Sistem Kurir Mendadak Kaya

Sistem Kurir Mendadak Kaya
SKMK. Bab 11. Senjata Penuh Pesona


__ADS_3

Boy, menghunuskan pedang panjang yang tadi hendak ditebas kebayang lehernya. Dengan rahang mengeras lantaran menahan emosi, Boy menatap satu persatu lawan yang telah tersungkur di hadapannya.


"Katakan, apa niat kalian menyerang ku! Bahkan, aku tidak kenal apalagi pernah berurusan dengan pria seperti mu!" Boy menunjuk ke arah Daniel dengan ujung mata pedangnya. Sorot matanya yang sebenarnya teduh itu kini menajam.


Daniel berusaha bangkit meskipun seluruh tulangnya sakit. Memalukan, kalah dari pria yang sejak awal dianggapnya kurir biasa ini. Pikirnya pengawalnya kali ini yang lebih hebat ketimbang preman bayarannya kemarin, akan berhasil melumpuhkan Boy. Ternyata semua tidak terjadi seperti bayangan dalam pikiran sebelumnya.


'Sial! Aku dan para pengawal suatu seperti ini. Tapi, dia berkeringat pun tidak. Kenapa dia begitu hebat. Setidaknya aku pun bukan pecundang yang tidak bisa beladiri. Sabuk hitam taekwondo Bahkan telah lama ku pegang. Tapi kenapa, serangan ku dan juga yang lain seakan tak mampu melukainya. Seakan serangan dari kami tidaklah bertenaga sama sekali.' Daniel terus mengumpat dalam hatinya. Pria penerus dari klan Walberg itu tidak terima kalah. Terlihat ia merogoh, saku dalam kemejanya yang berbalut dengan vest. Sementara, Daniel mengenakan Coat sebagai luaran.


"Apa kau tidak sadar jika telah berusaha mempermainkan wanita orang!" pekik Daniel di tengah ringisannya. Ternyata, dadanya semakin sakit untuk berteriak.


"Siapa yang mempermainkan siapa? Apa maksud mu wanita cantik berambut panjang yang malam ini makan bersama ku? Apa kau tidak salah?" ledek Boy. Nyatanya ia sedikit tau masalah ini dari sistem yang tiba-tiba memutar beberapa Vidio dalam otaknya.


"Jangan mendeskripsikan wanitaku dengan pikiran kotormu, sialan!" Daniel mengeluarkan tangan dari


balik Coat. Sekarang, sebuah senjata api telah siap meluncurkan timah panas ke arah Boy.


'Waduh! Dia curang! Hei sistem! Apa gua juga kebal terhadap peluru! Halo ... halo!' Boy berteriak cemas dalam hatinya. Keselamatannya di ujung tanduk saat ini. Kalau, hanya berkelahi dengan senjata tajam masih bisa dia kalahkan dengan mudah. Akan tetapi, ketika senjata api yang menodong kearahnya seperti ini, apa yang harus ia lakukan. Berkelit? Apakah ia bisa bergerak seperti The Matrix?


'Ini sistem mana lagi! Giliran genting aja kagak nongol!' geram Boy hanya bisa dalam hati.


Siiuunggg ... suuiiiing!


Kepala Boy terasa berputar, sakit dan nyeri. Setelah itu sekelebat bayangan macam hologram nampak tepat di depan wajahnya. Hanya, boy yang dapat melihat benda itu.


[ Nama : Boy Kutzhel


Usia : 29 tahun

__ADS_1


Status Kekayaan : 5%


Status Kekuatan : Level Gold


Status Ketampanan : Platinum


Senjata : Pesona mata teduh dan senyum menawan. ]


'Apa-apaan! Senjata macam apa itu SISTEM!' pekik boy dalam hati. Ia geram bukan main melihat senjata yang ia miliki seakan sebuah ledekan. Padahal saat ini keadaannya benar-benar genting.


'Aku butuh kekuatan menghilang! Bukan guyonan!' umpat boy dalam hati lagi. Dirinya benar-benar dibuat kesal setengah mati oleh sistem.


Bagaimana caranya agar kekuatan yang ia miliki dapat menangkis tembakan nanti. Sementara sistem melarang dirinya menumpahkan darah Bahakan membunuh lawannya ini. Sehingga, senjata tajam panjang yang berada dalam genggaman tangannya tak berguna sama sekali.


Waktu yang seakan berhenti sepersekian detik itu kini kembali bergerak. Terlihat amarah yang membuncah pada raut wajah Daniel perlahan mengendur. "Aku salah telah terjerumus sekali! Tapi bukan berarti Paula memutuskan semuanya secara sepihak. Kami bahkan hampir bertunangan!" ucap Daniel dengan nada bicara yang entah kenapa menjadi melemah dan ototnya yang tadi kencang mengendur seketika.


"Habisi saja aku, tidak ada gunanya lagi aku hidup. Jika hanya untuk melihat Paula tersenyum bersama dengan pria lain. Kau menang! Aku hanyalah pecundang yang hanya bisa membayar orang-orang payah untuk menyerang mu." Entah kenapa Daniel mengakui semua dengan jujur. Perasaannya. Seketika, pria itu menjadi melankolis.


'Apa ini efek dari kekuatan mata teduh senyum menawan? Ck! Menggelikan. Gua bahkan gak ngerasa ngelakuin apa-apa. Gua cuma berusaha mendiskriminasi musuh lewat tatapan, itu saja.' batin Boy, lagi-lagi di buat bingung dengan keadaan yang seketika berubah 180 derajat itu.


"Tenang, aja. Gua gak akan ngebunuh kalian." Boy berbicara dengan nada santai tidak seformal di awal.


"Gua gak ada hubungan apapun dengan Paula. Tapi, gak tau juga kedepannya kayak gimana. Perasaan itu kagak bisa di paksa. Apalagi kalo udah kecewa," jelas Boy. Masih dengan sikap waspada. Senjata itu masih berada di dalam genggaman tangannya.


Daniel mendongak, melihat bagaimana Boy tetap tenang menghadapi kebrutalannya. Tentu saja Paula dengan mudah tertarik pada pria pengantar barang ini. Jika dibandingkan dengannya sangat jauh sekali. Daniel memiliki emosi yang tidak stabil. Mudah marah dan meledak-ledak. Pencemburu juga dingin.


Tak tau saja kau, tadi Boy sudah kempat-kempot panik.

__ADS_1


Untung ada sistem senjata mata teduh senyum menawan.


Konfliknya dengan Paula bemula, ketika Daniel ingin memenangkan sebuah kontrak dari tender besar. Fatalnya, Daniel rela ikut masuk ke dalam circle hubungan sesama jenis. Pada saat itu, Daniel menerima ajakan putra dari seorang anggota dewan kepemerintahan.


Entah bagaimana, Paula dapat mengetahuinya. Setelah itu, langsung saja Paula membatalkan rencana pertunangan mereka. Meskipun, Daniel telah menjelaskan bahwa mereka belum melakukan hubungan di luar batas.


"Gua kagak mau ikut campur urusan masa lalu kalian. Saat ini hubungan kami sekedar teman pengisi waktu luang. Gua rasa Paula udah nunggu terlalu lama. Gua harus nganter dia pulang sebagai lelaki gentle man." Boy pun bangkit dan berbalik dengan gagah.


Daniel menjatuhkan raganya yang lemas. Terpaksa menerima kekalahannya dengan setengah hati.


CIILUUNGG!


"Apaan lagi nih? Awas aja kalo notif kagak jelas!" ancam Boy sambil membuka ponselnya. Ia telah membuang senjata tajam itu kedalam kolam berikut dengan senjata apinya. Semoga saja para ikan koi itu tidak perang.


[ Misi anda berhasil! Lumayan sport jantung kan! Hadiah besar menanti anda besok di suatu tempat! So, enjoy it! ]


"Suek lu emang! Bikin jantung gua mau copot, njirr! Awas aja kalo hadiahnya kagak bagus!" umpat Boy pada layar ponselnya sendiri macam ODGJ.


"Hai, cantik. Maaf menunggu lama." Boy yang telah sampai di kursi mereka tadi merasa tak enak hati. Semua lantaran mantan tunangan Paula yang sejak kemarin ingin menghabisinya. Bagus saja, pria itu menyerah.


Mendengar panggilan bernada rayuan, sontak kepalanya menoleh. Paula, yang sebenarnya ingin marah menjadi tak kuasa ketika melihat senyum menawan dari Boy yang tercetak serasi di wajah tampan bak menekinnya itu.


"Mulai besok, jangan jadi kurir lagi."


"Eh!"


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2