Suami Culun Pilihan Orang Tua

Suami Culun Pilihan Orang Tua
Part 18 Datang Ke Apartemen Lilo


__ADS_3

Alex yang telah berganti pakaian casual berbahan kaos dengan warna biru navi sesuai dengan pilihan Lilo. Ia melangkah keluar dari ruangan ganti menuju ke arah ruang tunggu.


"Bagaimana Lilo?" tanya Alex yang berdiri di hadapan Lilo.


Lilo mengalihkan pandangannya dari layar ponsel menuju ke arah Lilo dari ujung kaki menggunakan sandal santai naik menuju bagian tubuh kekar Alex yang nampak dengan pakaian casual kaos hingga menuju bagian kepala yang membuat Lilo mengelus dada.


"Ganteng sih tapi masih culun," ucap Lilo memberi penilaian pada Alex.


Alex menyerhitkan keningnya merasa heran atas perkataan teman dekatnya.


"Aku sudah mengenakan pakaian yang kamu pilih dan aku telah melepaskan kacamata bulatku." sahut Alex dengan menatap penampilannya di depan cermin.


"Kamu memang mengikuti saranku tapi gaya rambutmu yang jadul itulah masih terlihat cupu, Lex." balas Lilo dengan berjalan mendekati Alex yang sedang berkaca di depan cermin panjang.


"Jadi, aku harus menyisir rambutku seperti dulu?" tanya Alex dan Lilo mengangguk cepat.


"Ya Allah, aku risih dengan gaya rambut menyamping itu seperti wanita saja." Alex menguap wajahnya dengan kasar.


"Tidak apa-apa Alex, bukan seperti wanita tapi mirip artis Korea Oppa yang ganteng gitu." tenang Lilo.


Alex menatap intens ke arah Lilo.


"Iya, ganteng tapi hasil operasi plastik." timbal Alex membuat kedua bola mata Lilo menatap malas ke arah Lilo.


"Kalau sudah tahu, tolonglah jangan diperjelas. Kasihan mereka yang memiliki wajah tidak menarik sejak lahir dan berusaha mengubah penampilan secara instan. Hargai perjuangannya Lex." jelas Lilo.


"Baiklah, aku mau berubah menjadi pria tampan. Aku ganti gaya rambut dulu." Alex pamit undur diri di hadapan Lilo.


"Alex tunggu dulu!" tahan Lilo dengan menarik tangan Alex.


"Kenapa? Biasa saja kali tanganku jangan ditarik begini." sahut Alex.

__ADS_1


"Biar aku ajarkan cara make up pria." tawar Lilo.


"Tidak, terima kasih. Aku tidak butuh make up segala. Penampilanku kemarin dulu seperti wanita saja. Kamu make up Lilo, masa aku harus jadi berbie pria untuk mensukseskan rencanamu itu?" ucap Alex.


"Tentu saja wajib Lex, kalau kamu mau terlihat glowing dan sempurna wajib menggunakan make up." bujuk Lilo.


Alex tampak terdiam sejenak, ia menatap Lilo dengan penuh selidik.


"Jangan bilang kalau kamu sedang mengerjaiku Lilo, penampilanku kemarin dulu saja diabaikan oleh Melodi. Hal itu membuatku merasa tak percaya diri."


"Ayolah Lex, percayakan saja padaku. Aku bisa membantumu untuk mendapatkan cinta istrimu."


"Iya mendapatkan cinta istriku tapi menjadi orang lain."


"Ya setidaknya kamu merasa dicintai dan bisa melihat kesetiaan Melodi pada suaminya." perkataan Lilo membuat Alex menatap tajam ke arah Lilo.


"Apa kamu yakin dari rencana ini bisa menguji kesetiaan Melodi? Sementara Melodi tidak tertarik dan tidak cinta sama aku?" tanya Alex to the point.


"Cukup jalani saja dulu dan berharap sesuai dengan rencanaku."


"Sudahlah, kamu sudah selesai berganti pakaian dan tidak mau menambah pakaian lagi. Kalau begitu, aku langsung bayar ke kasir dulu pakaian yang kamu kenakan sekarang." Lilo memilih pergi dari hadapan Alex yang menatap kesal ke arah dirinya.


Alex hanya mengikuti langkah kaki Lilo menuju ke tempat kasir dan membawa plastik berisi pakaian kantornya. Setelah selesai, Alex menaiki mobilnya dengan mengikuti laju mobil Lilo ke arah apartemennya.


Setibanya di depan pintu apartemen Lilo, Alex melihat Lilo sedang membuka kunci pintu apartemen Lilo menggunakan akses kartu card dan kunci gembok. Ia menyerhitkan keningnya merasa heran pada sikap Lilo yang sudah tahu ada kunci otomatis tapi masih menggunakan kunci manual dengan gembok yang dipintu teralisnya.


"Ayo Lex, masuk ke dalam apartemenku. Abaikan saja, ada sedikit debu k


Farena jarang aku tempati." ajak Lilo yang telah membukakan pintu dan menggeserkan dirinya agar Alex melangkah masuk ke dalam ruangan.


"Okey." jawab Alex yang melihat ke sekitar ruangan apartemen Lilo yang memiliki ruang tamu, ruang keluarga, dua ruang kamar yang memiliki kamar mandi di dalamnya dan ruang dapur. Apartemennya seperti perumahan biasa saja dan barang-barangnya tidak banyak.

__ADS_1


Alex memilih duduk di sofa ruang keluarganya.


"Lilo, duduk disini," ucap Alex dengan menyentuh sofa di sebelahnya.


"Baiklah, kamu mau berbicara apa?" tanya Lilo yang duduk di sofa sesuai perintah Alex.


"Aku mau tanya, kamu beneran mau tidur disini? Di tempat apartemen yang telah lama tidak kamu huni?" ucap Alex bertanya pada Lilo.


"Iya, baru 2 tahun tidak aku tinggali. Setelah rumah mewah ku telah selesai, aku dan istriku pindah dari apartemen ini." jawab Lilo enteng.


"Baru 2 tahun kamu bilang Lilo tidak tinggal disini? Tidak ada yang membersihkan apartemen ini hingga berdebu seperti ini? Pantesan saja, aku merasa aura yang tak biasa di apartemenmu, Lilo."


"Maksudnya, Lex?" tanya Lilo merasa tidak mengerti.


"Kamu bisa mengumandangkan adzan kan Lilo?"


"Bisa Lex."


"Kalau begitu, sebelum ditempati di apartemenmu. Lebih baik kamu adzan dulu agar penghuni makhluk halus lari dari sini," ucap Alex berdiri dari duduknya dan ia melangkahkan kaki untuk melihat ruang kamar di apartemen Lilo.


"Lex, kamu menakutiku saja." sahut Lilo dengan menelan salivanya susah payah saat mendengar perkataan Alex.


"Aku tidak menakutimu, Lilo. Aku tidak ingin kamu semakin takut saat merasa diganggu oleh makhluk halus. Sudah tidak asing lagi bangunan yang tidak ditempati selama 40 hari pasti ada penghuni baru. Kalau kamu tidak sanggup mengumandangkan adzan, biarkan aku saja yang melakukannya." jelas Alex dengan menatap ekspresi wajah Lilo terlihat pucat.


"Aku ambil air wudhu dulu, sekalian mau sholat Magrib." pamit Alex lalu bergegas menuju salah satu ruang kamar yang tertata rapi tapi banyak debunya.


Di dalam apartemen Lilo, ruang toiletnya berada di dalam ruang kamar. Otomatis, Alex melangkah masuk ke dalam ruang kamar Lilo. Ia melipatkan celana panjangnya hingga selutut. Ia merasa aura semakin mencengkram di ruangan ini. Tidak mau ambil pusing, Alex langsung memasuki ruang toilet untuk mengambil air wudhu. Kemudian, Ia mengambil sajadah di dalam tas kerjanya yang selalu ia bawa kemanapun.


Dikejangnya sajadah itu di atas karpet ruang kamar lalu ia mulai berkumandangkan adzan. Suaranya terdengar sangat merdu dan khusyu. Ia mengusir semua makhluk halus yang ingin menganggu dirinya dan Lilo. Setelah selesai berkumandangkan adzan, barulah Alex melakukan sholat magrib.


Sementara Lilo yang melihat Alex telah sholat magrib, ia pun melangkah masuk ke dalam ruang kamar sebelahnya untuk menulaikan ibadah sholat magrib.

__ADS_1


"Alex, pria sholeh dan baik. Tapi takdir percintaannya tak semanis ekspektasi." lirih Lilo pelan.


__ADS_2