
"A–apa kau bilang?" kaget Boy. Satu nama yang paling ia benci namun harus ia hindari. Satu nama yang selalu membayanginya sejak masih di bangku kuliah dulu. Satu nama yang berhasil merusak hidupnya bahkan juga rumah tangganya. Kenapa kini harus kembali membawanya masuk ke dalam masalah?
"Bagaimana, bisa berhubungan dengan pria itu? Ampun! Kenapa?!" kesal Boy. Karena lagi-lagi dirinya terhubung masalah dengan pria itu. Padahal Boy sudah mati-matian melupakan kemelut rumah tangganya. "Aku sudah menasihatimu. Untuk urusanmu dengan pria itu, uruslah sendiri!" tegas Boy seraya berbalik lalu memutar gagang pintu. Namun ...
GREP!
Seketika Boy merasakan dua buah tangan ramping melingkar di pinggangnya yang kekar. Bahunya merasakan sebuah pendekatan yang membuat dadanya turun naik. Napasnya seketika tercekat, Boy kembali berjuang menahan birahi yang bergejolak dalam dirinya. Bagaimana tidak, gadis ini sejak tadi hanya mengenakan pakaian tidurnya berbahan satin. Boy, baru sadar jika dia tidaklah mengenakan penutup bukit kembar. Sehingga, dua bongkahan yang empuk itu begitu terasa di punggungnya.
"Tolong, jangan pergi. Aku takut jika nanti Mas Boy pulang ... aku kembali berubah pikiran dan--" Gadis itu tak meneruskan kalimatnya, ia justru menangis kembali seraya menelusupkan wajah ya di punggung kekar Boy.
'Gimana ini? Kenapa gua jadi masuk kedalam masalah orang lain? Gua udah kagak mau berurusan lagi sama di permen kojek.' batin Boy resah, di malam menjelang lagi dimana udara sangat dingin dan tubuhnya butuh istirahat. Berkali-kali godaan datang menghampirinya. Pantas saja jika, gadis ini terkena godaan Jack Potter, si playboy. Padahal setahunya, pria itu telah menikah dan berkeluarga.
Gadis yang tengah memeluknya ini, ternyata suka memancing bahaya. Pantas saja ia menjadi santapan buaya lapar macam Jack.
__ADS_1
Setelah berperang dengan batin dan akal sehatnya. Boy, berusaha melerai pelukan yang menguncinya. " Maaf, saya rasa ... tugas saya sudah selesai. Saya, susah menasihatimu. Memberi solusi dan jalan keluar dari masalahmu. Soal eksekusinya, itu urusan anda. Saya tidak bisa ikut campur terlalu jauh." Boy, berkata tegas seraya melepaskan cengkraman yang semakin erat merengkuh pinggangnya. Gadis di belakangnya ini begitu keras kepala.
"Mas Boy, jangan pergi. Setidaknya, temani saja malam ini. Saya sangat takut dan kesepian. Saya butuh, laki-laki yang dapat mengerti dan membimbing seperti Mas," rengeknya dengan kedua mata yang sudah kembali berembun. Hidungnya merah, dan bulu matanya yang lentik basah. Di tambah cahaya remang di dalam kamar. Bias rona wajahnya sangat menggoda. Apalagi, bibir basah merah mudanya itu terbuka seakan memancing dahaga dari Boy yang sejak tadi belum tertuntaskan.
Boy, memejamkan kedua matanya. Menarik napas dalam untuk mengembalikan kewarasannya. Menghela napas itu kasar agar segala pikiran kotornya ikutan pergi jauh.
"Maaf, saya dan anda tidak ada hubungan apapun. Bagaimana, bisa seorang wanita mengajak pria yang baru dikenalnya menginap? Apa anda tidak sadar? Bahwa anda sedang mengobral harga diri dan juga kehormatan?" cecar Boy kembali dengan kalimatnya yang menghujam jantung.
"Bu–bukan begitu. Hanya dengan Mas Boy saja saya seperti ini. Ka–karena saya merasa nyaman. Lagipula, saya yakin jika Mas Boy adalah orang yang baik," sanggahnya terbata.
Tak peduli apakah gadis muda itu akan mengikuti sarannya atau tidak. Satu hal yang pasti, Boy tidak ingin terlibat jauh dalam masalah orang lain. Cukup tau saja, jika laki-laki yang di pilih oleh Lilian ternyata adalah buaya buntung. Dimana-mana meninggalkan ekor. Habis manis sepah di buang. Mungkinkah, itu akan terjadi juga pada Lilian mantan istrinya.
Persetan.
__ADS_1
Ia tak peduli lagi. Apapun nanti akhir dan ending dari hubungan mereka. Toh, semua adalah pilihan Lilian. Meskipun, sedikit rasa itu masih ada. Setiap kenangan terukir masih terpatri kuat dalam sanubari. Boy yakin, waktulah yang akan mengobati lukanya. Waktu jugalah, yang akan membantunya mengubur semua kenangan itu.
"Huh, capek banget! Perut lapar lagi. Nguras tenaga juga ternyata menghadapi wanita-wanita aneh," gumam Boy yang kini sudah berada di atas motor hitamnya. Motor yang menurut sebagian readers macam punya power rangers. Bahkan ada yang mengatakan mirip motornya satria baja hitam. Woiya jelas, hadiah dari siapa dulu? Sistem!
Boy pun segera melajukan motornya membelah malam menuju lagi ini. Sebab, waktu di jam tangannya telah menunjukkan angka dua lewat tidak puluh menit. Tidak terasa, lama juga ia melakukan mediasi tadi.
Sesampainya di rumah, penampakan yang pertama ia lihat di ruang tamu adalah sahabatnya yang tertidur di atas karpet depan televisi yang menyala.
"Bukannya orang nonton tivi, ini malah tivi-nya yang nonton orang ngorok, mana gak pake baju!" Boy pun menutupi bagian atas tubuh David yang terbuka menggunakan jaketnya. Takut kawannya itu masuk angin mungkin. Atau, sebel liat tubuh kurus kawannya yang sengaja di pajang.
Grookkss!!
"Berisik lu, Renk!" Boy melempar bantal kursi ke wajah David berharap suara berisik yang keluar itu berhenti.
__ADS_1
"Gua ngantuk banget ini!" geram Boy mengacak rambutnya gemas. Sebab, suara dengkuran David sampai hingga ke kamar.
...Bersambung ...