
Setelah menempuh setengah jam di perjalanan, Alex yang berpenampilan sebagai Anton tanpa sengaja melihat tubuh wanita mungil yang sangat dikenalinya.
"Melodi? Ngapain dia nongkrong disana? Atau jangan-jangan dia jajan di pinggir jalan," ucap Alex pelan. Ia memakirkan mobilnya di pinggir jalan yang tidak jauh dari keberadaan Melodi.
Alex menatap dirinya di pantulan kaca di dalam mobil.
"Aku sangat tampan dan takkan ku biarkan wanita yang sangat ku cintai direbut oleh pria lain. Melodi milikku, istriku. Aku tidak boleh menyerah dalam rumah tangga ini." kata Alex dalam hati. Ia melangkah keluar dari mobil dan mengunci mobilnya.
Dengan mempercepat langkah kakinya menuju ke arah Melodi, membuat ia ingin tersenyum kecil saat melihat raut wajah Melodi penuh tanya apalagi memberikan pertanyaan langsung seperti itu.
Setelah membayar uang makanan siomay yang dibelinya. Alex langsung menggenggam tangan Melodi tanpa menghiraukan penolakan dari Melodi.
Sesampainya mereka di taman kota, Alex mengajak Melodi duduk di bangku kosong untuk menikmati makanan yang dibelinya.
"Mari duduk disini dulu, kamu pasti sudah lapar." ajak Alex dan Melodi menggeleng cepat.
"Kenapa?" tanya Alex dengan binggungnya.
"Bagaimana aku mau duduk dan makan disini. Sedangkan aku pasti merasa haus dan belum beli minuman." jawab Melodi membuat Alex menepuk jidatnya.
"Iya maaf aku lupa, kita tidak beli minuman. Baiklah, aku akan membelikan minuman untukmu. Kamu mau minum apa?" sahut Alex yang menyamar sebagai Anton di hadapan Melodi.
Melodi tampak berpikir sejenak, ia menatap beberapa penjual gerobak di pinggir jalan.
"Menarik, boleh nih aku kerjain nih orang sok dekat sama aku." batin Melodi dengan senyuman yang tak bisa diartikan oleh Anton.
"Kamu yakin mau membelikan minuman untukku?" tanya Melodi memastikan.
"Dengan senang hati aku akan membelikan minuman apapun untukmu." jawab Anton membalas senyuman Melodi.
"Baiklah, kalau begitu kamu pesankan minuman kekinian dan es krim." sahut Melodi.
"Siap, aku akan membelinya." baru saja, Anton ingin melangkah pergi dari hadapan Melodi, ia teringat dengan kata minuman kekinian, membuat Anton menghentikan langkah kakinya.
"Maksud kamu minuman kekinian itu seperti apa, Mel? Aku rasa tidak jelas pesananmu itu," ucap Alex meminta penjelasan secara rinci pada Melodi.
__ADS_1
"Seperti minuman kekinian yang sering anak muda beli. Aku rasa kamu pasti mengerti, jika tidak mengerti bisa tanyakan pada penjual." sahut Melodi asal.
"Hem... Tapi rasa minuman belum kamu kasih tahu, Mel." balas Anton.
"Apapun rasa minumannya aku suka. Cepat beli saja, Nton. Aku tidak akan makan dulu sebelum kamu datang dengan membawa minuman kekinian," ucap Melodi sembari mendorong tubuh Anton agar melangkah pergi menuju jualan di pinggir jalan.
Dengan melihat kepergian Anton yang kian menjauh dari dirinya. Ia tertawa bahagia karena berhasil mengerjai pria tampan itu.
"Pasti Anton pusing sendiri memikirkan minuman kekinian yang ku inginkan. Hahaha... Bukan urusanku dengan derita Anton. Hal penting sekarang, aku bahagia." lirih Melodi pelan.
Melodi mengalihkan pandangannya dari Anton menuju ke arah bungkusan kresek hitam yang berisi makanan siomay untuk dirinya dan Anton.
"Kenapa selera makan bisa serendah seperti sekarang? Biasanya aku suka makanan restoran mewah?" tanya Melodi pada dirinya sendiri.
Dari kejauhan, Dino yang pulang dari kontrakan wanita simpanannya. Ia tak sengaja melihat keberadaan Melodi.
"Melodi? Beneran dia Melodi? Kok bisa dia nongkrong di tempat rakyat jelata seperti sekarang?"
"Bodoh amat, sekarang aku bisa mendekati Melodi lagi." Dino mencari tempat parkiran mobil di pinggir jalan, ia melangkah keluar dari mobil menuju ke arah Melodi.
"Melodi!" ucap Dino membuat Melodi m menoleh ke arah belakang.
"Kamu duduk sendirian saja, dimana suami culunmu? Apa kamu sedang bertengkar?" tanya Dino yang telah berdiri di hadapan Melodi.
"Bukan urusanmu." jawab Melodi cetus dan memasangkan wajah galaknya pada Dino.
Dino menghela nafas kasar, ia memilih duduk di sebelah Melodi.
"Iya kamu benar, Mel. Kedatanganku kemari mau bertanya mengenai acara rapat dadakanku yang ditunda. Maaf telah membuat dirimu merasa tidak nyaman. Lain kali, aku akan mengabarkan jauh-jauh hari." jelas Dino membuka topik pembicaraan pada Melodi.
"Iya aku mengerti, tidak apa-apa aku tahu kamu pasti banyak kesibukan dan aku memahami itu." sahut Melodi.
Sementara Anton yang masih setia berdiri di beberapa pedagang minuman. Ia binggung harus membeli minuman model apa.
"Permisi pak, saya mau membeli minuman kekinian," ucap Anton pada pedagang minuman gerobak di pinggir jalan.
__ADS_1
"Boleh tuan mau pesan varian minuman kekinian seperti apa?" tanya Pedagang pria.
"Hem..." Anton terlihat binggung dengan menu minuman kekinian. Baru kali ini, ia membeli minuman di pinggir jalan dan pastinya rasanya berbeda dari restoran-restoran dikunjunginya.
"Pak, apa semua menu minuman ini termasuk minuman kekinian?" tanya Anton dengan tatapan mata masih membaca satu persatu menu minuman kekinian.
"Benar tuan, tuan tertarik dengan minuman apa?" tanya Pedagang pria balik.
"Membangongkan sekali diriku yang rupanya kena prank oleh istriku sendiri. Awas saja Melodi minta aneh-aneh, aku tidak mau mengabulkan permintaannya." Anton merutuki dirinya karena ia seratus persen mempercayai istrinya yang ternyata meledaknya.
"Pak, sebenarnya saya binggung dengan varian minuman kekinian. Demi mengurangi populasi tingkat kesalahan, saya pesan semua varian minuman kekinian," ucap Anton mantap.
Pedagang pria yang mendengar perkataan Pelanggannya yang berpakaian formal itu ia langsung menatap kedua bola berbinar senang karena dagangannya laris manis.
"Alhamdulillah, daganganku laris. Terima kasih tuan sudah membeli disini. Mohon tunggu sebentar ya tuan." sahut Pedagang pria itu dibalas anggukan oleh Anton.
Lima belas menit kemudian, Anton telah mendapatkan minuman kekinian sesuai pesanan Melodi. Setelah membayar semua minuman kekinian. Akhirnya, Anton dapat membawa minuman kekinian dengan bahagia dan penuh semangat. Ia membawa dua kantong plastik besar berisi berbagai varian minuman di kedua tangannya menuju ke arah Melodi.
Dari kejauhan Anton mendengar suara keributan dan adegan seorang pria menyeret tangan wanita.
"Melodi," ucap Anton dengan membulatkan kedua matanya saat melihat istrinya mau dibawa paksa oleh pria lain.
"Hei brengsek! Mau dibawa kemana istriku?" teriak Anton membuat langkah kaki Dino dan Melodi terhenti.
Melodi dan Dino menatap ke arah Anton dengan tatapan binggung.
"Istri? Siapa istrimu?" tanya Melodi dan Dino secara bersamaan.
Seketika Anton tersadar atas perkataannya tadi.
"Mati aku, jangan sampai rencanaku gagal." batin Anton yang melangkah cepat mendekati Melodi dan Dino yang masih berdiri di tempat.
"Ralat! Maksudku, temanku, hehehe..." ucap Anton dengan menyenggir kuda.
"Oh!" ucap Melodi dan Dino secara bersamaan.
__ADS_1
Melodi yang menyadari Dino sedang lengah atas paksaan diberikan padanya tadi. Ia langsung menghempaskan tangannya dari genggaman tangan Dino. Ia langsung berlari menuju ke arah Dino dan bersembunyi di belakang tubuh Anton.
"Anton, tolong aku!" ucap Melodi pelan.