Sistem Kurir Mendadak Kaya

Sistem Kurir Mendadak Kaya
SKMK. Bab 8. Salah Paham


__ADS_3

"Buahahahaha!" David tidak dapat menahan gelak tawanya. Sampai-sampai pria slengean itu memegangi perutnya lantaran sangat geli. Alhasil, David mendapat tumpukan remote tivi dari kawannya yang mengumpat kesal dan penuh sesal karena telah mengajaknya.


"Beneran nyesel gua ngajak bocah kampreett kayak elu, Zerenk!" seru Boy, di lanjut dengan terus menggerutu. Ia pun meninggalkan David yang masih asik tertawa di atas sofa bed. Lebih baik membuat kopi hitam lalu merokok di halaman belakang.


"Woii! Cowok baperan banget lu!" teriak David seraya menyusul Boy ke dapur. Kawannya itu sedang meletakkan ceret kecil di atas kompor yang menyala. " Itu di termos ada air panas, belom lama paling baru satu jam gua isi," ucap David memberi tau. Akan tetapi bukan jawaban yang ia dapat, justru sorotan tajam yang membuatnya ingin tertawa lagi.


"Pergi lu sono! Lu kan tau kalo gua gak suka Aer panas yang mengendap buat bikin kopi. Enak begini air panas yang baru mendidih. Jadi, kopinya itu wangi." Boy menjawab sambil menuangkan air panas itu ke dalam gelas yang sudah berisikan kopi hitam cap kapal tengker. Kopi terenak sejagad raya, kalau kata Boy. Ia tidak akan mau mengganti kopinya dengan merk lain. Meskipun diiming-imingi beli dua gratis satu.


"Sekalian Napa bikinin buat gua, Bro!" pinta David, karena baginya kopi buatan kawannya itu memang nikmat dan beda.


"Ogah amat gua!" celetuk Boy sambil berlalu melewati David.


"Gitu aja ngambek, kayak anak perawan aja lu ah!" cebik David membuat Boy berbalik dan menendang bokongnya pelan.


BUK!


"Suek lu!" David tersungkur ke dalam bak cucian kotor. Wajahnya terjerembab hingga mencium kolornya yang bau. Padahal, Boy hanya menendangnya asal.


"Eh, gua lupa," gumam Boy terkekeh sambil lalu. Dia lupa jika kekuatannya tak seperti biasa. Untung saja David tidak nyungsep ke lantai. Bisa-bisa, makin seksi bibirnya lantaran mencium lantai keramik.


"Untung sohib kentel lu!" omel David yang bangun susah payah tanpa di bantu. Ia segera mencuci wajahnya di wastafel. Lalu membuat kopi naga hitam tanpa di aduk. Kemudian segera menyusul Boy ke halaman belakang rumahnya.


"Iya, Bro. Gua ikut dah nemenin lu makan malem. Mayan akan makan enak gratis," ucap David, seraya menyalakan rokok yang sudah terselip di sela-sela bibirnya.


"Tawaran udah gak berlaku, gua mau ngajak Paula aja." Boy menjawab dengan santai, membuat David tersedak asap.


"Uhuk ... uhukk! Siapa Paula?" tanya David yang langsung kepo mode on.


"Siapa aja boleh!" celetuk Boy membuat David keki setengah mati.

__ADS_1


"Kalo udah punya gebetan, ngapain juga tadi elu ngajakin gua, Onyet!" kesal David. Karena kawannya ini berhasil membalasnya dengan telak. Menyesal juga sudah menolak dan menertawakan ajakan Boy tadi. Sekarang, lepas sudah makan malam gratisan.


"Selamat makan angin!" celetuk Boy yang telah berlalu melewatinya sambil tertawa nyindir.


"Lu mau kemana, Bro? Masih sore juga!" seru David yang sejak awal niat jual mahal dan meledek Boy saja. Ternyata kawannya itu kesal sungguhan. Ia pun segera bangkit dan menyusul kawannya itu ke dalam. Meninggalkan kopinya yang masih setengah gelas.


"Mau mandi kembang dulu. Jangan ganggu!" Boy menutup pintu kamar mandi, membiarkan David mencebikkan bibirnya dengan gerutuan yang panjang bagai mantra-mantra.


"Terserah lu dah! Kalo gitu gua mau ngojek aja! Siapa tau ada customer yang jajanin gua!" seru David yang hanya mendapat deheman sebagai jawaban malas dari Boy.


"Hilih, punya temen gede ambek gini nih. Untung aja cakep!" oceh David lagi sambil menaiki motornya. Matanya menatap nanar ke arah motor hitam mahal milik Boy. Sampai sekarang kawannya itu tidak menceritakan darimana asal muasal motor tersebut dan siapa pemberinya.


'Nasib elu ama gua emang selalu beda, Bro. Mau sial gimanapun juga, tetep aja elu lebih beruntung dari gua.' batin David.


_____


"Hai, Mbak. Lama gak nunggunya?" sapa Boy yang sudah tiba di depan sebuah minimarket. Letaknya tak jauh dari hotel milik Paula.


"Maaf, ya. Saya jadi ngerepotin, Mbak Paula. Abis, saya bingung mau ngajak siapa. Nah, kebetulan Mbak Paula tadi statusnya kan bosen ya. Yaudah, apa salahnya kalo jalan sama saya aja buat manfaatin voucher," jelas Boy. Sebelum Paula salah paham akan maksud dan niatnya. Walaupun sejak awal memang Boy tertarik akan tetapi ia segera menepis rasa itu.


"Jangan panggil Mbak, gtu. Kesannya saya jadi kayak tuaaa banget," rengek Paula yang terlihat sangat menggemaskan.


"Bukan begitu maksud saya. Hanya sebagai tanda sopan dan segan saja, Mbak," dalih Boy menjelaskan dengan segala kepolosannya.


"Iya, gak perlu juga. Ngapain kamu hormat segala sama saya. Kita ini sama aja, yang membedakan hanya niat dan juga perilaku," ucap Paula dengan lembut dan senyum manisnya. Terlihat sangat jika dirinya begitu tertarik dan berusaha menarik perasaan dari pria tampan yang mengajaknya makan malam ini.


"Oke deh, Paula. Yuk naik!" ajak Boy kemudian memberikan helm khusus wanita pada Paula.


Boy pun segera membawa kendaraannya melaju membelah malam. Paula berpegangan erat dengan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang hingga ke perut Boy. Sebenarnya, hal itu membuat Boy sangat risih. Sebab, sesuatu yang empuk terasa menekan punggungnya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, ban motor berwarna hitam pekat itu berhenti di lapangan parkir sebuah restoran mewah.


"Saya belum pernah naik motor mahal. Ternyata rasanya menyenangkan, apalagi drivernya sangat tampan," puji Paula ketika dirinya telah turun dari motor Boy, seraya mencoba membuat helm yang menutupi rambut indahnya itu.


"Kenapa, nyangkut ya?" tanya Boy yang melihat Paula kesusahan membuka pengait helmnya. Mau tak mau dia pun turun tangan juga.


"Maaf, sini!" Boy menjulurkan tangan, dengan jemarinya yang lentik berusaha membuat kait yang tersangkut satu sama lain. Paula tersenyum, triknya berhasil. Ia dapat memandangi wajah tampan itu dari dekat secara lekat.


Kepala boy yang sedikit miring karena ia kesulitan membuka pengait yang tersangkut kuat. Sehingga posisi mereka, terlihat seperti pasangan yang tengah berciuman. Itulah, anggapan yang terjadi dan di pikirkan oleh penumpang yang berada di belakang kursi mobil mewah berjenis Aston Martin Vanquish terbaru, berwarna biru dengan strip hitam.


"Sial! Ternyata Paula benar berhubungan dengan pria itu!" umpat pria dengan rahang tegas itu. Rahangnya mengeras dan kedua tangannya mengepal.


"Aku akan menghabisinya." Mobil mewah seharga hampir delapan milyar itu kembali melaju hingga berhenti di parkiran khusus.


TREK!


"Akhirnya," desah lega Boy. Ia berusaha mati-matian menahan degup jantungnya ketika berada cukup dekat dengan Paula. Bahkan Boy dapat merasakan hembusan napasnya yang hangat dan manis. Apalagi rasa bibirnya. Boy, segera menggeleng cepat demi mengusir segala pikiran kotornya.


"Boleh minta di gandeng gak?" pinta Paula manja.


Boy pun mau tak mau mengulurkan tangannya. Cuma menggandeng saja bukan? Bertapa beruntungnya dia malam ini. Dapat voucher makan gratis, ditemani oleh wanita cantik yang kaya tapi baik.


Iya, baik. Secara kamu ganteng, Boy.


Sesampainya di dalam, ia telah disiapkan sebuah meja yang berada dekat dengan panggung. Ternyata, mereka juga akan di suguhi hiburan mewah. Sebab hotel ternama tersebut secara kebetulan tengah mengadakan anniversary hotel yang kesekian. Sehingga mereka mengundang salah satu bintang K-Pop wanita yang kebetulan tengah mengunjungi negara ini. Bintang K-Pop tersebut juga baru saja tampil tadi pagi di acara salah satu aplikasi belanja online berwarna oranye.


"Susan Kimberley? Mimpi apa aku kemarin malem!" pekik Boy tertahan, ia tidak mampu menutupi rona bahagia yang begitu nampak pada wajahnya.


"Awasi, pria yang bersama wanitaku. Giring ke belakang, lalu habisi dia. Ingat, jangan sampai ada jejak," bisik pria yang berada didalam mobil mewah tadi kepada salah satu pengawalnya.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2