
"Mao kemana, Bro?" selidik David yang melihat kawannya itu begitu buru-buru. Bahkan, kopi hitamnya belum lagi tandas. Jarang sekali Boy meninggalkan kopinya setengah.
"Mau ketemu orang, biar nanti gua gak bakal ngerepotin elu lagi, Renk," jelas Boy sambil memasukkan kunci kontak pada kendaraan roda duanya itu.
"Maksudnya, apaan nih? Gua kagak pernah ngerasa direpotin ama elu! Jangan mikir macem-macem dah!" ucap David pada kawannya ini.
"Gua gak mungkin selamanya kan numpang Ama elu, Renk. Udahlah, elu santuy aja. Gua baik-baik aja, ok!" seru Boy yang telah mengenakan helm full face nya.
Wajar jika David nampak khawatir padanya, sebab sejak kemarin malam, Boy terlihat selalu melamun dan sesekali terdengar hembusan napas kasar.
David, ternyata telah mengetahui masalah yang di alami oleh Boy. Mendengar cerita prahara dalam rumah tangga kawannya itu membuat David ngeri sendiri. Belum lagi kisah kegagalan rumah tangga yang ia alami lantaran kedua orang tuanya bercerai dan hidup masing-masing serta melupakannya. David, bahkan merasa dirinya kini hanya sebatang kara. Hal ini, semakin membuatnya anti dengan yang namanya perempuan. Apalagi cinta dan membangun rumah tangga.
"Cih, berhubungan dengan perempuan itu cuma bikin umur pendek, kantong bolong, rambut beruban plus jidat keriput. Ogah amat dah gua! Mending begini, I'm single but I'm hepi. Hahay!" oceh, David sembari tertawa seorang diri.
Ia pun meraih jaket yang menggantung pada dinding. Mengenakannya lalu, mengeluarkan kendaraan roda dua miliknya. Sudah saatnya cari cuan. Untuk menghidupi diri sendiri pun harus semangat. Meskipun tidak ada tanggungan, akan tetapi David suka membantu orang. Sifat dermawannya itu bahkan sudah santer di kalangan para tetangganya. Sehingga, jika ada yang membutuhkan bantuan maka mereka tidak akan sungkan dan langsung mendatanginya. Sebab itulah, David tidak memiliki tabungan. Jika kesusahan dalam keuangan maka ia akan balik mendatangi Boy.
David sudah sampai di pangkalan alias basecamp tempat berkumpul sesama driver OJol macam dirinya. Menanti orderan masuk melalui aplikasi. Sambil ngopi, merokok dan bercanda dengan sesama kawan senasib.
Lain lagi dengan Boy. Pria berwajah bak manekin hidup ini terlihat semakin memukau saja. Tanpa perawatan atau apapun, Boy mendapat berkah glowing setiap selesai melaksanakan misi. Meskipun, pria itu tidak menyadarinya sama sekali. Boy, terlalu sibuk memikirkan perasaannya.
Boy terlihat mengetuk pintu rumah seseorang. Ia telah membuat janji dengan pria tersebut sejak kemarin.
"Mas Boy. Silakan masuk!" Seorang pria berusia matang dengan tubuh pendek dan sedikit gemuk membuka pintu. Lalu pria itu mempersilahkan bagi Boy agar masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
"Jadi, benarkah. Mas Boy ini akan membayar lebih dari harga saya membeli rumah ini?" tanya pria yang menempati rumah Boy sebelum di gadai oleh Lilian.
"Benar, Pak Waluyo. Saya ingin menebus kembali rumah ini. Saya akan lebihkan sepuluh juta. Rumah ini begitu banyak kenangan dan sangat berarti bagi saya," ucap Boy menatap serius tuan rumah tersebut.
"Kebetulan, saya butuh uang. Anak saya kemarin di tangkap polisi dan sekarang berada di polres. Untuk membebaskannya, kami di minta uang hingga seratus juta. Katanya sebagai uang jaminan atau apalah itu namanya. Saya yakin jika anak saya di jebak. Dia anak baik-baik dan bukan pecandu narkoba apalagi mengedarkan benda haram tersebut," jelas pak Waluyo sekalian curhat sepertinya.
"Apa bapak tidak sayang, mengeluarkan uang segitu banyak dan menyerahkannya pada pengacara ?" tanya Boy.
"Uang itu tidak ada apa-apanya di banding ajak saya Mas Boy. Anak saya lebih berharga dari uang seratus juta," ucap Waluyo menggebu. Terlihat dari air mukanya yang berubah bahwa pria ini salah paham akan pertanyaan dari Boy.
"Maksud saya, sebenernya bukan seperti itu. Tapi, ya sudahlah itu urusan anda. Bukankah hukum negara ini bisa di atur, tergantung siapa yang punya uang dan juga kuasa," sindir Boy. Bahkan dengan aneh nya. Ia telah menerima surat dari pengadilan akan perubahan status pernikahannya tadi pagi. Padahal belum genap dua hari Lilian mengajukan gugatan padanya.
"Tapi ini bukan karena saya mau mempermainkan hukum, Mas Boy. Saya hanya yakin jika anak saya itu tidak bersalah. Ia hanya korban dari jebakan kawannya. Saya tidak terima jika anak saya di penjara. Maka saya akan membayar mahal pengacara juga mengabulkan apapun asalkan anak saya bisa bebas dan kembali bersama keluarga. Saya yakin, hasil positif dari tes urin anak saya lantaran kawannya itu telah lebih dulu mencekoki anak saya dengan obat-obatan tersebut." Pak Waluyo semakin berapi-api, ia menolak keras jika di bilang membela sang anak . Akan tetapi dari nada bicaranya, ia terlihat terus membenarkan posisi sang anak.
"Ah, ya. Saya paham, Pak Waluyo. Saya hanya ingin rumah saya kembali itu saja."Boy berucap singkat karena menurutnya cukup membuang waktu bicara dengan orang yang selalu merasa bahwa dirinya adalah paling benar.
Beberapa saat kemudian, Boy menerima kembali sertifikat rumahnya. Tiga hari dari sekarang, Waluyo dan keluarganya harus segera pindah dari rumah peninggalan keluarga besar Waluyo.
Dalam perjalanan ponselnya berbunyi. Tentu saja itu berasal dari notif aplikasi Sistem aneh yang beberapa hari ini telah membuatnya memiliki uang ratusan juta. Bahkan seumur hidupnya, Boy belum pernah memegang uang sebanyak itu.
TLINIING!
[ Aplikasi Sistem Kurir mendeteksi bahaya! Sesuatu akan terjadi pada anda. Maka, selesaikan misi agar level kekuatan anda mencapai gold. ]
"Bahaya apaan?" gumam, Boy yang telah menghentikan kendaraan ya di pinggir jalan.
"Misi apaan pulak? Gak bisa santai dulu apa yak. Ini hati aja masih jedak-jeduk," tambahnya lagi.
Seperti mendengar pertanyaannya, sistem tersebut kembali berbunyi. Menyenandungkan suara dari operator yang cukup seksi menurutnya.
__ADS_1
TLINIING!
[ Ambil paket tak jauh dari sini. Lalu antarkan pada pemesan tak lebih dari lima belas menit. ]
"Hah! Dikit amat waktunya! Yang bener aje lu sistem." Boy pun membaca dengan cepat alamat tersebut kemudian membawa motornya melaju. Mengejar waktu.
"Ini, Mas paketnya. Isinya skin care mahal ya. Awal jatuh apalagi pecah. Soalnya yang pesen itu, pemilik hotel terkenal," ucap pemilik dari house of beauty tersebut. Wanita muda dengan rambut ikalnya yang di gelung asal itu, terus tersenyum sambil bicara. Bahkan, Boy sadar jika tatapan matanya sejak tadi tak bergeming untuk menatapnya.
"Berapa sih, Mas pendapatan jadi kurir kayak gini?" tanya wanita bernama Lulu itu penasaran.
"Maksud, Mbaknya gimana? Kok nanyain pendapatan saya?" Boy melempar tanya balik pada si pemilik rumah perawatan kulit dan kecantikan ini.
"Bukan gitu sih, Mas. Pendapatannya kan gak banyak ya. Pasti pas-pasan buat kebutuhan sehari-hari," jelasnya. Tapi, kok. Mas-nya. Bisa glowing banget. Pasti skin care nya mahal deh. Apa jangan-jangan, produknya langsung dari negara Korea ya?" tanya Lulu lagi benar-benar penuh selidik dan keingintahuan yang besar.
Boy tertawa renyah sambil menandatangani bukti bahwa paket tersebut benar ia yang mengambilnya. "Mbak, ini bisa aja. Saya mana pernah Mbak, pake gitu-gituan. Paling juga cuma sabun pencuci muka biasa," timpal Boy santai dan tenang. Meskipun ia mencium bau-bau pujian dari wanita yang akan menjadi penggemarnya barunya ini.
"Mas nya jangan bohong sama saya. Saya ini spesialis kecantikan lho! Saya tau, skin care yang Mas pake harganya di atas tiga puluh lima juta."
What! Gua beli sabun Vonds warna item kagak sampe tiga puluh lima ribu. Sama pelembabnya kagak sampe cepe. Kenapa dia bisa ngira segitu mahalnya? Ngigo nih perawan.
[ Waktu anda tinggal lima menit lagi! ]
Mampus! Untung aja hotelnya cuma satu blok dari sini.
"Maaf Mbak saya permisi. Lain kali aja kita ngobrol lagi," ucap Boy mohon diri. Akan tetapi Lulu menahan lengannya. Lalu, menyelipkan uang.
"Buat beli bensin. Sekarang kan harganya naik." Setelah itu ia berlalu ke dalam tak mendengar panggilan dari Boy.
"Haih, ngasih duit bensin aja sampe dua ratus ribu. Apa ini berkah update ketampanan." Boy pun terkekeh dan memasukkan uang tersebut kedalam saku jaketnya.
...Bersambung...
__ADS_1