
Pupil kedua mata Chie Bie yang berwarna abu-abu bergerak-gerak cepat. Hatinya berdentum bak ada sekelompok pasukan marching band.
Amarah dan kegundahan hatinya seketika merebak. Tatkala sepasang mata unik miliknya bertemu dengan iris pekat milik Boy. Pria di hadapannya ini memiliki aura yang membuat hatinya tenang seketika. Baru kali ini, Chie Bie merasakan senyum yang begitu tulus. Padahal, tadi dirinya sempat bermaksud melukai pria yang telah memenjarakan ayahnya.
Pria yang notabene, adalah ayah biologisnya itu, akan tetapi tak pernah sekalipun perduli terhadap keadaan dirinya, ibu dan juga adik semata wayangnya. Melupakan bahkan, seakan tidak mengakui keberadaan mereka bertiga. Parahnya lagi, Soo Eun tidak ingin melepaskan sang ibu dengan cara menceraikannya.
Dengan begitu, maka Ah Yeon tidak bisa menikah lagi sampai surat dari pengadilan agama itu turun. Soo Eun memang ingin menyiksanya, adik dan juga ibunya. Kurang apa, bahkan Ah Yeon mengikhlaskan Soo Eun menikah lagi. Sampai tragedi yang mengakibatkan petaka itu terjadi.
Soo Eun yang tiba-tiba datang kerumah ketika hanya ada sang adik yang tengah mengerjakan PR dari sekolahnya. Kala itu, kejadian satu tahun yang lalu. Mi Ka, baru saja menginjak sekolah menengah atas selama satu bulan.
Entah kemasukan setan apa, di dalam rumah Ah Yeon, Soo Eun tengah merobek mahkota putrinya sendiri. Dimana kala itu, ia tinggalkan Ah Yeon ketika Mi Ka baru berusia tiga bulan. Soo Eun mati-matian menolak bahwa Mi Ka adalah darah dagingnya sendiri.
__ADS_1
Melihat kejadian, anak gadisnya di gagahi dengan kejam oleh mantan suaminya yang kejam. Ah Yeon hanya bisa berteriak histeris setelah Soo Eun mendorongnya. Hingga dengan keras kepalanya membentur ujung meja dan berdarah.
"Dia, pria brengsekk itu telah membunuh ibu dan juga adik kecilku! Aku tidak mampu menghabisinya dengan kedua tangan ku. Aku tidak memiliki daya dan kuasa. Setiap saat para pengawal itu selalu berada dekat dengannya. Bahkan, aku telah belajar beladiri. Tapi, tetap saja aku lemah!" Chie berteriak dengan tubuh bergetar dalam tangisnya yang menyayat. Entah kenapa, rasa iba itu seketika menyeruak keluar dari sanubari seorang Boy Kutzhel.
"Pria sejahat itu, entah kenapa bisa berkarir bagus di perusahaan ini. Sampai, menghabiskan dana ratusan milyar. Tentu saja, aku tidak akan membiarkan pria itu mati dengan cara enak," ucap Boy dengan tatapannya yang tak lepas dari sepasang iris unik milik Chie Bie.
"Benarkah, Tuan, akan membantuku?" tanya wanita berparas alami ini tidak percaya. Dadanya turun naik mendengar kalimat yang Boy ucapkan. Saking dekatnya keadaan mereka berdua saat ini. Hingga tubuh keduanya tiada jarak pemisah. Bahkan, Boy dapat merasakan bagaimana detak jantung Chie yang berdebar sangat kencang.
Boy menarik kecupannya ketika, ia melihat bagaimana Chie sampai kesusahan untuk bernapas.
"Jadi, ini caramu untuk membunuhku. Membuatku kesusahan untuk bernapas, hah!" pekik Chie, marah. Tapi, sama sekali tidak menyeramkan apalagi menyebalkan. Justru wajah menyebalkan gadis itu begitu menggemaskan bagi, Boy.
__ADS_1
"Bukan, itu adakah caraku untuk menenangkan hatiku. Terbukti kan, aliran darahmu bahkan lebih lancar sekarang. Saturasi oksigen dalam darahmu telah berada di grafik normal. Tinggal detak jantung dan juga desah napasmu yang masih saling kejar-kejaran," tutur Boy macam tenaga kesehatan saja. Membuat, Chie melongo dan tersenyum tipis sesudahnya.
"Apa kau tau tekanan darahku sekarang normal atau tidak? Karena kurasa ia meningkat drastis dari sebelum aku datang kesini," tanya Chie yang masih bertahan pada posisinya.
"Tentu saja, tekanan darahmu sedikit tinggi tadi, tapi sekarang telah turun di angka 130/100," jelas Boy yang penjelasannya itu kembali membuat Chie terheran-heran.
"Tapi, kau pasti tidak tau kan berkata saturasi tekanan dalam gila darahku saat ini. Sebab, menurut ku pasti saat ini sedang naik tinggi," ucap Chie Bie, kikuk dan sedikit salah tingkah. Apalagi, Boy masih terus memasang senyum padanya.
"Hemm ... sedikit tinggi. Karena itu, berhentilah memandangiku dengan tatapan kagum seperti itu," jelas Boy. Seketika menciptakan semburat malu pada kedua pipinya.
...Bersambung ...
__ADS_1