
"Loh, kenapa begitu. Tapi, itu kan--"
"Bekerja lah di hotel sebagai staff selama setahun. Setelahnya, aku bisa mempromosikan mu untuk menjadi supervisor. Aku yakin, dengan kemampuanmu, Boy. Kau pasti bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik." Paula memotong kalimat sanggahan Boy dengan tutur kalimatnya yang tersusun. Seperti sudah di rencanakan sejak lama. Apa mungkin, sepeninggal dirinya tadi Paula terus menerus memikirkan kelanjutan dari masa depan hubungan mereka. Mencari jalur dan alur yang akan mendekatkan hubungan keduanya.
"Maaf, bukan menolak rejeki. Meskipun latar belakang ku pernah berada di posisi itu. Akan tetapi untuk saat kini, saya merasa nyaman dengan jenis pekerjaan yang sekarang," kilah Boy. Ya tentu saja. Sebagai staff atau supervisor sekalipun. Paling besar Boy hanya akan mendapat gaji sekitar lima belas juta. Sementara, Sistem Kurir yang ia miliki sekarang, dapat memberikannya apa saja hanya dari menyelesaikan satu misi perharinya. Meskipun terkadang misi yang diberikan mendadak serta memacu adrenalinnya. Akan tetapi, Boy mulai terbiasa.
Dengan berani, Paula mengulurkan tangannya kemudian meraih jemari Boy di atas meja dan menggenggamnya. "Pikirkan saja dulu dengan baik. Semua demi masa depanmu yang pasti. Kau akan bekerja di tempat yang lebih baik. Bukan berpanas-panasan di jalan lagi. Aku, hanya ingin kau lebih sejahtera." Paula sedikit mengelus punggung tangan Boy dengan jemarinya. Seulas senyum manis menambah kecantikan dan juga daya tarik di wajahnya yang memang sangat menarik.
Sungguh, ini adalah godaan yang sangat berat untuk Boy. Wanita di hadapannya ini begitu menyukainya. Boy, segera menepis pikirannya yang seketika traveling itu. Sudah lama juga dirinya tidak mendapatkan sentuhan hangat dan manis dari seorang mahkluk yang bernama wanita. Semenjak dirinya menjadi sudah, Lilian seakan menjauhi tidak pernah mau di sentuh. Kecuali jika Boy menuruti keinginannya atau memberikan Lilian uang belanja yang banyak.
__ADS_1
Sejak saat itu, Boy telah terbiasa menahan hasrat kelelakiannya. Sungguh, sentuhan dari Paula ini bagaikan kucuran air yang sangat menerpa jiwa yang kering kerontang. Bisikan dari setan berkali-kali mampir ke telinga Boy. Merayunya untuk menerima segala kebaikan dan tanda hijau dari Paula. Memanfaatkan rasa suka gadis itu untuk keuntungan sesaat. 'Tidak. Aku tidak akan memanfaatkan kebaikan serta rasa sukanya padaku.' Begitu lah kata batin, Boy menampik segala bisikan setan yang mendominasi sebagian akal dan pikirannya.
Boy tersenyum, melepaskan perlahan genggaman dari tangan ramping berjari lentik dan berkulit halus itu. "Aku akan mengantarmu pulang. Sudah terlalu malam bagi seorang gadis cantik untuk berada di luar rumah," ajak Boy yang seketika berdiri dan merapikan pakaiannya.
"Tidak kerasa ya, ternyata sudah jam segini," timpal Paula. Mereka pun berjalan keluar tanpa bergandengan. Paula hanya bisa menghela napasnya. Boy, tidak seperti kebanyakan pria yang ia kenal. Laki-laki,ini tidak mudah tergoda. Laki-laki menghormatinya dan menjaga batasan mereka yang belum memiliki hubungan secara resmi. Boy, sekuat tenaga menahan dirinya agar tidak menggandeng Paula. Ia tidak ingin gadis ini beranggapan lain. Meskipun, sesekali ia melirik jemari lentik yang nganggur itu. Boy tau, Paula sedang menunggu inisiatifnya.
"Sini, saya pasangin helmnya. Biar gak kesangkut lagi," ucap Boy seraya memasang helm ke atas kepala Paula dengan cepat.
Boy tau kalau itu tadi hanya akal-akalan aku saja. Agar aku bisa memandang wajahnya dari dekat. Menikmati ketampanannya lebih lama.' batin Paula.
__ADS_1
Boy melajukan kendaraan roda duanya yang berwarna hitam itu. Membelah malam yang pekat dan dingin. Tanpa mereka sadari waktu telah menunjukkan hampir tengah malam. Udara yang semakin menusuk membuat Paula semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang sang pengemudi. Jantung Boy mulai bereaksi, bahkan keringat mulai menetes di ujung pelipisnya. Padahal suhu udara malam ini sangatlah dingin. Apalagi jika berada di atas kendaraan yang melaju dengan ,kencang.
Bagaimana, Boy tidak seketika menjadi tegang. Jika jarak antara tubuhnya dan Paula sudah tidak ada lagi. Hanya dibatasi oleh lapisan pakaian jaket mereka saja. Akan tetapi, bagian depan tubuh Paula yang berisi dan empuk itu dapat di rasakan dengan jelas oleh Boy. Apalagi, sudah lama dirinya tidak mendapat pelukan seerat ini.
'Astaga! Kenapa dia semakin berani saja!' batin Boy terkesiap kaget. Napasnya memburu seketika. Dimana saat ini, Paula dengan entengnya meletakkan kepala di bahu Boy. Bahkan, napas hangat gadis itu seakan meniup belakang telinga hingga ke lehernya.
'Ujian apa ini? Hentikan, nona. Atau gua kagak bisa menahan diri lagi. Gua ini duda kesepian. Mana malam ini udaranya dingin banget. Kalo gua kagak mau lepas gimana ini. Mana udah enak banget posisinya. Tinggal di balik aja, terus ... hushushus! Tuh, kan! Pikiran gua jadi traveling kayak si bolang.' Boy terus membatin seraya mengomeli dirinya sendiri.
Batinnya semakin menjerit tatkala Paula semakin mengencangkan rangkulan tangannya.
__ADS_1
'Renk, tolongin gua!"
...Bersambung ...