Sistem Kurir Mendadak Kaya

Sistem Kurir Mendadak Kaya
Bab. 46. Nona, Chie Bie. ( Percobaan Pembunuhan )


__ADS_3

"Presdir, Boy. Tolong ... habisi saja ayah saya!" ucap gadis sederhana yang tapi terlihat bahwa dirinya memiliki kecantikan alami. Sebab, tanpa polesan make up saja gadis di hadapan, Boy ini mampu membuatnya tak berkedip sepersekian detik.


"Apa, saya tidak salah dengar? Seorang puteri, memohon pada orang lain agar memberi kematian pada ayahnya sendiri. Kau mengagetkanku, Nona--?"


"Chie Bie," jawab gadis yang berambut panjang tapi di kuncir kuda itu. Kelopak matanya sedikit gelap. Sepertinya kelelahan begitu mendera raga gadis bertubuh bak barbie ini. Tubuhnya tinggi ramping, dengan ukuran dada sedang. Pinggang kecil dengan pinggul serta bokong yang berisi.


Boy, bukannya tak tau menahu, sejak memiliki sistem setiap ada masalah maka sistem secara otomatis akan sedikit memindai lalu mengirim informasi pada, Boy. Hanya saja, tidak secara mendetail dan keseluruhan, sebab sistem bukan bola ramalan cuaca.


"Chung, katakan pada Sachi untuk membawakan lemon tea, juga kopi hitam cal kapal tengker," ucap Boy, memberi perintah pada Chung sekaligus, mengusir pria berkacamata itu.


Boy, ingin bicara dari hati ke hati dengan Chie Bie. Sebab itu, ia memencet tombol pada bagian bawah mejanya, untuk membuat pintu tertutup otomatis.


Drek!


"Hah! Kenapa, Presdir Boy, mengunci pintu?" gumam Chung heran sekaligus bingung. Pria kurus tinggi ini telah mengatakan pesan dari Boy kepada, Sachi. Sehingga sang sekretaris langsung berlalu dengan cepat ke pantry. Ia mendapat perintah untuk membuat pesanan minuman sendiri tanpa menyuruh OB yang sudah banyak pekerjaannya.

__ADS_1


"Untung saja, kopi merek itu sudah datang. Bagaimana kalau belum, bisa kena marah aku sama Presdir ganteng," gumam, Sachi sambil menggunting kopi sachet cap kapal tengker. "Selesai tinggal buat lemon tea." Sachi mengerjakannya dengan cepat, tanpa ia sadari jika salah satu biji dari jeruk lemon masuk ke dalam cangkir kopi.


Kembali dalam ruangan kantor Boy.


"Ceritakan padaku, apa alasanmu menginginkan kematian dari pria yang jelas-jelas adakah orang tuamu sendiri?" tanya Boy, penuh selidik.


Gadis itu, tidak buru-buru menjawab. Wajahnya yang tertunduk membuat poninya menutup hampir sebagian pada wajahnya yang cantik alami itu. Bahkan, dapat di lihat jika warna bibirnya adalah pink alami bukan karena lipgloss.


Chie mengambil napas dalam, kemudian ia mengeluarkannya perlahan. Seperti alasan yang akan ia ungkapkan teramat berat untuk di ucapkan.


"Apa yang telah, Soo Eun lakukan sehingga, kedua anggota keluarga mu itu sampai melakukan tindakan nekat seperti itu? Jelaskan, agar saya dapat menentukan pria tua itu pantas mati atau tidak," jelas Boy. Berusaha menggapainya dengan tenang. Ia tak boleh salah mengambil tindakan atau pun keputusan. Sebab, wanita yang berada di hadapannya ini mengalami depresi.


Benar saja, tak lama kemudian ...


"Aaaa ...! Kenapa kau banyak tanya! Jika kau tidak mau membunuhnya ... biar aku yang membunuhmu!" pekik Chie seraya mengeluarkan sebelah tangannya dari dalam saku celana.

__ADS_1


Sret!


Sret!!


Sret!!!


Beberapa kali sabetan dari benda tajam yang merupakan belati lipat itu meleset. Gerakan lemahnya tak mampu sedikitpun mengenai raga Boy yang berkelit dengan mudah. Chie semakin terjebak kedalam emosinya. Ia kalang kabut, dan dikuasai oleh kemarahan. Sehingga gerakannya hanya asal serang saja. Tapi dari sini, Boy tau jika Chie memiliki teknik dasar beladiri Wushu.


"Gerakan yang bagus, tapi lemah!" Boy menangkap pergelangan tangan Chie, memutarnya hingga tubuh gadis itu pun ikut berputar. Chie paham. Seandainya ia tak ikut berputar, maka ... lengannya akan patah.


Kemudian, Boy mendorong pelan bahu gadis itu, hingga terjerembab ke atas sofa. Boy, melempar belati yang kini telah, berpindah kedalam genggamannya. Hingga, benda itu menancap pada sandaran sofa, tepat di samping telinga Chie.


Gadis itu sontak mendelik. Belum selesai rasa kagetnya dalam dirinya. Ia semakin dibuat memekik lantaran Boy, menindih tubuhnya.


"Mungkin, kau dulu yang akan kubuat mati." Boy menatap tajam pada Chie sehingga gadis itu menahan napasnya.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2