
"Bagaimana kondisi Melodi dan Alex? Apa mereka sudah akur dan menerima pernikahannya?" tanya seorang wanita dari balik panggilan masuk di ponselnya.
"Kondisi tidak kondusif Nyonya, Maaf sebelumnya Nyonya Siska, Nona muda Melodi selalu mencari masalah dengan Tuan muda Alex. Sehingga saya mendengar perdebatan sengit di kamar Nona muda Melodi." jawab Bibi Rati menjadi mata-mata dari Mama Siska.
Seseorang yang menelpon untuk menanyakan kabar pengantin baru itu adalah Mama Siska. Mama Siska sengaja memperkejakan Bibi Rati di rumah mewah Alex. Selain demi keamanan rumah tangga Melodi dan Alex tetap aman dan membantu Bibi Rati agar mendapatkan pekerjaan untuk menghidupi dua anaknya masih kecil.
Mama Siska tampak ragu-ragu setelah mendengar laporan dari Bibi Rati. Apakah keputusannya untuk menjodohkan anaknya dengan pria dari anak rekan bisnis suaminya dapat membuat hidup Melodi lebih berwarna seperti dulu? Atau bisa memperkeruh kehidupan Melodi dan Alex? Entahlah, Mama Siska ikut-ikutan meragukan rumah tangga seumur jagung anak dan menantunya.
"Apa yang mereka bicarakan? Apakah menyinggung tentang pernikahan dijodohkan?" tanya Mama Siska lagi.
"Benar Nyonya, Nona Melodi menyesali pernikahannya dengan Tuan Alex. Nona Melodi memaksa Tuan Alex untuk menandatangani surat perjanjian. Kasihan Tuan Alex, Nyonya. Saya melihat Tuan Alex begitu besar mencintai Nona Melodi. Dia rela mengikuti keinginan Nona Melodi agar tidak satu kamar dengannya dan tetap nyaman berada di rumahnya." Bibi Rati menjelaskan secara detail pada Nyonya Siska dalam sepengatahuannya dari hasil menguping pembicaraan mereka dari balik pintu ruangan.
Mama Siska yang sedang meminum jus melon di taman belakang rumahnya hampir tersedak saat mendengar pengaduan dari Bibi Rati.
"Huh, hampir saja aku tidak tersedak minuman. Kalian sungguh terlalu." keluh Mama Siska.
"Nyonya, tidak apa-apa? Apakah saya sedang melakukan kesalahan?" tanya Bibi Rati melalui sambungan panggilan di ponselnya yang tampak duduk terdiam di dapur rumah mewah Alex.
"Saya baik-baik saja, abaikan saja tadi. Saya terlalu semangat mendengar laporan darimu, Bi."
"Bibi beneran mereka tidur tidak satu kamar?" tanya Mama Siska untuk memastikan lagi.
"Benar Nyonya, saya tidak berani berbohong pada Nyonya. Saya berbicara sesuai dengan fakta. Saat ini Tuan dan Nona sedang bertengkar." jawab Bibi Rati jujur.
Mama Siska menghela nafas kasar, ia tidak memahami pola pikir anaknya. Sudah diberikan seorang pria baik dan setia. Masih saja, anaknya menginginkan mantan tunangannya di alam kubur.
"Baiklah, kalau begitu tetap awasi anak dan menantuku. Saya akan memberikan gaji tambahan untukmu."
__ADS_1
"Siap Nyonya, terima kasih." sahut Bibi Rati yang melihat sambungan panggilan telah terputus secara sepihak dan ia melanjutkan pekerjaannya untuk membereskan rumah.
Sementara Melodi yang merasa haus, ia berniat untuk mengambil minum di dapur. Ia sengaja tidak mau memanggil pelayan di rumah Alex. Mengingat, dirinya belum melihat seluruh ruangan di rumah mewahnya. Ia menyelusuri setiap ruangan rumah yang tidak sebesar rumah orang tuanya tapi tetap rumah mewah berlantai tiga. Ia berjalan mencari ruang dapur yang biasanya berada di ruang belakang.
"Oh ini ruang dapurnya, baiklah aku bisa ambil minum sendiri." batin Melodi yang berjalan mendekati dispenser air yang terletak di dekat rak piring. Melodi mendengar samar-samar suara orang yang sedang menelpon. Lalu, ia menajamkan Indera pendengarannya.
"Bibi Rati sedang telpon sama siapa? Kenapa terlihat penting sekali pembicaraannya?" tanya Melodi dalam hati. Ia merasa penasaran dan ia memutuskan untuk mencari tempat aman dalam menguping pembicaraannya.
"Apa? Bibi sedang membicarakan rumah tanggaku dan kejelekanku pada seseorang. Kurang ajar, ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Aku harus segera bertindak daripada mengobati." Melodi mengepalkan tangannya merasa geram pada Bibi Rati yang terlihat asyik berbicara melalui sambungan teleponnya.
"Siapa yang bibi telpon itu? Aku rasa ada orang dalam yang memantau kehidupanku, tapi siapa orangnya?" Melodi tampak berpikir keras untuk mengira-ngira siapa orangnya.
"Hem... Apa jangan-jangan Mama Siska yang menyuruh Bibi Rati sebagai mata-mata di rumah ini? Kalau Papa Max gak ada waktu untuk mengurus hidup orang lain. Kalau sepupuku pasti tidak ada keuntungan untuk mengetahui kehidupanku," ucap Melodi pelan.
"Iya, aku yakin ini pasti suruhan Mama untuk mengetahui perkembangan rumah tanggaku bersama pria culun itu. Huh, sungguh menyebalkan tapi nyata. Aku bisa apa sekarang? Haruskah aku berpura-pura bahagia di rumah ini dengan begitu Mama tidak lagi menguntit rumah tanggaku?" Melodi menghela nafas kasar, ia memilih mengisi air putih di dalam gelasnya. Pikirannya berkelana kemana-mana saat mendengar pembicaraan Bibi Rati pada seseorang melalui saluran telponnya.
"Kenapa hidupku serumit ini? Menikah dengan pria culun pilihan orang tua membuat hidupku tak berarti. Apa aku harus mati saja agar bisa bertemu Miko?" ucap Melodi dengan tatapan kosong.
***
Setelah Alex menerima ajakan temannya -- Lilo untuk pergi ke tempat nongkrong di kafe View. Ia langsung bersiap-siap berganti pakaian dan pergi. Ia tidak melihat keberadaan istrinya di kamarnya. Lalu, ia menitipkan pesan pada Bibi Lisa agar memberitahu dirinya pergi bersama temannya.
Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, Alex langsung keluar dari rumah dan ia berjalan cepat menuju ke tempat parkiran mobil untuk datang sesuai janji pada temannya.
Setibanya Alex di tempat kafe yang sering ia gunakan sebagai tempat nongkrong bareng teman. Ia mencari keberadaan Lilo yang ternyata menyuruh dirinya duduk di ruang VVIP untuk membicarakan sesuatu yang penting.
"Tumben sekali, Lilo mengajakku di tempat tertutup. Biasanya, dia suka duduk di tempat umum agar bisa melihat wanita cantik yang berkeliaran," ucap Alex setelah membaca isi pesan lalu ia memasukkan ponsel di dalam saku celananya.
__ADS_1
Langkah kaki Alex terhenti di depan ruangan VVIP Kafe, ia mengetuk pintu sebelah masuk.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk saja, pintu tidak dikunci," ucap Lilo dari dalam ruangan dan Alex langsung masuk ke dalam ruangan.
Di dalam ruangan, Alex melihat Lilo sedang menyesap kopi hangat kesukaannya. Ia duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Lilo.
"Lilo, apa yang ingin kamu bicarakan sesuatu padaku? Sehingga, mengundangku datang di tempat kafe," ucap Alex to the point.
"Baiklah, aku langsung bicara ke intinya saja. Kamu pasti menginginkan cinta dari istrimu? Apa kamu mau mengikuti rencanaku agar bisa membuat istrimu membalas cintamu?" tanya Lilo.
"Tentu saja aku mau istriku mencintaiku." jawab Alex dengan tatapan sendunya.
"Okey Kalau begitu, mari kita pergi ke dukun hebat untuk memberi gula-gula untuk istrimu." perkataan Lilo membuat Alex membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna.
"Maksudnya pake ilmu pelet?" tanya Alex membuat gelak tawa Lilo muncul dengan keras.
Alex menjadi binggung dengan sikap Lilo yang menertawakan dirinya. Bukankah pertanyaannya memang benar agar bisa mendapatkan sesuatu yang mudah itu dengan cara kotor seperti itu.
"Kenapa kamu tertawa, Lilo? Aku bertanya serius dan tidak ada yang aneh dari pertanyaanku."
Lilo menghentikan gelak tawanya dan ia menetralkan suaranya agar tidak cempreng saat berbicara.
"Benar katamu, Lex. Tapi, aku bohong berbicara tadi." perkataan Lilo membuat Alex menatap kedua bola mata malas ke arah dirinya.
"Maksudku, aku ingin merubah penampilanmu agar lebih pria tampan dan keren. Aku tidak ingin kamu disia-siakan Lex, kamu berhak hidup bahagia."
__ADS_1
"Jadi, rencanamu itu untuk membuatku menjadi orang lain?" tanya Alex dengan tatapan kesalnya.