
Suara keributan dari kamar Melodi dan Alex terdengar jelas di luar kamar. Mama Melodi yang ingin menuju ke kamarnya, melewati kamar pengantin baru itu. Ia tampak tersenyum penuh arti.
"Semoga dapat kabar baik dari mereka," ucap Mama Siska pelan. Lalu, ia pergi, teringat akan rencananya bersama Alex tadi.
"Obat apa ini, Ma?" tanya Alex dengan wajah polosnya di hadapan Mama Siska yang sedang tersenyum penuh arti ke arah dirinya.
"Sudahlah, jangan terlalu memperdulikan obat ini, Lex. Yang terpenting sekarang adalah bahwa kamu bisa memiliki Melodi selamanya dan pastinya Melodi tidak akan pergi dari sisi kamu," jawab Mama Siska dengan yakin.
Setelah mendengar penjelasan dari Mama Siska, Alex sejenak memikirkan rencana Mama Siska. Walaupun ia pria culun dan baik, tapi syahwatnya sebagai laki-laki mengerti maksud Mama Siska.
"Hem... Apakah Mama ingin aku agar Melodi hamil anakku?" tanya Alex kepada Mama Siska yang menjawab dengan anggukan cepat.
"Jika saya melakukan itu, aku takut Melodi akan marah padaku, Ma," lirih Alex, menundukkan kepalanya di depan Mama Siska.
"Tidak, Lex. Percayalah pada Mama. Melodi dengan senang hati akan menerima apapun yang kamu lakukan untuk dia," ucap Mama Siska sambil memegang tangan Alex untuk memberinya kekuatan agar dia yakin akan rencananya yang licik dan instan itu.
Alex menghela nafas sejenak, kemudian mengangkat kepalanya untuk menatap wajah Mama Siska yang cantik dan tak lagi muda.
"Baiklah, aku akan melakukannya."
Sementara Alex telah memantapkan hatinya untuk melancarkan aksinya sesuai rencana Mama Siska, ia mempersiapkan susu hangat favorit Melodi dan mencampurkan obat itu ke dalamnya. Sebelum mencampurkan obat, Alex membaca efek samping dari obat tersebut. Seketika wajahnya menjadi datar dan dingin.
"Baiklah, secepatnya aku akan melakukan itu" ucap Alex, sambil mencampurkan obat ke dalam susu hangat dengan takaran yang tepat. Diaduknya obat agar merata di dalam susu.
Setelah membuat susu hangat dengan obat, Alex melangkah pergi menuju kamarnya dengan ruang lift.
Ting! Pintu ruang lift terbuka dan Alex berjalan keluar dari ruangan itu. Ia terus melangkah tegas menuju kamarnya.
Alex mengetuk pintu dan membukanya sesuai perintah Melodi. Ia memberikan susu hangat dengan obat pada Melodi yang belum tidur. Awalnya, Melodi menolak tetapi Alex terus meyakinkannya hingga dia meneguk habis susu hangat buatannya.
__ADS_1
Tiba-tiba Alex tercengang saat mendengar Melodi menyebut dirinya sebagai Miko.
"Miko? Siapa dia? Apa jangan-jangan Miko itu mantan tunangannya yang meninggal dunia," kata Alex dalam hati. Tatapan matanya terus memantau aktivitas Melodi yang langsung memeluk dirinya dan mencium bibirnya hingga Alex tak bisa mengontrol hasratnya sebagai laki-laki hingga akhirnya malam pertama yang tertunda terjadi.
Pagi harinya, Melodi terbangun dari tidurnya.
"Hoam..." Melodi mengucek-ngucek kedua matanya. Ia menatap sekeliling kamarnya yang sedikit berantakan dengan seprai tak berbentuk. Lalu, Melodi menoleh ke arah samping yang ternyata ada Alex sedang tertidur pulas dengan dada terbuka dan satu selimut dengan dirinya.
Seketika Melodi langsung bingung dengan pemandangan tak biasa ini apalagi ia teringat kejadian panas semalam.
Melodi menoleh ke arah tubuhnya yang menutupi selimut dengan rapat. Ia sangat terkejut dengan dirinya tidak mengenakan pakaian apapun.
"Tidak mungkin! Ini tidak mungkin terjadi! Ini pasti salah! Tidak!" Melodi menggeleng tidak setuju. Ia langsung menangis histeris karena kejadian yang menimpanya.
Alex yang mendengar suara Melodi yang menangis, terbangun dari tidurnya. Nyawanya belum stabil dan tatapan matanya masih mengantuk. Ia menatap heran pada Melodi yang menangis histeris.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Alex dan Melodi menoleh ke arahnya.
"Aku melakukan curang? Aku tega mengambil kesucianmu?" ucap Alex mengulangi perkataan Melodi. Dia tampak berpikir keras mengenai makna kata itu. Hingga terlintas di benaknya, bahwa ia telah melakukan cinta satu malam dengan Melodi.
Seketika, Alex membulatkan kedua bola matanya saat melihat Melodi bangun dari posisi duduknya dan terlihat kesulitan berjalan.
"Maafkan aku, Mel. Aku tidak bermaksud melakukan hal itu," ucap Alex, sambil membantu tubuh Melodi agar seimbang.
Melodi yang telah terlatih dengan rasa sakit selangkangannya, membuat kakinya menjadi lemas dan ia terjatuh. Untungnya, Alex dengan cepat menangkap tubuh Melodi hingga dirinya jatuh ke dalam pelukannya.
"Hiks... Hik... Lepaskan aku, Lex," ucap Melodi pelan. Ia menangis lagi di dalam pelukan hangat Alex.
"Maafkan aku, aku tidak bisa melepaskanmu, Mel. Kamu sekarang milikku sepenuhnya," ucap Alex, sambil mengusap rambut panjang Melodi dengan sayang. Ia membiarkan Melodi menangis di dalam dadanya.
__ADS_1
"Hiks... Kenapa kamu melanggar peraturan yang ku berikan padamu, Lex? Kenapa kamu jahat padaku?" tanya Melodi lagi.
"Karena aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin kamu pergi dari sisi ku. Tak bisakah kamu melihatku sebentar saja dan belajar mencintaiku?" jawab Alex jujur.
Seketika, Melodi menaikkan kepalanya untuk melihat wajah Alex.
"Anton," ucap Melodi saat melihat wajah tampan Alex yang tidak mengenakan kacamata bulat lagi dengan model rambut yang lebih baik.
Deg!
Seketika, Alex terdiam di tempat, lidahnya keluh sejenak untuk mengatakan apapun pada Melodi.
"Anton? Apa kamu Anton?" tanya Melodi yang merubah posisi duduknya agar berhadapan dengan Alex langsung.
Melodi memegang wajah tampan Alex dengan tangannya. Namun, Alex dengan cepat menangkap tangan Melodi dan memegangnya dengan erat.
"Jangan menyebut nama pria mana pun di hadapan ku. Hatiku sakit mendengar nama pria lain dari mulutmu," ucap Alex dengan tatapan murung.
Mendengar perkataan Alex, Melodi memalingkan wajahnya ke samping. "Maafkan aku, aku pikir kamu Anton. Aku merasa kamu orang yang berbeda," jawab Melodi dengan sopan.
Alex mengabaikan perkataan Melodi dan menghapus air matanya dengan lembut. "Kamu pasti ingin mandi. Biar aku saja yang menggendong tubuhmu ke dalam kamar mandi," ucap Alex sambil menggendong tubuh mungil Melodi tanpa menunggu persetujuan dari Melodi.
Saat Alex hendak mengangkat tubuh Melodi, selimut yang membalut tubuh Melodi terbuka sehingga membuat Alex tertarik pada Melodi. Melodi dengan cepat menutup tubuhnya karena ia memahami tatapan Alex yang menginginkannya.
"Tidak usah menggendongku, aku bisa berjalan sendiri," kata Melodi.
Namun Alex bertahan pada pendiriannya dan membawa Melodi ke ruang kamar mandi. Alex membantu Melodi duduk di atas closet dan membantu Melodi memandikan diri.
"Kamu pasti kesulitan mandi, izinkan aku membantumu," ucap Alex, tetapi Melodi hanya menggeleng pelan.
__ADS_1
Akhirnya, Alex membantu Melodi mandi bersama dan mereka menghabiskan waktu mandinya sekitar dua jam lamanya.
"Sudah kuduga kejadian seperti ini akan terulang kembali," kata Melodi dalam hati.