
[ Anda akan terkejut dengan hadiah dari sistem. Persiapkan saja mental anda, Boy. Teguhkan hati, karena wanita cantik akan mengelilingi mu.]
"Diam kau! Aku tidak meminta di kelilingi wanita. Cukup satu saja. Aku itu setia!" balas Boy pada sistem.
[ Setia? Karena selama ini anda belum memiliki hareem. Coba saja nanti! Apa anda yakin masih setia pada satu wanita? ]
"Tentu saja! Itu kepribadian ku!" sahut Boy semakin ketus.
[ Jika bisa lebih dari satu, kenapa tidak? Sistem akan menantang anda! ]
"Terserah! Aku menunggu hadiahku. Aku akan cepat menyelesaikan ini!" sergah Boy lagi, menghentikan perdebatannya dengan sistem. Semenjak kuasa itu menyatu dalam kepala bahkan hampir merasuk ke jiwanya. Boy, dapat dengan mudah berkomunikasi dengan sistem. Meskipun terkadang kuasanya itu menyebalkan. Sebab, selalu saja berbeda pendapat dengannya.
"Boy ...,"
"Diamlah, aku akan memastikan jika kau bisa pulang kerumah malam ini," ucap Boy seraya memberi perintah pada sistem untuk merubah kembali Avatar-nya menjadi dewa penyembuh.
[ Salurkan hawa panas dari tenaga dalam ke arah pusat jantung. Mulailah dari ujung jempol pasien. ] Sebuah informasi masuk secara tiba-tiba melalui pikiran Boy. Pria tegap yang semakin berkharisma dan tampan ini, segera melakukan apa yang ia dengar.
Boy, memegang jempol Susan perlahan, kemudian agak kencang sedikit. Sehingga, Susan meringis kecil sambil mencengkeram pinggiran kasur. "Maaf, hanya sakit sedikit. Tidak akan lama!" ujar Boy tanpa melihat ke arah Susan. Sementara, Cia sudah sejak tadi pingsan.
__ADS_1
Boy, tidak dapat lagi menahan dirinya ketika Cia kembali meneriaki Susan dan hendak menyakitinya. Wanita itu sudah gila, dan Boy kehilangan kendali hingga meninju wajahnya. Kini keadaan, Cia sangat tak baik. Wanita itu mengalami retak pada hidung dan sebagian rahangnya. Boy, lupa telah mengerahkan tenaganya sebesar tiga puluh lima persen.
Tapi masih untung sih, jika lebih dari itu mungkin nasib Cia hanya tinggal nama. Siapa suruh jadi diri dalam daging, gunting dalam lipatan serta musuh dalam bedcover.
Dari jempol, sentuhan Boy naik keatas menyusuri pembuluh darah. Boy, harus membuka pakaian Susan. Sebab, ia harus mencari pembuluh darah itu dan menyentuhnya. "Maaf, aku terpaksa harus melakukan ini," ucap Boy seraya menyingkap pakaian khusus rumah sakit. Pakaian itu hanya diikat di samping menggunakan tali yang mudah di buka. " Aku tidak akan membuka semuanya," jelas Boy, tatkala melihat wajah pucat Susan menjadi sedikit memerah karena perbuatannya.
Jangankan, Susan. Boy sendiri sebenarnya harus menahan berbagai macam rasa yang mendadak singgah di dalam dirinya. Ini adalah kali pertama ia melihat tubuh wanita selain Lilian. Boy, sempat menahan napas kala melihat tubuh mulus nan licin itu. Bersinar dan mengkilat ketika terkena sinar lampu. Boy sekarang tau, betapa sintal gunung kembar milik Susan itu. Kembali, ia meneguk ludahnya kasar. Ketika jari tangannya harus berada diantara kedua bongkahan yang indah menggoda iman dan juga iminnya.
Boy, mengalirkan hawa panas hingga ke titik di mana letak jantung transplantasi. "Tidak kusangka, jika rumah sakit sebesar ini. Dengan tekhnologi canggihnya serta tenaga ahli yang terpilih ... bisa-bisanya mereka memasang jantung sedikit kendor!" racun Boy kesal.
Susan tidak menyahut ataupun menanggapi omelan Boy. Ia tengah menahan rasa malu yang teramat sangat. Juga menahan tenaga yang tengah di salurkan oleh, Boy.
"Selesai," ucap Boy seraya menurunkan raga Susan perlahan, seraya menutupi kembali tubuhnya dengan selimut. " Aku akan mencarikan pakaian ganti untukmu," ucap Boy, kikuk luar biasa.
Baru saja ia hendak berbalik, Susan mencekal tangannya lalu menariknya. " Terimakasih ... Boy." Susan pun lantas terisak di dalam pelukan mantan OJol YoJek ini.
"Aku ..." Boy, bingung dan kaget. Ia tidak dapat meneruskan kalimatnya lantaran ada sesuatu yang kenyal dan hangat menempel pada dada bidangnya. Meskipun, Boy masih berbalutkan kaus tebal turtle neck. Tetap saja, dada polos milik Idol Korea ini begitu terasa. Hingga, mampu membuat darahnya berdesir dan seluruh urat syarafnya tegang.
Setelah sadar keadaannya, Susan segera melepaskan diri dari Boy, kemudian ia merapikan dirinya. Menaikkan selimut itu, dan menggulung tubuhnya bagai kebab.
__ADS_1
"Aku ... aku minta maaf, hiks. Boy. Aku kelepasan, lantaran sangat senang. Ku pikir, aku akan mati dan tidak akan bertemu denganmu lagi. Ternyata ...," ucap Susan parau, dan ia pun kembali menangis.
"Sistem, berikan aku pakaian wanita komplit dengan isinya bagian dalamnya. Eh, maksudku, pembungkus bagian yang tersembunyi. Dahlah, faham aja ya!" perintah Boy, pada sistem.
[ Maaf, Boy. Saya bukan mall atau butik. ]
"Ck, jadi enggak bisa!" pekik Boy tanpa sadar. Membuat kening Susan berkerut pertanda gadis itu bingung dengan apa yang tengah, Boy lakukan sebenarnya.
'Boy, siapa dia sebenarnya? Sedang bicara dengan siapa?'
______
"Jung! Se–sejak kapan kau-- "
"Akh!" Su sontak memegangi salah satu tangan Jung yang tengah melingkar di leher jenjangnya. Perlahan, wajah putihnya memucat lantaran wanita ini hampir kehabisan napas.
"Aku sudah tau siapa kau yang sebenarnya. Malam ini, aku akan menghabisimu dengan kedua tanganku sendiri!"
"Bagaimana, kau bisa ... berdiri ... lagi?" tanya Su terputus-putus. Air matanya telah mengalir deras saking menahan sakit pada lehernya yang di cekik oleh Jung sekuat tenaga.
__ADS_1
...Bersambung...