
"Tirani! Perempuan sialan!" maki Jung begitu emosi, ia pun hendak memutar rodanya agar dapat mendekatkan diri kearah Su yang tertidur.
Akan tetapi, Boy menarik kursi yang diduduki oleh Jung. " Mana keren, jika anda menghajarnya dalam keadaan terbatas seperti ini," bisik Boy ditelinga Jung. Secara diam-diam ia telah mengaktifkan sistem kesembuhan dan pengobatan. Dalam kuasa itu, Boy bukan hanya mampu mengobati dirinya sendiri tapi juga orang lain. Hanya saja, untuk transplantasi organ, Boy harus memperdalamnya lagi.
"Kau benar, bagaimana aku bisa keren dengan keadaan yang seperti ini! Atau, jangan-jangan ... semua yang terjadi padaku juga lantaran perbuatan darinya!" Jung semakin emosi, tapi Boy ...
Sett!
Klep!
Bluushh!
Boy yang sudah berganti Avatar menjadi dewa penyembuh. Menyusupkan sebuah energi panas yang ia kirimkan pada kedua kaki, Jung. "Ternyata ada Avatar seperti ini. Kalau begitu, aku harus kembali bertolak kerumah sakit," gumam Boy. Ia sontak memikirkan bagaimana hasil operasi dari transplantasi jantung Susan. Tentunya, dengan kemampuan dari dewa penyembuh ia dapat mengembalikan kesehatan Susan seperti semula.
"Kau! Aku–aku sembuh! Aku dapat menggerakkan kedua kakiku lagi!" teriak Jung histeris lantaran kelewat senang. "Siapa sebenernya kau anak muda? Bagaimana bisa-"
"Sudahlah, jangan berpikir macam-macam. Sekarang selesaikan urusan antara kau dan istri jahat mu itu. Aku akan kembali kerumah sakit untuk memastikan jika operasi berjalan lancar. Akan ku hentikan penderitaan yang telah di alami oleh Susan selama ini. Jangan kecewakan aku, atau ... aku akan kembali untuk menghabisi wanita itu!" ancam Boy seraya menunjuk kearah Su yang perlahan membuka matanya itu.
Boy pun berlari keluar, lalu ...
"Sistem! Aktifkan portal teleportasi!" titah Boy pada sistem melalui pikirannya.
[ Siap, Boy! Pikirkan saja tempat yang ingin kau tuju! ]
"Kenapa kau tidak memberi tau padaku, kalau aku memiliki Avatar berbagai jenis dewa. Termasuk dewa penyembuh!" protes Boy sambil berjalan memasuki portal hingga kini ia telah berada kembali di depan ruangan operasi.
[ Sebaiknya anda periksa dengan teliti sebelum memprotes sistem! Scroll daftar Avatar hingga ke bawah! ]
"Ck. Seharusnya Avatar yang keren itu kau letakkan paling atas!" Boy terus saja berdebat dengan sistem.
__ADS_1
Sampai ia melihat, gerak gerik mencurigakan dari seseorang yang berpakaian medis. Wajahnya bahkan tertutup dengan masker. Orang itu masuk kedalam ruang perawatan Susan. "Tunggu, Sus! Apa pasien yang baru saja menjalani transplantasi jantung, baik-baik saja?" tanya Boy kepada perawat yang berjaga di bagian depan.
"Oh, pasien atas nama Susan Kimberley, ya. Dia telah kami pindahkan keruang obsevasi. Tidak boleh ada keluarga yang menunggu. Perawat akan memeriksa dua puluh menit sekali," jelas sang suster jaga tersebut ramah, bahkan sangat ramah. Senyum pun tak surut membingkai wajahnya.
"Baiklah, terimakasih!" Tanpa basa-basi lagi, Boy segera menuju ruangan yang di sebut sang suster tadi. Boy yakin, jika suster mencurigakan tersebut memang masuk kedalam kamar perawatan Susan.
Sebuah seringai, tercetak di balik masker. Tatapan mata menyorot tajam penuh dendam. Entah, apa yang sedang ia pikirkan. Tak ada iba atau sedikit rasa kasihan. Melihat sosok gadis cantik yang selama ini selalu baik padanya tengah terbujur lemah dengan berbagai macam selang di tubuhnya.
"Cukup sudah kau miliki semuanya, aku lelah hanya menjadi pesuruh mu! Mungkin, sebaiknya kau pergi saja!" Wanita misterius yang menyamar sebagai perawat menjulurkan tangannya ke depan wajah Susan yang masih belum sadar. Meraih selang oksigen yang melingkar di kepala serta depan hidung, kemudian menariknya. Tak cukup sampai di situ, ia pun mencabut selang yang mengalirkan transfusi darah juga infusan obat di lengan kanan dan kiri Susan Kimberley.
"Haaaakkk!" Susan melenting kan tubuhnya, bahkan sistem grafik dari detak jantung pada layar monitor berbunyi nyaring.
Tiiiiitttt ...!
Wanita misterius itu menurunkan masker wajahnya kemudian tertawa.
Ia seketika menoleh, hingga tatapan terkejutnya bertabrakan dengan sorot tajam dari sepasang mata elang Boy.
"Kau!"
Sontak Boy mengarahkan pandangannya pada Susan yang Anfal. Tubuh yang baru saja menerima donor jantung itu seketika mengalami kejang-kejang.
"Apa yang telah kau lakukan padanya, Cia!" hardik, Boy yang langsung mendaratkan cengkeramannya pada leher manager pribadi Susan itu. Bahkan ia terus mendorong tubuh, Cia hingga menubruk pada dinding.
Brugh!
"Akh!"
"Astaga itu kau padanya? Apa masalahmu!" pekik Boy.
__ADS_1
"Ak–aku--" Cia tidak dapat mengeluarkan kata-kata sebab, Boy terlalu kencang menekan batang lehernya hingga wajah cantik itu berubah menjadi pucat pasi dengan mata yang mendelik.
Melihat, Cia susah pucat, Boy melepaskan cekikannya.
Ia seketika teringat akan keadaan, Susan yang kemudian membuatnya beralih pada gadis yang sedang dalam keadaan kritis itu. Mengabaikan, keadaan Cia yang terbatuk-batuk dan terkulai lemas.
"Aktifkan avanger dewa penyembuh!" pekik Boy, memberi perintah pada sistem. Ia tidak perlu lagi memejamkan matanya untuk bicara dengan sistem.
[ Aktifkan ]
Zeepp!
Seketika, Boy berubah menjadi apa yang ia inginkan dan butuhkan saat ini. Boy, menjulurkan tangannya ke tubuh Susan yang menegang dan hampir membiru itu.
"Tolong, jangan pergi. Aku akan berusaha menyelamatkanmu ...," lirih Boy, sambil terus menyalurkan tenaga panas dari lengannya. Grafik tekanan darah serta oksigen menunjukkan data yang fatal bahkan bunyi detak jantung begitu menyayat hati.
Boy, terus berusaha sekuat tenaga. Hingga, layar monitor kembali berdenyut seiring detak jantung Susan yang telah kembali.
Tit ... tit ... tit ...
'Bagaimana, dia bisa melakukannya? Susan tidak boleh hidup lagi!' batin Cia yang masih merasakan sesak di dadanya.
Tak lama kemudian ...
"Boy ...,"
Bersambung dulu ya guys ...
Seandainya tembus vote sepuluh biji hari ini. Otor bakal up lagi.😎
__ADS_1