
Keesokan harinya, Melodi menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Ia menyiapkan makanan yang dimasaknya untuk dirinya dan Alex. Ia menanyakan pada pelayan rumah mengenai makanan favorit apa saja yang Alex suka. Setelah setengah jam berperang dengan bahan mentah menjadi bahan siap dihidangkan di atas meja makan. Melodi bisa bernafas dengan lega, apalagi ia melihat makanan yang dimasaknya sudah berada di atas meja.
Walaupun banyak pelayan rumah yang dipekerjakan oleh Alex untuk membantu dirinya memasak. Tapi, Melodi menolak bantuannya. Ia tidak ingin masakannya campur tangan oleh orang lain.
"Semua makanan sudah beres, tinggal mengajak Alex untuk sarapan pagi bersamaku." lirih Melodi. Ia melangkahkan kaki menaiki anak tangga menuju ruang kamar tidur Alex.
Baru saja Melodi ingin mengetuk pintu kamar Alex, tiba-tiba Alex telah membuka pintu dan berdiri di hadapannya.
"Ada apa?" ucap Alex dengan berpakaian rapi dan kacamata bulat tebalnya.
Melodi yang melihat wajah Alex yang sangat dekat untuk ketiga kalinya tanpa menerima noise apapun. Ia hampir terpana dengan wajah tampan Alex dibalik kacamata hitam dan rambut culunnya itu.
"Andai saja, Alex tidak mengenakan kacamata dan merubah gaya rambutnya seperti pria zaman sekarang. Pastinya, Alex lebih tampan dari pria manapun." puji Melodi dengan tatapan mata ke arah Alex. Tanpa Melodi sadari, ia memuji suami culunnya itu.
Alex yang tidak menerima jawaban apapun, apalagi tatapan mata Melodi seperti kelaparan melihat makanan lezat. Membuat dirinya bergidik ngeri dan dengan cepat dirinya mengajak Melodi terbangun dari lamunannya.
"Melodi, ada apa ke kamarku? Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Alex pada Melodi yang terdiam dan tatapan mata tanpa berkedip.
"Melodi, ayo kita sarapan pagi bersama. Aku mau berangkat ke kantor."
"Melodi, kenapa masih melamun? Ayo kita turun." lagi -lagi perkataan Alex seperti angin lewat. Ia menghela nafas kasar dikala Melodi tampak senyum-senyum sendiri ke arah dirinya.
"Benar kan Alex itu sebenarnya pria tampan. Tapi, Alex yang tidak bisa merawat diri agar terlihat menarik. Lihatlah alisnya tebal seperti ulat bulu, kedua bola matanya berbentuk donat berwarna hitam, hidungnya mancung seperti perosotan, bibirnya seksi seperti bayi belum bisa makan sendiri. Apalagi kumisnya tipis-tipis seperti om mapan. Sungguh sempurna." kata Melodi dalam hati. Ia terus tersenyum tulus menatap ke arah Alex yang sepertinya terlihat heran pada dirinya.
Melodi merasakan ada tangan kekar yang menyentuh keningnya. Seketika ia tersadar dari lamunannya yang terus memuji Alex.
"Tidak panas dan normal saja. Tapi, kenapa tidak ada respon apapun saat aku memanggilnya," ucap Alex dengan wajah binggungnya.
__ADS_1
"Hei, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu menyentuhku?" tanya Melodi dengan suara sedikit berteriak pada Alex.
Alex terkejut bukan kaleng-kaleng saat Melodi memarahinya.
"Hei, apa yang kamu katakan? Aku hanya memeriksamu agar tidak melamun terus. Buang waktu-waktuku saja menunggumu berdiri diam tanpa menjawab pertanyaanku. Ya sudah, aku mau sarapan dulu. Kamu bisa menyusul," ucap Alex lalu ia melangkah pergi meninggalkan Melodi yang hanya terdiam mendengar perkataannya.
"Kenapa aku diam saja saat ditinggal oleh dia yang memarahiku balik? Ya ampun, apa yang terjadi pada dirimu Melodi? Seharusnya aku yang memarahinya yang berani menyentuhku." Melodi ikut turun ke bawah untuk menyusul sarapan pagi bersama.
Melodi yang sampai di ruang makan, ia melihat Alex yang makan duluan.
"Kenapa tidak menungguku makan?" tanya Melodi yang mengambil piring untuk dirinya dan mengisi makanan yang dimasaknya.
"Ada jadwal rapat di kantor pemerintah lain, aku harus cepat pergi ke kantor untuk menyiapkan perlengkapan berkas rapat." jawab Alex di sela makannya.
"Oh begitu." sahut Melodi yang mulai menyuapi makanannya. Baru saja dirinya mengunyah makanan yang dimasaknya itu tiba-tiba ia tersedak dari makanannya.
Alex yang melihat Melodi terbatuk-batuk, ia langsung memberikan gelas berisi air putih untuk Melodi.
"Makanan ini masakanmu ya enak juga? Rasanya banyak asin-asinnya. Tapi, aku hargai kamu membuat makanan kesukaanku agar mau mencuri hatiku," ucap Alex enteng membuat Melodi memberikan tatapan tajam ke arah Alex.
"Jadi, kamu menghina masakanku?" ucap Melodi terpancing emosi atas perkataan Alex tadi.
Alex yang sibuk memeriksa layar ponselnya langsung mengalihkan pandangannya menuju ke arah Melodi.
"Aku tidak berbicara seperti itu, aku memuji masakanmu. Jika aku menghina masakanmu itu berarti aku tidak mau makanan yang kamu masak." perkataan Alex memang ada benarnya dan alasannya tepat secara logika.
"Benar juga." sahut Melodi yang langsung bungkam.
__ADS_1
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan, aku berangkat bekerja dulu." pamit Alex berdiri dari duduknya dan membawa tas kerjanya.
Melodi yang melihat Alex pergi meninggalkannya, ia langsung memanggil Alex.
"Alex tunggu!" ucap Melodi membuat langkah kaki Alex langsung terhenti.
Alex menoleh ke arah Melodi yang sedang berjalan ke arah dirinya.
"Kenapa?" tanya Alex melihat Melodi telah berdiri di hadapannya.
Melodi mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan Alex.
"Hati-hati di jalan," ucap Melodi dengan tulus.
Seketika Alex terpukau mendengar perkataan Melodi yang perhatian pada dirinya.
"Baiklah." sebelum Alex pergi, ia tersenyum manis di hadapan Melodi yang melambaikan tangannya dengan gaya tangan mengayun dari bawah ke atas atau bisa dikenal dengan pengusiran secara halus.
Senyuman Alex yang manis langsung memudar saat melihat tangan Melodi yang tidak bersahabat itu.
"Aku pergi sekarang." Alex langsung pergi dari hadapan Melodi yang sepertinya tertawa puas melihat perubahan ekspresi wajah Alex.
"Hahaha... Lucunya wajah suami culunku itu. Dia kira aku mulai membuka hati padanya. Oh tidak bisa, mau sebaik apapun dia memperlakukanku. Aku tetap dengan pendirianku karena aku bukanlah wanita murahan yang mudah membuka hati pada orang asing," ucap Melodi lalu pergi menuju tempat kerjanya.
Melodi berjalan keluar dari pintu utama rumah Alex. Ternyata mobil kesayangannya telah diantar oleh supir pribadinya di rumah orang tuanya.
"Baguslah, aku bisa beraktivitas seperti dulu tanpa merepotkan orang lain untuk mengantarku bekerja." Melodi berjalan masuk ke dalam mobilnya dan ia mulai menstarterkan mobilnya untuk meninggalkan pekarangan rumah mewah Alex.
__ADS_1
"Sudah tiga hari aku tidak ke kantor perusahaanku. Aku tidak mau tangan kananku yang menghandel semua urusanku. Aku tidak mau semua aset perusahaanku diketahui oleh orang asing. Sekalipun dia teman baikku sendiri." Melodi terus menyetirkan mobilnya menebus jalan raya.
"Hari ini Alex bersikap lebih banyak bicara dan suka mengoreksi kesalahanku. Apa dia mulai menunjukkan sifat aslinya padaku? Jika benar, aku harus cerdas untuk memahami sifat Alex." kata Melodi dalam hati.