
Dreep!
Seketika sebuah soft gun berukuran sedang telah berada di dalam genggaman, Boy. Ia seketika menyeringai dan menembaki musuh di depan, samping dan belakang tubuhnya dengan cepat sambil berlari dan menggelinding.
Zep. Zep. Zep!
Dalam hitungan kurang dari dua menit, para musuh tumbang dengan satu tembakan yang masing-masing menembus dada mereka. Bukan, keinginan dari seorang, Boy untuk menghabisi nyawa mereka. Tapi, jika tidak ... maka Boy lah yang akan celaka. Para musuh yang datang secara tiba-tiba menyerangnya ini. Bukan hanya ingin menghentikan atau menghalanginya, akan tetapi mereka memang berniat untuk membunuhnya.
"Sistem, sebenarnya siapa mereka?" tanya Boy seraya memegangi pelipisnya. Ia merasa saat ini sudah lebih dekat dan menyatu dengan sistem. Sehingga terkadang mereka dapat berkomunikasi secara telepati.
[ Mereka adalah musuh yang hendak menghalangi misi anda. Mereka adalah suruhan Madam Su, Ibu tiri Susan Kymberley. Jika gadis itu mati, maka warisan dan juga uang asuransi super besar akan menjadi miliknya. Maka itu, gagalkan lah rencananya! ]
" Gua bakal pastiin kalo semua rencana mereka bakalan gagal, main-main dia sama Boy Kutzhel!" Seraya menahan geram, Boy kembali berjalan mencari ruangan di mana Susan akan di operasi. Boy berharap jika mendapat perintah dari sistem agar ia kembali berteleportasi saja. Akan tetapi, Sistem justru memerintahkannya untuk membuka kelebihan dari level tingkatannya. Karena itu, Boy memutuskan untuk tetap menyisir koridor sepi itu.
"Ini rumah sakit mewah apa kuburan sih? Masa sepi banget gini?" gumam Boy menggerutu sambil terus berjalan dan membawa benda yang menyimpan jantung transplantasi di belakang pinggangnya.
[ Ada musuh, di arah jam sembilan! ]
"Apa!" Seketika boy langsung menoleh ke kiri dimana terdapat sebuah belokan pertigaan.
Zeepp!
__ADS_1
Sebuah tembakan melesat melewati depan hidung Boy. "Sialan!" Boy, pun mengarahkan senjatanya nya lalu melepaskan tembakan.
Shuuut!
Shuuut!
Dua tembakan cepat dan tepat mengarah pada dada dan juga kepala dua penembak yang tiba-tiba muncul itu.
Dua raga seketika terkapar di koridor. Boy, kembali berlari dan semakin waspada, tapi ...
Shuuut!
"Argh!"
"Damn it!" maki Boy kesal. Ia lantas mencari darimana asal serangan itu. Sambil merasakan panas yang meradang di tangan sebelah kanan. Boy, memindahkan senjata api ke sebelah tangan kirinya. Tiba-tiba ...
Zepp!
Lagi, sebuah peluru melesat. Kali ini, Boy cepat mengelak dengan cara melenturkan tubuhnya kebelakang. Hingga, kedua tangan Boy bertumpu pada dinding. Kini, posisinya setengah kayang.
"Suek banget dah! Untung aja kagak nyenggol idung mancung gua," rutuk Boy yang kini menjadi semakin tegang dan lebih waspada. Karena sejak tadi, penyerang itu tak terlihat hanya tau-tau saja ada peluru yang melesat. Sungguh, menyeramkan.
__ADS_1
"Keluar lu! Hadepin gua sini!" teriak Boy seraya mengacungkan senjata soft gun yang ia genggam menggunakan kedua tangannya. Ia memaksa tangannya yang sakit untuk membantunya menggenggam senjata api. Berusaha melupakan rasa panas itu demi keselamatannya dan juga paket yang ia bawa. Iris pekatnya memicing ke arah depan, pada sebuah dinding yang menjurus ke tangga darurat.
Tangan kanannya, memegangi bahu yang terserempet peluru itu. Sistem memberi perintah lagi, tapi, Boy abai. Waktunya tinggal lima menit untuk segera sampai di tujuan. Tak ada lagi waktu baginya, sekalipun itu untuk mengobati lukanya sendiri. Baginya, keselamatan Susan lebih penting sekarang. Tangannya bisa nanti saja. Toh, ia memiliki kekuatan platinum untuk dapat bertahan dari luka seperti itu.
Dari jarak beberapa meter di depan, Boy melihat beberapa pria berseragam hitam menghampirinya. Mereka juga berkacamata bagian pasukan bodyguard khusus. Boy, pun segera bersiap dengan senjata di tangannya. Ketika telah dekat, para pria berseragam itu mengangkat tangan mereka ke atas. Lalu, salah satu dari mereka berkata. " Kami, hanya ingin menjemput paket untuk nona muda," ucapnya, tanpa ekspresi.
Akan tetapi, Boy tidak akan mudah percaya begitu saja. " Modus apa apalagi ini! Setelah beberapa anggota kalian tidak mampu menghabisiku, sekarang kalian menggunakan cara ini!" sarkas, Boy yang tidak mau percaya begitu saja.
"Kami, adalah orang dari nona Susan. Cia, yang memerintahkan kami untuk menjemput kurir," jelas pria berseragam hitam itu lagi. " Cepatlah! Waktu, nona kami tidak banyak!" ujarnya dengan nada serius setengah memaksa. Boy, menelisik beberapa saat apakah benar yang telah disampaikan oleh pria berwajah tembok di hadapannya ini.
Boy, meraih benda pada punggungnya. Ketika hendak menyerahkan Organ Care System, Boy melihat sebuah tanda di pergelangan tangan di pria yang mengaku adalah orang-orang Susan. Sebuah tatto kecil bergambar mawar hitam. Sepintas, Boy ingat jika logo itu juga ia temukan pada salah satu anggota tubuh penyerangnya tadi di lorong depan. Seketika, sebuah seringai yang berarti sesuatu terbit di wajah pria berseragam yang tepat berdiri di hadapan, Boy saat ini. Pria itu telah menjulurkan kedua tangannya untuk meraih kotak yang hendak Boy berikan.
...Bersambung...
Maaf ya kalau beberapa hari ini author tidak up. Semua itu di karenakan kesehatan author agak terganggu. Kepala sakit dan mata perih jika melihat ponsel terlalu lama.
Terimakasih atas kesetiaan kalian menantikan cerita ini. Semoga kita semua senantiasa sehat selalu ya.
Berikan author suntikan semangat dengan like, gift, vote, rate lima bintang dan juga komentar kalian yang baik ya. Supaya author bisa dobel up hari ini.
Hanya itu.
__ADS_1
Sekian, dan terimakasih.