Sistem Kurir Mendadak Kaya

Sistem Kurir Mendadak Kaya
SKMK. Bab 27. Semakin Mempesona.


__ADS_3


Susan menatap Boy yang kaget atas permintaannya. Sementara itu, Boy yang melihat Susan jatuh karena ulahnya segera menunduk dan mengangkat tubuh molek itu. "Ma–maaf, tadi kaget jadi terlepas. Apa ada yang sakit?" tanya Boy bernada khawatir. Susan hanya tersenyum dan menggeleng pelan. Gadis itu melirik arloji cantik berlapis berlian yang melingkar pada lengan rampingnya.


"Sebentar lagi, aku akan tampil pada konser. Satu jam lagi. Sementara, aku masih betah sama kamu , Boy. Bisa tidak kalau aku ingin, waktu berhenti sampai sini saja?" ucap Susan sendu dan pelan.


"Hemm, mana bisa begitu. Waktu tidak akan pernah berhenti berputar. Sebab, itu kita harus menghargai waktu yang telah berlalu mau itu momen yang pahit sekalipun momen yang indah. Sejatinya, setiap hal yang singgah dalam kehidupan kita adakah hal yang berharga. Sebuah kenangan dan juga pengalaman yang seharusnya membuat kita semakin dewasa dan bijaksana. Semua itu pasti ada makna di dalamnya," tutur Boy begitu bijak dan menentramkan.


"Kalau kau tidak tampil, akan ada banyak hati yang bersedih. Akan ada banyak mimpi yang pupus. Akan ada banyak jiwa yang pesimis dan kecewa. Karena, secara tidak langsung ... kau adalah penyemangat agar mereka tetap bertahan dalam mimpi dan cita-cita. Tetap bertahan untuk memperjuangkan apa yang mereka yakini. Jangan mengecewakan orang yang mencintaimu, jika kau ingin hidupmu bermakna di kemudian hari. Hargai setiap titik cinta dan rasa kagum itu. Itulah yang membuat mu tinggi dan selalu di hargai. Kau memiliki hampir segalanya, syukuri itu. Jangan melihat dan memikirkan yang belum engkau raih dan kau miliki. Nanti, kau akan menjadi manusi kerdil yang tak tau diri. Aku akan mengantarmu, dan akan berada di sana untuk mu," ucap Boy mengakhiri tutur kalimat panjang yang berisi nasihat bijak itu.


Entah, darimana ia bisa berpikir sedewasa itu. Kalimat demi kalimat yang penuh makna itu lolos begitu saja dari kedua bibirnya yang seksi. Boy mengulas senyum, gadis di hadapannya semakin terpesona padanya. Bukan kuasanya untuk menolak apa yang ia dapatkan hari ini. Susan, begitu terpikat dan seolah tak mau lepas. Tanpa mereka sadari, ada seorang paparazzi tersembunyi. Dengan sebuah seringai kemenangan. Sebab, ia mendapat berita eklusif yang akan menaikkan karirnya melesat tinggi.


"Pasti, hanya aku yang punya berita ini. Ahh, beruntungnya diriku. Untung saja, aku ikut uncle kesini. Meskipun aku muak dan jijik dengan sorot matanya yang membuatku hampir muntah," gumam wanita cantik dengan rambut digelung asal itu. Namanya, Najwa Khebab. Dia adalah seorang reporter yang masih muda. Usianya sekitar 23 tahun.


"Pria itu, sangat menawan. Membuat mata ini segar dan ingin terus memandanginya lebih lama. Pantas saja ia mampu memikat, Susan yang antipati terhadap laki-laki. Oke, ini berita besar ku." Najwa menggenggam kamera itu dan berlalu seraya tersenyum puas. Ia telah mendapatkan gambar banyak. Tapi, ia juga tak mau buat masalah dengan keluarganya. Karena itu ia segera pergi dan melupakan adegan bagus selanjutnya.


"Benarkah, Boy? Kau akan terus melihat ku hingga konser selesai?" cecar Susan mengulang janji Boy yang di ucapkan tadi. Boy, pun mengangguk dan tanpa di duga Susan menempelkan bibirnya ke pipi Boy. Belum hilang kagetnya itu, kini Susan mengalihkan ciuman itu ke bibir. Tak ingin terseret arus lebih dalam lagi, Boy terpaksa menghentikan tautan yang sebenarnya telah membakar geloranya itu.


"Em, aku antar kau sekarang. Kenakan lagi, Coat dan juga penutup kepalanya." Boy menuntun Susan hingga mereka turun dari kapal pesiar tersebut. Masuk ke dalam Porsche mewahnya dan meluncur menuju hotel di mana Susan akan tampil malam ini. Susan terus menyunggingkan senyum bahagianya. Ia tak mampu menyembunyikan rasa yang membuat hatinya mekar dan berkembang ini. Bahkan, ia ingin sekali tertawa lepas. Serasa ada ribuan kupu-kupu yang menari dan mengepakkan sayap kecil mereka didalam perutnya.

__ADS_1


Boy, sampai susah mengantar Susan hingga ke depan lobi. Di sana ternyata, Cia telah menunggu dan menyambut mereka dengan samaran juga. Beberapa pria pengawal berpakaian biasa pun siap sedia di belakang, kanan, kiri dan samping.


Boy mengikuti dari belakang, dan tersenyum memberikan keyakinan pada Susan bahwa dirinya akan menepati janji. Karena, Susan terus saja menengok kebelakang seakan takut jika Boy pergi.


"Sepertinya, anda sangat menikmati malam ini ya, Nona?" goda Cia selaku manager yang juga Susan anggap sebagai sahabat dan seorang kakak. Meskipun, yang memilih Cia adalah ibu tirinya. Akan tetapi, Cia baik dan mengerti perasaannya. Cia selaku menyisihkan pendapatan Susan ke rekening yang lain. Lalu, menyerahkan sebagian pendapatan yang lebih besar ke tangan Nyonya Molla, ibu tiri Susan.


Konser pun akhirnya di mulai.



Susan tampil dengan sangat memukau dan menakjubkan. Membuat ratusan pasang mata hanya tertuju padanya. Begitupun juga dengan Boy tentu saja.



Tidak disangka, jika mulut dan lidah mereka bisa mengeluarkan kalimat kotor dan Menjijikkan seperti itu.


Boy yang serius tak menyadari jika ada seorang wanita yang tengah memperhatikannya dari jauh.


__ADS_1


"Apa iya, itu kau, Boy? Mantan suamiku yang miskin dan bodoh?" gumamnya pelan seraya memperhatikan lebih seksama lagi. Bahkan, wanita yang tak lain adalah Lilian sang mantan istri. Berjalan perlahan mendekat dari samping. Sepasang matanya yang berbulu lentik itu seketika membola, ketika ia melihat dari dekat dan memastikan dengan yakin. Bahwa, pria menawan dengan tubuh tegap atletis itu memang mantan suaminya. "Gilak, ini gak mungkin dia! Bahkan, semua barang yang melekat di badannya branded semua!" Lilian menutup mulutnya ketika menaksir harga arloji, sepatu, bahkan Jas yang di kenakan oleh Boy.


Ketika ia ingin melangkah lebih dekat lagi, gerakannya di hadang oleh seorang wanita cantik bertubuh tinggi semampai. Lilian mengenalinya, sebab wanita itu adalah reporter terkenal salah satu stasiun televisi swasta.



"Halo, Tuan. Selamat malam!" sapa Najwa, membuat Boy menoleh dan segera melempar senyumnya. Ia memang pria yang ramah dan akan menebar senyum dengan siapapun yang menyapanya. 'Haihh, ternyata dia benar-benar menawan dan sangat tampan. Hatiku berdenyut padahal baru mendapat seulas senyum saja. Pantas, jika Susan Kimberley kepincut pria. Pesona laki-laki ini sungguh luar biasa.' batin Najwa, memuji dan mengagumi apa yang ada di hadapannya saat ini.


"Apa saya mengenal anda, Nona?" Boy menyapa balik dengan pertanyaan. Ia tidak ingin melepaskan pandangan dari sosok Susan di atas panggung. Namun, pemandangan di sampingnya ini juga sayang jika di lewatkan begitu saja. Ahh, kau ini Boy.


_____


Di tempat yang berbeda di waktu yang sama.



"Kenapa, elu ngeliatin gua kayak gitu?" tanya Agnes pada David yang sejak tadi terus memperhatikan dirinya. Membuat ia kesusahan menelan takoyaki yang berisi daging baby gurita ini. Entah kenapa, hatinya mendadak gugup. Pikirannya masih di penuhi pertanyaan, bagaimana sampai pria slengean ini berada di satu kota yang sama dengannya.


"Mata, mata gua. Terserah lah, mau ngeliatin siapa! Udah si, makan aja biar kesel dan takut lu ilang," ketus Boy. Kesal, karena Agnes tetap judes padanya. Ya susah mending judesin balik. Begitu pikir David.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2