
Susan turun panggung untuk istirahat, kemudian diselingi oleh beberapa penyanyi lokal. Kesempatan bagi, Boy untuk mencari angin keluar. Ia ingin memastikan apa maksud dari perintah sistem yang baru saja masuk ke dalam pikirannya. Biasanya, sistem akan berkomunikasi padanya lewat notif aplikasi.
"Maaf, Nona Najwa. Saya ada urusan sebentar. Permisi!" pamit Boy seraya menyingkirkan tangan Najwa yang sejak tadi memegangi lengannya. Kenal juga baru, tapi sudah sok dekat. Untung saja cantik.
"Oh, sayang sekali. Tapi, berikan aku nomer ponsel anda. Agar, suatu waktu kita bisa minum kopi bareng. Bagaimana? Bolehkan?" pinta Najwa. Ia selain bermaksud mengulik kepribadian dari pria yang menarik perhatian Susan ini. Ternyata juga penasaran dan tertarik untuk mengobrol dan bertukar cerita dengan seorang Boy Kutzhel. Pria yang begitu memikat, membuat Najwa tak mampu menolak pesonanya.
"Um, baiklah. Mana ponselmu?" pinta Boy. Ia sengaja meminta ponsel reporter Najwa. Agar ia tak perlu mengeluarkan ponsel termahal di dunia miliknya.
"Ponselku tertinggal di mobil. Sini, ponselmu saja. Biar aku yang menulis nomerku di sana," kilah Najwa. Ia sempat melihat sekilas dan ingin segera memastikan apakah pengobatannya benar dan tidak salah lihat.
"Aku, tidak membawa ponsel. Sama sepertimu.Tertinggal di mobil," kilah Boy. Bagaimanapun, ia tak ingin menunjukkan ponselnya lagi pada siapapun.
"Lalu ini apa!" sentuh Najwa dengan berani pada saku celana Boy yang memang menonjol. Boy mendelik seketika. Gadis ini, apakah ia keluar dari rahim seorang wanita? Kenapa kelakuannya tidak sebanding dengan kecantikan parasnya? Ia begitu pemaksa, membuat Boy ingin segera menjauh.
"Ah, iya. Ku pikir tadi tertinggal." Mau tak mau, Boy akhirnya mengeluarkan juga ponselnya. Dan ... seketika kedua iris mata indah milik Najwa sukses membola.
"Ternyata benar! Owh, maksudku ... wow! Kau memiliki ponsel termahal di dunia. Satu-satunya ponsel yang di ciptakan oleh seorang designer permata dan berlian!" pekik Najwa kagum hingga kedua matanya itu berbinar terang. Lengannya seketika gemetar ketika, Boy memerintahkan padanya untuk mengetik nomer ponselnya.
'Tadi aja kau kepo. Sekarang kau gemetaran! Gadis aneh!' batin Boy, seraya memutar bola matanya malas. Ia tau jika wanita ini tengah mengulik informasi darinya. Entah, itu apa dan untuk apa.
"Susah kan? Kalau begitu aku permisi!" pamit Boy lagi.
"Sampai jumpa lagi, Boy! Aku akan menghubungimu!" teriak Najwa ketika Boy semakin jauh.
__ADS_1
Boy yang telah terlepas dari, sang reporter cantik nan seksi itu. Ternyata tidak di sia-siakan olwh wanita seksi yang sejak tadi memperhatikan keduanya. Bahkan kedua mata Lilian hampir gelinding keluar, tatkala ia menyaksikan ponsel milik Boy, mantan suaminya itu. Lilian ingat kala ia memutuskan untuk selingkuh dengan Jack. Boy, hanya memiliki ponsel dengan layar retak yang ia gunakan untuk bekerja sebagai kurir OJol.
Tentu saja, mengetahui jika mantan suaminya ini sudah menjadi pria yang kaya raya. Lilian, semakin semangat untuk mendekati Boy lagi. Apapun nanti masalah yang akan timbul di belakang ia tak peduli. Lilian akan memastikan bahwa Boy harus kembali kedalam pelukannya lagi. Atau, ia akan menjadi wanita paling bodoh di dunia.
"Boy!" panggil Lilian. Ia bahkan memutuskan untuk mengangkat bawah gaunnya dan berlari menggunakan sepatu hak tinggi.
"Lilian!" Boy yang langsung menoleh kala mendengar namanya dipanggil seketika tersentak kaget. Demi apa ia bertemu sang mantan istrinya di sini? begitu pikir Boy saat ini.
"Tenyata ini benar kau!" Lilian langsung menabrakkan dirinya keatas dada bidang Boy. Lalu, memeluk pinggang pria yang pernah ia khianati cintanya demi uang itu dengan erat.
"Lepas Lilian!" Boy melepas rangkulan dari Lilian hingga wanita cantik yang berpakaian sangat seksi di hadapannya ini mundur satu langkah.
"Boy, kau kenapa kasar sekali? Padahal aku sangat senang karena bertemu dengan mu disini," ucap Lilian lirih dan parau seakan tengah menahan tangis. Bahkan, ia menutup bibirnya dengan satu tangan dan satu tanahnya lagi memeluk pinggang. Oh, betapa terlihat rapih kau Lilian. Sungguh akting yang bagus untuk menarik simpati pria lembut macam Boy. Ya, Lilian tau bagaimana perasaan Boy dulu padanya dan bagaiman sikap Boy terhadap wanita. Ia berpikir mungkin kali ini, Boy akan luluh kembali dengan akting nya sebagai wanita yang lemah dan aniaya.
"Boy, aku merindukan mu. Aku sadar setelah jatuh darimu. Apalagi ketika menonton konser Susan tadi. Aku terus mengingat masa-masa kebersamaan kita dulu. Aku ingin kembali padamu, Boy!" ucap Lilian dengan tatapan sendu dan berkaca-kaca.
Boy tertawa sumbang, lalu ia tersenyum. " Apa kau tengah memohon dengan pria sampah yang kau buang ini, Li? Apa kau lupa bahwa dirimulah yang telah meninggalkan ku, lalu meludahiku di hadapan selingkuhanmu? Apa kau tidak merasa jijik dengan dirimu sendiri?" cecar Boy tetap dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya. Sebenernya, Boy ingin tergelak melihat keadaan Lilian saat ini.
Lilian menyingkirkan rasa malunya, ia tak peduli apapun perkataan serta anggapan Boy terhadap dirinya. Lilian maju dengan cepat dan kembali memeluk, Boy.
Greepp!
"Lepaskan, Lilian! Hubungan diantara kita sudah berakhir untuk saat itu dan selamanya!" tolak Boy. Ia takut kelepasan lantaran emosi, lalu mengeluarkan tenaganya dengan kuat. Sebab, itu dirinya hanya menahan bahu Lilian yang saat ini tengah menangis di atas dadanya.
__ADS_1
"Apa-apaan kalian!" teriak seorang pria dalam balutan jas berwarna grey yang membuatnya sangat gagah. Langkahnya begitu cepat dan tegas menghampiri kedua manusia yang menurut penglihatannya tengah berpelukan.
Setelah dekat, Jack menarik lengan Lilian dengan kuat hingga wanita itu terjengkang ke belakang.
"Jack!" teriak Lilian ketika bokongnya bertemu secara kasar dengan marmer dingin. Tak peduli sedikitpun, bahkan tak mau menoleh ke arah Lilian. Dengan rahang yang mengeras, pria berwajah kaku itu kembali menghampiri Boy yang masih bergeming.
Lalu, Jack ...
Bug!
Dug!
Dua pukulan mendarat telak ke wajah manekin Boy yang tanpa cela itu. Hingga, kepala Boy menoleh cukup keras. Boy menyeringai, tak ada rasa sedikitpun. Ia merasa seperti di pukul oleh kepalan tangan anak bayi, mungkin.
Jack, tersentak. Pukulannya sama sekali tidak meninggalkan bekas apapun. Padahal tangannya sendiri merasa begitu nyeri bagai habis memukul besi. Jack, memegangi tangannya yang serasa mau lepas itu. Ia meringis dalam diam. Tak ingin lawannya tau jika sebenarnya ia tengah kesakitan. 'Huh! Yang benar saja! Bahkan, Boy tidak melakukan apa-apa. Tapi, kenapa aku yang justru kesakitan!' batin Jack bingung.
"Enak banget ya? Yang satu datang main peluk, satunya lagi datang main pukul. Kalian berdua emang pasangan gak punya akhlak yang paling kompak!" seru Boy seraya terkekeh geli. Ekor matanya melihat bagaimana, Lilian berusaha bangun dengan susah payah. Sebab, Jack lumayan keras melemparnya tadi.
"Sialan!" Jack seakan tidak jera, ia pun maju kembali dengan sebuah senjata lipat yang ia simpan di saku celananya.
Sreettt!!
...Bersambung ...
__ADS_1