Sistem Kurir Mendadak Kaya

Sistem Kurir Mendadak Kaya
Bab. 40. Konglomerat


__ADS_3

"Kau tidak perlu tau bagaimana aku kembali bisa berdiri normal! Satu kebodohan yang hakiki karena telah begitu percaya dan mencintaimu!" Jung semakin tak terkendali. Pria itu semakin mengencangkan cekikannya, hingga Su megap-megap.


"Ah, aku tidak boleh membunuh mu begitu saja." Jung sontak melepaskan cekalannya pada batang leher Su. Hingga, wanita itu terjatuh lunglai dalam keadaan yang lemas.


"Kau telah membuat kami menderita dengan penyakit buatanmu. Sepertinya kau pun harus merasakan hidup tersiksa dengan penyakit sebelum nyawamu melayang dari badan!" ujar Jung begitu emosi. Pria ini benar-benar sakit hati lantaran marah juga kecewa luar biasa. Tak di sangkanya, wanita yang ia bela sedemikian rupa telah membuatnya lumpuh dan membuat putri satu-satunya terkena penyakit jantung.


Belum lagi di sebabkan oleh fitnah dan issue yang ia buat. Maka, Jung dan juga sang puteri mengalami salah paham yang berakibat merenggangnya hubungan mereka. Jung, terlihat mengambil ponsel pintarnya di atas nakas kemudian ia menghubungi seseorang.


"Atur jadwal pertemuanku dengan kuasa hukum. Aku ingin mengubah surat wasiat!" titah Jung pada ajudannya melalui telepon. Kemudian ia menghubungi orang yang lainnya.


"Profesor Kwang, aku membutuhkan bantuanmu. Ku tunggu segera!" Jung menutup panggilannya dengan seringai bengis. Ia terpaksa menjadi kejam demi memberi pelajaran pada wanita yang berniat menghancurkan hidupnya dan juga Susan.


"Aku, akan membuatmu lebih menderita. Hingga kau akan memohon agar kematian itu menjemputmu. Wanita jahanam sepertimu memang pantas di buat mati perlahan-lahan," ucap Jung pelan, tapi penuh penekanan pada setiap kata. Jung bahkan mencengkeram belakang kepala Su, hingga wajah berderai air mata pada wanita itu mendongak.


"Ma–maafkan aku ... apa yang kau tau ... semua itu ... tidaklah benar. Aku ... aku mencintaimu, Jung ..," sangkal Su, lirih memelas.


"Kali ini, aku tidak akan tertipu lagi dengan akting murahanmu! Berhenti memasang wajah tanpa dosa mu, Su Hanna!" pekik Jung penuh emosi tertahan.


Su terperanjat, Jung benar-benar marah. Sebab pria itu tak pernah memanggil nama lengkapnya apalagi sambil berteriak. Ingin rasanya kabur tapi seluruh sendinya tak mampu ia gerakkan. Tungkainya lemas bahkan untuk berdiri sekalipun.


Tak lama kemudian, wanita bergelar profesor yang Jung hubungi tadi telah tiba di mansion." Anda!" profesor yang bernama Kwan membulatkan matanya tatkala melihat Jung dapat berdiri tegak menggunakan kedua kaki yang ia tau telah tak berfungsi selama setahun belakangan ini. Bahkan spesial orthopedi pun menyatakan bahwa kelumpuhan yang di derita Jung adalah permanen.


"Tidak perlu bingung. Aku jelaskan pun kau tidak akan percaya. Sebab, aku pun begitu. Masih tidak mempercayai apa yang terjadi padaku. Tugas mu sekarang adalah ..." Jung memasang seringainya dengan pandangan mengarah pada Su yang bersandar pada dinding.

__ADS_1


"A–apa yang mau kau lakukan padaku, Jung! Akh!" Su berteriak kencang ketika sang profesor memerintahkan orangnya untuk meletakkan Su, ke atas tempat tidur. Dan, salah satu dari mereka melakukan injeksi beberapa kali pada bagian kaki dan juga tangannya. Dalam hitungan menit, Su menangis sebab ia tak mampu menggerakkan anggota tubuhnya. Bahkan, bersuara pun ia tak bisa.


Jung memanggil penjaga di luar. " Antarkan, Su Hanna ketempat selingkuhannya!" Jung mendorong kursi roda bekas pakai miliknya itu. Para penjaga pun segera meletakkan Su di sana. Lalu melaksanakan sesuai apa yang diperintahkan oleh majikan mereka.


Sementara di rumah sakit. Boy, hendak membawa Susan pergi. Para tim dokter kaget bukan kepalang. Belum pernah terjadi dalam hidup mereka jika pasien yang baru saja menjalani operasi transplantasi jantung akan pulih dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam.


"Apa yang terjadi pada wanita itu?" tanya salah satu perawat, ketika mendapati Cia yang pingsan dan terluka.


"Panggil polisi! Wanita itu baru saja melakukan perencanaan pembunuhan terhadap pasien. Bahkan dia menyamar sebagai salah satu perawat. Saya akan segera membawa, kekasih saya keluar dari sini. Cepat buat surat ijinnya!" titah Boy yang mana dengan auranya itu mampu membuat para tim medis menurut. Tak lama kemudian surat ijin pulang sudah di tangan. Dan, Cia telah dibawa oleh tim penyidik untuk segera di proses hukum.


Susan yang telah berganti pakaian yang di beli oleh Boy, hanya bisa memandang bingung sekaligus takjub pada Boy. Pria yang telah mendatangkan berjuta kebahagiaan untukmu. Pria yang tanpa ia pinta selalu hadir menolongnya. Bahkan, Susan bingung mengapa Boy bisa memiliki kekuatan seperti itu. Hingga, kini ia merasa keadaan tubuhnya sangatlah bugar dan sehat.


"Apa kau tidak takut jika lama-kelamaan kedua matamu itu akan copot? Sebab terlalu lama memandangku secara diam-diam?" cecar Boy sambil senyum-senyum. Sebab ia mengetahui hal itu melalui ekor matanya.


Susan, sontak salah tingkah. Ketika, Boy tau jika sejak tadi ia terus memandangi tanpa kedip. Susan pun segera menolehkan wajahnya ke samping jendela. Ia meringis malu, kemudian menggigit bibir bawahnya.


"Ada pria tua yang merindukan mu. Aku akan membawamu menemuinya," jawab Boy tenang.


"Appa ...," ucap Susan lirih.


[ Selamat telah menyelesaikan misi! Hadiah akan di kirim beberapa menit lagi. ]


Kabar dari sistem hanya membuat, Boy tersenyum tipis. Ia senang kini sistem telah menyatu dengan duitnya. Sehingga tidak ada lagi suara berisik yang menggangu setiap kali informasi masuk.

__ADS_1


"Masuklah, temui dia! Kau akan terkejut," ucap Boy dengan wajah full senyum.


"Temani aku, Please!" Susan memasang wajah memohon yang akhirnya membuat Boy mengangguk.


Susan berjalan di depan sedangkan, Boy di belakang. Pada saat itu juga sistem menampilkan layar hologram yang hanya mampu di lihat oleh Boy.


"Jelaskan! Aku tidak mengerti arti dari tulisan-tulisan ini," bisik Boy pada sistem.


[ Anda memiliki 21 persen saham di Sk Hinix. Perusahaan teknologi terbesar di Korea Selatan. Milik SK Group. Saham seharga USD 2, 98 Miliar setara dengan ... hitung saja sendiri! Selamat menjadi konglomerat, Tuan Boy! ]


Seketika, Boy mendapat beragam informasi mengenai perusahaan ketiga terbesar di Korea Selatan itu.


"Oh, Sistem! Apa kau ingin membunuhku? Kenapa aku kau berikan kekayaan sebanyak itu. Jantungku belum siap!" Boy, serta merta berpegangan pada dinding. Ia berhenti sebentar untuk mengontrol napasnya.


[ Persiapkanlah, mental anda, Tuan! Sebentar lagi, anda akan di kelilingi bidadari! ]


Lagi-lagi sistem menyahut. Bahkan semakin nyeleneh saja.


"Stop! Jangan bahas itu dulu!"


"Boy, kau tak apa?" Susan yang menoleh merasa aneh, sebab Boy tertinggal di belakang sambil berbicara seorang diri.


Tak menjawabnya, Boy hanya tersenyum. Lagi, mau jawab apa? Sementara dirinya saja masih bingung.

__ADS_1


Hais, Boy.


Tiba-tiba miskin bingung ... Eh, tiba-tiba konglomerat makin bingung. Wkwkwkwk!


__ADS_2