
"Kuntilanak!" teriak David yang kaget karena Boy telah ada di belakangnya saat ini. Bagaimana, kawannya itu bisa masuk? Bagaimana juga kawannya itu bisa tau keberadaannya? Semua pertanyaan berputar membuat David pusing seketika.
"Kok, elu tau-tau ada dimari! Gimana lu bisa masuk dan tau gua ada di sini?" cecar David bingung sekaligus heran.
"Gua liat elu lewat CCTV." Boy menunjukkan layar pada ponselnya yang membuat mulut lebar David menganga.
"Anjirr! Gilak. Gilak. Gilaaakk! Ponsel termahal di dunia!" David berteriak histeris seraya menghampiri kawannya itu. Bagaimanapun ia tidak percaya bagaimana bisa hidup kawannya itu berubah drastis seperti ini.
"Lu bakal lebih histeris lagi, kalo tau rumah ini punya gua, Porsche di bawah juga, Noh!" ungkap Boy membuat David ambruk ke lantai. Pria tengil itu pingsan.
"Yah, dia semaput!"
A few minute later ...
"Se–seriusan ini rumah lu, bro? Kok bi–bisa?" gagap David benar-benar kaget dengan fakta yang ia temukan. Seingatnya malam itu dirinya masih tidur di ruang tamu rumah sederhana pemberian sang kakek. Kenapa pas terbangun ia telah berada di rumah mewah kawannya. Pikirnya, ia di culik janda kaya atau perawan tua tajir melintir.
Ternyata, semua kemewahan ini adalah milik Boy. Bahkan, David membaca semua sertifikat itu adalah asli. Bermula dari sebuah motor keren yang datang secara tiba-tiba. Sekarang, Villa, Porsche dan juga ponsel termahal di dunia. Bahkan David belum tau betapa nominal yang di miliki oleh Boy dalam rekening pribadinya. Apalagi jika tau kalau Boy memiliki voucher makan malam di sebuah kapal pesiar.
"Lu kagak pesugihan kan, bro?" tanya David dengan mimik wajah serius. Boy memandang lekat kawannya itu, sepersekian detik kemudian ia pun tergelak kencang sampai memegangi perutnya.
"Lu pikir gua berani bersekutu sama setan? Ogah banget dah! Masuk ke rumah angker aja merinding," kilah Boy, di sela-sela gelak tawanya.
"Lha, terus? Masa iya ini hasil ngepet? Setau gua ngepet hasilnya recehan. Kalo kemewahan gini, biasanya elu jadi simpenannya ratu demit. Ngaku dah lu!" cecar David tetap serius.
Pluukk!
"Adoohh!"
__ADS_1
Kunci mobil mendarat sukses pada kepala David. Membuat pria slengean itu nyengir menahan nyeri.
"Buang tuh pikiran horor lu, Zerenk! Gua kayak gini bukan hasil bersekutu sama Jambrong! Pokoknya, nanti. Kalo semua impian gua udah tercapai dan terpenuhi, baru gua bakal ceritain semuanya sama elu," ucap Boy yang telah kembali mengambil mobilnya itu.
"Kalo elu mau, tinggal aja di sini. Mau makan tinggal panggil pelayan. Gua mau mandi dulu, nanti malam ada kencan romantis," ucap Boy dengan senyum penuh arti yang membuat David melongo.
"Terus rumah lama gua gimana?"
"Sewain aja! Jadi, elu kagak perlu ngojek lagi. Lake duitnya sewanya buat bayar kuliah. Elu mau kan nerusin lagi kuliah yang tertunda?" tanya Boy serius. David hanya mengangguk dengan kedua mata yang berembun. Dirinya sangat ingin melanjutkan cita-cita yang sempat kandas karena keadaan.
"Mendaftarlah! Gua udah transfer, untuk uang pangkal dan daftar kuliah," ucap Boy yang kini telah bertelanjang dada. Ia menyampirkan handuk ke bahunya yang tegap itu.
"Elu, seriusan. Bro?" David terkesiap. Ketika ia mendapat notif melalui ponselnya. Bahwa, rekening bank miliknya telah mendapat kiriman senilai sepuluh juta. David menangis haru. Lalu berlari ke arah Boy bermaksud memeluk. Boy yang sudah dapat membaca gelagat kawannya itu segera ngacir dengan cepat ke kamar mandi dan menutup pintunya. Hingga ...
BRUAGH!
Akhirnya, David pun mendaftar kuliah secara online. Ia sangat gerak cepat, sebab dapat kuliah lagi adalah salah satu impiannya.
"Gua ada dimana ini, Bro! Kok Bali!" kaget David, yang ternyata baru menyadari dimana dirinya berada saat ini. Karena universitas yang ia cari di google menunjukkan tempat dimana ia berada.
_______
Sementara itu, rombongan Agnes dan seluruh mahasiswa di kampus tempat berkuliah. Telah sampai di tempat tujuan. Sebuah tempat rekreasi pantai, terdapat waterpark dan arung jeram buatan. Juga wahana air laut lainnya.
"Kita harus bisa ngerjain tu anak kali ini. Anak songong kayak gitu harus sekali-kali di kasih pelajaran biar tau rasa!" seorang wanita muda mengepalkan tangannya dengan seringai jahat. Kedua lelaki yang telah menjadi sekutunya telah memasang senyum sinis mereka. Sorot ketiganya tak lepas dari satu target.
"Agnes!" Gadis tomboi itu pun menoleh ketika namanya di panggil. Seorang pria tampan dengan senyum merekah menghampirinya. Tapi Agnes, berlalu begitu saja dengan acuh setelah melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Lihatlah gayanya. Menyebalkan! Gue enggak terima kalo cowok yang gue taksir udah lama malah ngejar-ngejar si tomboi belagu itu!" umpat sang wanita yang berpakaian membentuk lekuk tubuhnya itu.
Agnes memang tipe wanita yang cuek dengan pria, manapun atau siapapun. Baginya, tidak ada niat atau gairah. Menjalin hubungan dengan lawan jenis baginya hanyalah membuang waktu saja. Agnes lebih suka menghabiskan waktunya bermain dengan kucing atau skate board kesayangannya.
______
"Gua berangkat. Doain kencan gua lancar ya!" Boy yang sudah rapi dan wangi segera menyambar kunci mobil mewah miliknya. Berlalu dengan cepat melewati kawannya yang sibuk dengan layar ponselnya itu. Boy, berbalik sebentar. "Jangan lupa beli ponsel baru juga!" teriak Boy dari anak tangga. David hanya menyahut dengan menaikkan jempol tangannya ke udara.
"Layani sahabat saya dengan baik. Saya tidak akan pulang makan malam nanti. Karena ada kencan dengan Susan Kimberley." Boy memberi pesan sekaligus perintah kepada kepala pelayan di Villa miliknya itu.
"Baik, Tuan Muda." Kepala pelayan yang berjenis kelamin laki-laki itu membungkukkan tubuhnya patuh. Usianya belum terlalu tua, mungkin sekitar 45 tahun. Sementara enam orang lainnya adalah perempuan. Empat orang laki-laki yang bekerja sebagai pengurus taman dan halaman belakang. Termasuk kolam renang dan beberapa gazebo. Jangan lupakan empat orang keamanan yang siap menjaga Villa milik Boy ini.
"Gilak, mimpi apa gua dipanggil jadi tuan muda." Boy, menggalang seraya tertawa, dalam sepersekian detik raut wajahnya berubah. "Darimana gua bayar gaji, orang-orang yang kerja sama gua itu! Heh! Apa sistem yang bayar?" Boy baru sadar, setidaknya ia harus mengeluarkan upah minimal 200juta perbulan untuk 15 orang pekerjanya itu. " Anjirr, darimana gua dapet uang segitu banyak tiap bulan!" Seketika Boy pun stress.
"Dahlah, pikirin itu aja nanti. Merusak mood gua aja yang mau kencan sama bintang K-Pop." Boy pun melaju kencang membelah jalan raya kota yang padat merayap di sore hari.
Sampailah Boy di hotel tempat Susan menginap.
"Aku tunggu di lobi. Mungkin, kau bisa menyamar," ucap Boy di balik telepon.
"Ah, ya aku mengerti," ucap Susan lembut. Ia menggigit bibirnya guna menyembunyikan rasa hatinya yang ingin bersorak kencang.
Di villa, David meminta ijin pada kepala pelayan untuk berkeliling. Berhubung tidak ada kendaraan maka ia menggunakan motor salah satu tukang kebun. Ternyata ketika keluar tak jauh dari Villa milik Boy, terdapat salah satu tempat rekreasi laut yang di penuhi oleh para mahasiswa.
Ada salah satu mahasiswi yang membuat kedua mata David tak berkedip lantaran terkesima.
"Agnes? Si emak kucing."
__ADS_1